Pengamat: Pertanian Tulang Punggung Pembangunan Indonesia

Pengamat: Pertanian Tulang Punggung Pembangunan Indonesia
Para narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Potret Pembangunan Era Jokowi”, Senin 30 September 2019. ( Foto: dok )
/ YUD Selasa, 1 Oktober 2019 | 08:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pencapaian pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada periode pertama Joko Widodo (Jokowi) memang menghadapi berbagai tantangan. Walaupun begitu pertumbuhan ekonomi tahun 2018 dan 2019 masih cukup stabil, walau tidak menjulang, relatif stagnan di level 5%.

Di antara berbagai tantangan yang ada, terdapat sektor yang mengalami peningkatan secara signifikan pada periode kepemimpinan Jokowi 2014-2019, yaitu dalam bidang pertanian.

Eka Chandra Buana, S.E. MA, Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Kementerian PPN/Bappenas dalam diskusi publik bertajuk “Potret Pembangunan Era Jokowi”, Senin (30/1/2019) menyatakan bahwa bidang yang secara positif berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia adalah pertanian.

“Indonesia masih tergantung terhadap komoditas sehingga pertanian menjadi faktor penting dalam perekonomian Indonesia. Pertanian mengalami kenaikan 3,7 % pertumbuhan ekonomi. Pertanian dibutuhkan untuk dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Eka.

Berbagai terobosan kebijakan dalam pengelolaan anggaran belanja yang dilakukan Kementerian Pertanian dinilai sangat signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini diperoleh dari hasil kajian Direktorat Keuangan Negara dan Analitis Moneter, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang merilis kajian terkait “dampak belanja barang Produktif Kementerian/Lembaga terhadap pertumbuhan daerah”.

Dalam risalah kajian itu diuraikan secara tegas bahwa belanja Kementerian/Lembaga (K/L) memiliki peran yang sangat strategis dalam memacu dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Terobosan kebijakan pengelolaan anggaran belanja yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian terbukti produktif, karena mampu berkontribusi sebesar 0,33 persen pada produk domestik regional bruto (PDRB) dalam setiap 1 persen pembelanjaan alat pertanian.

Sedangkan untuk sektor perikanan sebagai pembanding, setiap pembelanjaan alat perikanan 1 persen hanya berkontribusi pada 0,13 persen pada PDRB. Rasio efektifitas belanja sektor pertanian dibandingkan dengan sektor perikanan mencapai 254%.

Kunto Adi Wibowo, Direktur Lembaga Survei KedaiKOPI mengatakan bahwa, efektivitas belanja negara di sektor pertanian terepresentasi dari persepsi positif para petani terhadap kondisi ekonomi saat ini dan program-program pemerintah.

Sementara itu Setianto, S.E., M.Si, Direktur Neraca Produksi Badan Pusat Statistik, dalam diskusi publik yang sama melengkapi dengan penjelasan bahwa rumah tangga usaha pertanian Indonesia naik 5,92% di 2018 dibandingkan dengan angka 2013. Di mana nilai tukar petani meningkat 0,58% pada Agustus 2019.

“Pertanian secara keseluruhan, mengalami pertumbuhan secara positif. Pertanian menyumbang 0,7% dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% di triwulan kedua tahun 2019. Mengalami kenaikan 0,23 dari triwulan pertama 2019,” kata Setianto.

Menurut Prof. Firmanzah, Ph.D., Rektor Universitas Paramadina sektor pertanian harus diarahkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia. “Pertanian harus diarahkan sebagai kekuatan ekonomi. Sektor utama untuk mencapai hal itu dalam membangun sektor SDM dan membangun pusat pusat riset pertanian,” ujar Firmanzah.

 

 

 



Sumber: BeritaSatu.com