Defisit Neraca Perdagangan Tantangan Besar Pemerintah Baru

Defisit Neraca Perdagangan Tantangan Besar Pemerintah Baru
Grafis Neraca Perdagangan (Foto: BPS / BPS)
Herman / MPA Senin, 21 Oktober 2019 | 13:47 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintahan baru Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, menghadapi persoalan besar terkait neraca perdagangan yang terus defisit. Impor melaju lebih kencang daripada ekspor. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2019, neraca peragangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$160,5 juta.

Jika diakumulasikan selama periode Januari sampai September 2019, neraca perdagangan Indonesia juga masih defisit US$1,95 miliar. Ini disebabkan oleh defisit sektor minyak dan gas (migas) sebesar US$6,44 miliar, walaupun sektor nonmigas surplus US$4,49 miliar. Namun bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, defisit neraca perdagangan ini memang terlihat mulai menipis. Pada periode Januari sampai September 2018, defisitnya mencapai US$3,81 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-September 2019 mencapai US$ 124,17 miliar, turun dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 134,96 miliar. Sedangkan nilai impornya mencapai US$ 126,11 miliar, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 138,77 miliar.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengungkapkan, buruknya kinerja neraca perdagangan Indonesia tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih mengalami perlambatan, terutama di negara-negara utama tujuan ekspor. Akibatnya, negara-negara tersebut mengurangi permintaan terhadap barang impor, termasuk barang dari Indonesia. Penurunan ekspor ini terjadi untuk tujuan Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, India, Australia, Korea Selatan, dan juga negara-negara Uni Eropa.

“Kalau dilihat, penurunan ekspor ini terjadi hampir ke seluruh negara. Kondisi globalnya memang sedang ada perlambatan ekonomi, yang mengakibatkan permintaan semakin menurun. Saya kira defisit ini masih akan terjadi sampai akhir tahun,” kata Tauhid Ahmad kepada Beritasatu.com, pekan lalu.

Ia menambahkan, ketergantungan impor migas yang cukup dominan juga menjadi biang keladi defisitnya neraca perdagangan. Selain itu, Tauhid juga melihat adanya faktor penurunan harga sejumlah komoditas ekspor, terutama yang bersumber dari alam seperti batubara dan minyak sawit yang merupakan andalan ekspor Indonesia.

Adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga turut memengaruhi struktur ekspor Indonesia. Tauhid menambahkan, perang dagang ini sebetulnya juga membuka peluang bagi sejumlah negara untuk meningkatkan penetrasi ekspor ke kedua negara tersebut. Sayangnya, Indonesia belum mampu memanfaatkan peluang ekspor tersebut dengan baik.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Ia melihat adanya perlambatan ekonomi global menyebabkan harga dan permintaan untuk barang-barang komoditas mengalami penurunan, sementara barang komoditas merupakan andalan ekspor Indonesia.

“Dengan kondisi ini, secara natural ekspor kita pasti akan turun. Selain itu, saya juga melihat kita tidak punya trategi dalam menahan laju impor. Kita asik membuat perjanjian perdagangan bebas FTA-CEPA dan sebagainya, tetapi barang yang untuk kita ekspor tidak ada. Sehingga yang namanya non tariff barrier tidak bisa kita terapkan, dan pintu impor kita buka lebar-lebar. Jadi wajar lah kalau akhirnya neraca perdagangan kita menjadi defisit,” kata Piter Abdullah.

Ditambahkan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, persaingan antara negara eksportir saat ini juga sudah semakin ketat. Contohnya negara Vietnam yang telah tumbuh menjadi negara industri baru dan merupakan pesaing terkuat Indonesia. Apalagi Vietnam punya banyak kesamaan dengan Indonesia dari sisi produk yang diekspor. Inilah yang kemudian menghambat Indonesia dalam melakukan penetrasi lebih luas lagi di negara-negara tujuan ekspor.

Dari sisi domestik, Faisal juga melihat daya saing industri manufaktur Indonesia relatif stagnan atau tidak meningkat. Harga produk yang diekspor cenderung lebih mahal karena dipengaruhi oleh biaya produksi yang tinggi dan juga biaya logistik. Hal lainnya adalah kemampuan Indonesia dalam melihat selera konsumen di negara tujuan ekspor.

"Dari sisi impor, kemampuan kita untuk mengontrol impor juga lemah sekali. Hambatan tarif kita termasuk yang paling rendah atau lemah dibandingkan negara-negara besar seperti Tiongkok, Brazil, atau India. Di luar itu, hambatan non tarif kita juga relatif sedikit. Jumlahnya sekitar 290 sampai 300, sementara negara maju bisa sampai ribuan. Bahkan negara tetanggan seperti Thailand sampai 1.000, sehingga penetrasinya ke negara tersebut jauh lebih susah," kata Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com