2030, Indonesia Macan Ekonomi Asia

2030, Indonesia Macan Ekonomi Asia
Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin berfoto bersama Frans Meroga seusai peluncuran buku “The Ma’ruf Amin Way – Here Comes Indonesia : Asia’s New Tiger Economy” (Foto: Istimewa)
Rully Satriadi / RSAT Minggu, 6 Oktober 2019 | 11:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia menjadi Macan Asia, mungkin slogan tersebut terdengar mencengangkan dan fantastis. Tetapi boleh jadi itu akan segera menjadi kenyataan. Pasalnya, Indonesia diprediksi masuk dalam “Top 5 Gross Domestic Product” di tahun 2030.

Kebangkitan ekonomi Indonesia di tahun 2030 semakin ramai diperbincangkan. Prediksi tersebut bukannya tanpa alasan, tetapi didasarkan pada riset Price Waterhouse Coopers (PWC) yang menyatakan bahwa Indonesia di tahun 2030 akan menduduki peringkat 5 berdasarkan nilai GDP dengan estimasi US$ 3 triliun.

Analisis tersebut juga dikuatkan oleh rilis IMF, posisi perekonomian Indonesia tahun 2019 berada di peringkat 16 dengan total GDP sebesar US$ 1 triliun. Oleh para ahli ekonomi, nilai itu akan beranjak terus hingga puncaknya pada tahun 2030 yang diperkirakan menyentuh angka US$ 5.424 miliar. Mengacu pada kalkulasi dan analisis yang matang, maka angka tersebut bukanlah sekadar utopia, melainkan situasi yang niscaya terjadi 10 tahun ke depan.

Kebangkitan ekonomi Indonesia itulah yang menjadi pokok bahasan dalam buku “The Ma’ruf Amin Way – Here Comes Indonesia: Asia’s New Tiger Economy” karya Sahala Panggabean (Chairman Nasari Group) dan Anwar Abbas (Sekjen MUI) yang peluncuran bukunya diselenggarakan di Java Ballroom, The Westin Hotel, Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Hadir dalam peluncuran buku ini antara lain Menristek Dikti Mohammad Nasir, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala BKPM Thomas Lembong, Ketua BPK Daniel Lumban Tobing, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, dan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. Selain itu, turut dihadiri tamu kehormatan dari negara tetangga seperti Dutabesar Malaysia Zainal Abidin Bakar, Dutabesar Singapura Anil Kumar Nayar, dan Dutabesar Turki Mahmut Erol Kilic.

Buku yang merupakan versi bahasa Inggris dari edisi pertama yang diluncurkan Februari 2019 tersebut menuai banyak sambutan positif dari berbagai kalangan.

Pakar Koperasi Milenial, Frans Meroga mengaku peluncuran buku yang disarikan dari pengalaman KH Ma’ruf Amin itu merupakan momentum berharga bagi para pelaku gerakan koperasi. Kebangkitan ekonomi Indonesia yang dibahas dalam buku itu menitikberatkan kepada revitalisasi koperasi sebagai soko guru ekonomi bangsa.

Frans yang juga merupakan tim riset dari buku tersebut mengatakan bahwa buku “The Ma’ruf Amin Way” adalah sebuah buku yang ditulis dengan analisis obyektif, relevan dengan situasi ekonomi Indonesia terkini, dan memiliki keistimewaan tersendiri karena hasil dari kristalisasi pengalaman dan pemikiran KH Ma’ruf Amin, yang adalah salah seorang pakar ekonomi syariah terbaik di dunia.

“Buku ini merupakan buah karya anak bangsa yang terinsiprasi pemikiran-pemikiran Bapak KH Ma’ruf Amin selaku tokoh ulama yang sarat pengalaman dalam berbagai bidang kehidupan baik sebagai pengajar atau dosen, politikus, maupun pengalaman matang beliau di bidang keuangan syariah," kata Frans yang juga VP Nasari Cooperative Group tersebut.

Ia menambahkan, dengan didasari dari pengalaman-pengalaman KH Ma'ruf Amin, kami yakin dan optimis dengan konsep yang dituangkan dalam buku ini, bahwa akan menjadi suatu kenyataan Indonesia Maju di tahun 2030 dengan menjadi Top 5 Largest Economy in the world."

Frans percaya, dengan “booster” dari generasi milenial dan memanfaatkan platform digital dalam kemasan start up, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang berkisar 5% – 6% akan menjadi di kisaran 10% - 12% per tahun dalam 10 tahun mendatang. Belum lagi diperkuat dengan berbasis koperasi milenial yang memastikan kedaulatan kepemilikan dari perintis bisnis start up karena koperasi menganut prinsip one man one vote dan bukan one share one vote seperti korporasi.

Tapi untuk menjadikan perekonomian Indonesia sebagai 5 besar dunia sekaligus menjadi ‘New Tiger Economy’ diperlukan situasi politik yang tanpa kegaduhan, regulasi yang mendukung, keamanan yang terjamin, kepastian hukum yang jelas. “Dengan iklim investasi yang sejuk investor mau menanamkan modalnya di berbagai sektor," terang Frans.

“Untuk itu mari bersama-sama bergandengan tangan dan menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras, dan cerdas, serta ikhlas dalam ikhtiar mewujudkan Indonesia maju dan berkedaulatan serta bermartabat,” pungkas Frans Meroga bermunajat.

Pesan Persaudaraan
Dalam sambutannya sebagai keynote speaker, Wakil Presiden terpilih KH. Ma'ruf Amin mengungkapkan bahwa buku yang ditulis oleh Sahala Panggabean dan Anwar Abbas tersebut terselip pesan persaudaraan. Ia menuturkan bahwa orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dipersatukan dalam buku ini. Menurutnya, keberagaman dan persaudaraan dengan rasa saling menghormati itu harus selalu dijaga.

"Yang lebih luar biasa lagi, saya merasa bangga, Pak Sahala ini kebetulan non-muslim. Kemudian Pak Anwar Abbas muslim tapi Muhammadiyah. Saya NU, ini luar biasa. Jadi pikiran orang NU, ditulis oleh orang non-muslim, Kristiani dan oleh orang Muhammadiyah," ujar Ma'ruf.

"Saya pikir ini merupakan suatu keutuhan, kesatuan, persaudaraan yang harus kita bangun, untuk saling menghargai satu sama lain," kata Ma'ruf Amin di akhir sambutan.



Sumber: Suara Pembaruan