JFX dan KBI Kejar Target Perdagangan Komoditas Timah

JFX dan KBI Kejar Target Perdagangan Komoditas Timah
Direktur Utama JFX, Stephanus Paulus Lumintang, memberikan sambutan dalam acara paparan kepada media dengan tema mengenal pasar fisik timah dan kepulauan Bangka, Jumat (1/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. JFX )
Thresa Sandra Desfika / FER Sabtu, 2 November 2019 | 17:06 WIB

Bangka, Beritasatu.com - PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Future Exchanges (JFX) bersama dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) menargetkan total perdagangan fisik timah hingga akhir tahun 2020 akan mencapai 72.000 ton per tahun.

Baca Juga: Bursa Pasar Fisik Timah Dorong Perekonomian Babel

"Besaran transaksi dalam 3 bulan ini, tentu merupakan hal yang sangat positif. Kedepan, kami optimis bahwa perdagangan pasar fisik timah di JFX akan terus meningkat. Kami menargetkan, sampai akhir tahun 2020, total transaksi perdagangan pasar fisik timah akan mencapai 72.000 ton per tahun," ungkap Direktur Utama Jakarta Future Exchange, Stephanus Paulus Lumintang, di Bangka, Jumat (1/11/2019).

Menurut Paulus, sejak diluncurkan pada akhir bulan Agustus 2019 lalu, perdagangan pasar fisik timah di JFX sampai dengan 25 Oktober 2019 terus mengalami dinamika yang positif, tercatat total transaksi pasar fisik timah sebanyak 3.224 lot dengan total nilai transaksi sebesar US$ 261,59 juta.

Adapun secara rinci transaksi yang terjadi pada Agustus, tercatat sebanyak 915 lot atau 4.575 ton dengan nilai transaksi US$ 72,6 juta. Kemudian, untuk September mengalami kenaikan, dengan tercatat transaksi sebanyak 1.254 lot atau 6.270 ton senilai US$ 105 juta. Sedangkan di bulan Oktober, volume transaksi mencapai 1.055 lot dengan nilai transaksi sebesar US$ 83,9 juta per tanggal 25 Oktober.

Bursa Timah

Baca Juga: JFX Disetujui Jadi Bursa Pasar Timah Murni Batangan

Sementara itu Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Persero, Fajar Wibhiyadi, menyatakan, perdagangan pasar fisik timah batangan memiliki peluang yang besar dan alternatif investasi bagi para pelaku bisnis.

"Perdagangan komoditas timah di JFX ini dapat menjadi opportunity yang besar untuk para pelaku di bisnis perdagangan timah batangan baik di Indonesia maupun internasional. Saat ini, Indonesia menyumbangkan kurang lebih sekitar 23 persen market timah dunia. Dengan adanya perdagangan timah di Bursa Berjangka Jakarta diharapkan memberikan pilihan untuk para pelaku dalam bertransaksi," ungkapnya.

Fajar menambahkan dengan adanya pencantuman cetakan merek pada timah murni batangan membuat pembeli mendapat jaminan kepastian atas produk yang dibelinya.

"Tidak hanya itu, dengan mencantumkan brand pada setiap produk juga dapat menciptakan persaingan sehat antara produsen. Karena brand-nya tercantum, dengan sendirinya ini akan menjadi stimulus para produsen untuk meningkatkan kualitas dari masing-masing produknya," imbuh Fajar.

Baca Juga: SGB Semarang Targetkan Pertumbuhan 20%

Sejak diluncurkan pada bulan Agustus 2019 lalu, bursa timah murni batangan di JFX, secara langsung turut mengambil peran dalam industri timah di Indonesia, dengan memperdagangkan timah menjadi komoditas yang di transaksikan dalam pasar fisik timah murni batangan.

"Bersama dengan KBI, kedua institusi ini bersinergi untuk terbentuknya harga timah pada bursa nasional yang akan menjadi acuan internasional," tandas Fajar.

Menurut Paulus, dengan kekayaan alam Indonesia yang memproduksi timah terbesar kedua di dunia. Kendati untuk saat ini harga acuan timah dunia adalah London Metal Exchange (LME), namun JFX dan KBI mempunyai harapan besar dan akan berusaha untuk menjadikan Indonesia sebagai acuan harga timah dunia.

"Dengan potensi timah yang ada di Indonesia, khususnya di Bangka, kami optimistis perdagangan pasar fisik timah murni batangan akan terus berkembang. Selain komoditas timah, JFX kedepan akan terus melakukan inovasi untuk komoditas-komoditas lain yang ada di Indonesia," pungkas Paulus.

 

 



Sumber: BeritaSatu.com