HPS 2019 Momentum Wujudkan RI Lumbung Pangan Dunia

HPS 2019 Momentum Wujudkan RI Lumbung Pangan Dunia
Forum Group Discussion (FGD) jelang peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Jakarta, Rabu 23/10/2019). ( Foto: Dok )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 24 Oktober 2019 | 08:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hari Pangan Sedunia (HPS) bisa menjadi momentum untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 mendatang.

"Dengan keberagaman dan tingkat produktivitas pertanian, saya optimistis ke depan Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia," kata Dirjen Hortikultura Kementerian pertanian (Kemtan), Prihasto Setyanto saat menggelar Forum Group Discussion (FGD) jelang peringatan HPS di Jakarta, Rabu (23/10).

Dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (24/10/2019), berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO) dalam konferensi 1943 sebagai salah satu badan PBB, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. HPS tahun ini mengusung tema internasional, "Our Actions are Our Future, Healthy Diets for #ZeroHunger World."

Prihasto Setyanto mengatakan, pada puncak acara HPS 2 November 2019 mendatang, pemerintah akan menampilkan komoditas utama yaitu kakao dan sagu. Sebagai gambaran, Indonesia memiliki kakao di lahan seluas 1,7 juta hektare (ha) terutama di Sulawesi. Rata-rata produktivitas masih 0,7 ton per ha, padahal varietas baru kakao bisa mencapai 2-2,5 ton per ha. "Ini menjadi tantangan bagaimana mengembangkannya,” ujar Prihasto Setyanto.

Prihasto Setyanto menyebutkan HPS kali ini juga menjadi momen kebangkitan sagu sebagai sumber karbohidrat alternatif di masa depan. Sagu menjadi tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim. Berbeda dengan tanaman sumber pangan lainnya yang mudah terpengaruh perubahan iklim. "Artinya kebutuhan akan pangan utama bisa diperoleh dari komoditas ini,” ujar Prihasto Setyanto.

Berdasarkan skenario perubahan iklim dunia, tahun 2050-2100 akan ada kenaikan kenaikan suhu 2-3 derajat Celcius. Berdasarkan kajian IRRI pada 2006 lalu, tiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius akan menyebabkan penurunan produksi padi hingga 8 persen. Hal ini sama sekali tidak berpengaruh kepada komoditas sagu.

"Kita perlu perhatikan teknologi pascapanennya karena sagu sangat potensial. Sagu di Papua, Maluku, Sumatera dan Kalimantan itu luar biasa. Indonesia kaya akan aneka macam panganan sagu. Ini adalah kearifan lokal yang kita miliki dan prospektif," ujar Prihasto Setyanto.

Prihasto Setyanto meminta masyarakat memgubah persepsi bahwa sagu hanya menjadi masakan orang timur. "Bicara lumbung pangan dunia, jangan hanya berbicara beras. Ada sagu, ubi, jagung bahkan sukun. Nanti di HPS akan disajikan aneka olahan sagu menjadi berbagai jenis olahan panganan," kata Prihasto Setyanto.

Prihasto Setyanto juga mengatakan, teknologi pertanian terus berkembang. Saah satunya penggunaan pompa air berbasis android. Teknologi ini membuat sagu bisa dipanen di luar musimnya. Inovasi teknologi budidaya ini perlu lebih dikenalkan kepada kelompok tani mulai persiapan tanam, pembibitan dan penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit serta panen dan pascapanen.

“Majukan petani muda melalui teknologi. Saya pernah melihat ada pompa air bisa dinyalakan dengan handphone yang terdapat tombol on-off. Saya terkaget-kaget alat tersebut mampu menyalakan pompa air berjarak 2.200 km lebih. Ini perlu dikembangkan,” papar Prihasto Setyanto.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan, Winarno Tohir, menyebutkan penyelenggaran HPS tahun ini sarat manfaat karena akan menggelar teknologi yang menjadi referensi para petani. Dengan adanya HPS ini juga mengingatkan bahwa ada tranformasi teknologi pertanian dari manual, menjadi digital. "Tanam jagung ada teknologinya, sebar pupuk bisa dengan drone. Hadirnya generasi muda, lahan 5 hektare bisa dikerjakan hanya dengan dua orang saja,” papar Winarno Tohir.

Degan demikian kata Winarno Tohir, menjadi lumbung pangan dunia bukan hal mustahil. Indonesia kaya potensi alam dan diversifikasi pangan.



Sumber: BeritaSatu.com