Pencegahan Bom Ikan di TPK Gili Balu Harus Ditingkatkan

Pencegahan Bom Ikan di TPK Gili Balu Harus Ditingkatkan
Para nelayan tengah menangkap ikan di Kawasan Konservasi Taman Pulau Kecil Gugusan Gili Balu Poto Tano di perairan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). ( Foto: Ist )
heri s / HS Senin, 28 Oktober 2019 | 13:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ancaman pada Kawasan Konservasi Taman Pulau Kecil Gugusan Gili Balu Poto Tano di perairan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus meningkat. Kerusakan terumbu karang dan biota laut masih saja terjadi sehingga perlu upaya optimal untuk mencegahnya.

Arif Hasim selaku petugas pengawas Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, menjelaskan penangkapan ikan dengan bahan peledak rakitan masih sering terjadi di Kawasan Konservasi Taman Pulau Kecil Gugusan Gili Balu Poto Tano (disingkat KK TPK Gili Balu). Dalam beberapa bulan terkahir, pihak keamanan dan petugas KKP sudah menangkap dua kelompok pelaku bom ikan tersebut.

Arif menengarai aksi warga pesisir itu masih kerap terjadi dan luput dari pantauan petugas. Minimnya sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas menyebabkan tidak semua aksi ilegal masyarakat terpantau. Hal itu mengancam sumber daya perairan yang ada, mulai dari terumbu karang, padang lamun, mangrove dan berbagai biota laut.

“Petugas gabungan sudah menangkap dua kelompok dan menetapkan beberapa tersangka. Aksi ilegal itu masih sering terjadi, mereka menggunakan bahan peledak rakitan untuk mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak,” ujar Arif pekan lalu.

Dia mengatakan, efek jera harus diberikan kepada warga sehingga aksi tersebut bisa dikurangi. Sanksi yang diberikan harus konsisten ditegakkan dan perlu pengawasan ketat.

Di sisi lain, pengawasan bersama masyarakat juga harus ditingkatkan dengan membangun kesadaran dan kepedulian. Untuk itulah, Wildlife Conservation Society (WCS) Wilayah NTB mendorong perlunya konservasi perairan di NTB, termasuk KK TPK Gili Balu, dengan mengajak masyarakat.

Sukmaraharja yang juga Program Monitoring WCS Wilayah NTB mengatakan pihaknya berkolaborasi bersama Pokwasmas (kelompok pengawas masyarakat) untuk meningkatkan pengawasan tersebut. Upaya pemberdayaan Pokwasmas itu perlu ditingkatkan dan sekaligus harus dipkirkan berbagai hal untuk mendukung kolaborasi tersebut.

Untuk diketahui, KK TPK Gili Balu menjadi bagian dalam program Coral Reef Rehabilitation Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI). Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sedang menggarap COREMAP-CTI untuk menjaga ekosistem terumbu karang. Pendanaan COREMAP-CTI berasal dari hibah luar negeri melalui Global Enviroment Facility dan disalurkan Asian Development Bank (ADB).

Tonny Wagey selaku Team Leader Marine and Fisheries Working Group - Indonesia Climate Change Trust Fund mengatakan ada empat komponen proyek COREMAP -CTI ADB, yakni aspek peningkatan kapasitas, ekologi, dan ekonomi dari pengelolaan kawasan konservasi perairan secara terintegrasi.

COREMAP-CTI ADB dilaksanakan di tiga kawasan konservasi perairan Indonesia yakni Gili Matra dan Gili Balu (Provinsi Nusa Tenggara Barat), serta Nusa Penida (Provinsi Bali). Ketiga kawasan konservasi perairan tersebut berada di ecoregion Lesser Sunda dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Hal itu karena menyediakan habitat bagi 76% spesies terumbu karang dan 2631 spesies ikan karang. Selain itu, beberapa kawasan di atas mendapat tekanan dari kegiatan pariwisata yang perlu diperhatikan daya dukungnya.



Sumber: Suara Pembaruan