Setelah Australia, Bursa Kripto Zipmex Bidik Trader Indonesia

Setelah Australia, Bursa Kripto Zipmex Bidik Trader Indonesia
Pendiri dan CEO Zipmex, Marcus Lim. ( Foto: Dok Zipmex )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 26 September 2019 | 16:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah di Australia, bursa kripto Zipmex kini merambah pengguna di Indonesia. Zipmex yang didirikan oleh Marcus Lim, pengusaha asal Singapura dan dikenal sebagai pencipta marketplace Oneflare itu didirikan pada tahun 2018 dan berekspansi di sejumlah negara.

Pendiri dan CEO Zipmex, Marcus Lim menyebut Indonesia memiliki volume perdagangan bitcoin yang cukup tinggi secara global. Hal ini yang membuat Zipmex memilih Indonesia sebagai target pasar terbarunya. Lim melihat pasar Indonesia sangat strategis untuk memperluas jangkauan platform bursa kriptonya.

“Dengan membuka perwakilan di Indonesia, maka Zipmex akan bersaing dengan sejumlah pemain lokal. Bursa kami akan menjadi pertama di Indonesia yang mengumpulkan informasi volume perdagangan dari bursa-bursa terbesar di dunia serta layanan over-the-counter (OTC), sehingga mampu menyediakan likuiditas lebih tinggi bagi para pengguna,” jelas Marcus Lim dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (26/9/2019).

Lim mengatakan, Zipmex memiliki keunggulan di antaranya harga bitcoin yang lebih murah dari bursa lokal lain di Indonesia. Per Rabu (25/9/2019) pagi, harga 1 BTC di Zipmex sebesar US$ 8,729 atau Rp 122.417.054 (kurs Rp 14.029 per dolar AS). Sementara bursa kripto di Indonesia, 1 BTC seharga Rp 125.782.000 di Indodax, Rp 124.073.000 di Rekeningku dan Rp 122.922.176 di Triv.

Selain itu tingkat keamanan, likuiditas serta volume perdagangan yang tinggi. “Prioritas keamanan dilakukan melalui skema asuransi senilai US$1 00 juta jikalau terjadi peretasan,” kata Marcus Lim.

Merujuk peluncuran Zipmex di Australia pada Agustus 2019 lalu, Zipmex hadir bersama Decentralised Capital, perusahaan blockchain advisor yang fokus pada layanan dan aset untuk kalangan institusi. Pendiri dan Direktur Decentralised Capital Stephen Moss mengatakan, peluang mengumpulkan informasi volume dari bursa global dan layanan OTC ke dalam satu platform seperti Zipmex, adalah langkah besar bagi industri kripto, karena menjadi pembeda utama dengan layanan bursa kripto lainnya.

Di Australia, Zipmex sudah terdaftar di Pusat Analisa dan Laporan Transaksi Australia (AUSTRAC). Sementara di Thailand, Australia, Malta dan Filipina, Zipmex sudah mengajukan lisensi dari otoritas terkait. Khusus di Filipina, bursa itu sudah mendapatkan lisensi FTSOVCE dari lembaga CEZA. Bagi negara-negara yang belum memiliki aturan soal lisensi bursa aset kripto, Zipmex berusaha menaati hukum AML (anti pencucian uang) dan aturan ketat soal pendanaan terorisme.

Selain perdagangan kripto, kata Lim, Zipmex juga berencana merilis token bernama “xbullion”. Nilai token ini berbasis emas dan ditujukan bagi investor institusi. Sebanyak 30 unit token akan dirilis di Zipmex Australia dalam beberapa bulan ke depan, dan 100 token lagi akan tersedia pada tahun 2020.

Khusus dalam program menjangkau pengguna Indonesia ini, Zipmex memberikan apresiasi berupa Bitcoin (BTC) senilai US$ 5 bagi 1.000 orang pengguna baru dari Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com