Industri Fintech Butuh Light Touch Regulation

Industri Fintech Butuh Light Touch Regulation
Konferensi pers Connect Indonesia 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Ridho Syukro )
Ridho Syukro / FER Minggu, 3 November 2019 | 15:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Layanan pinjam-meminjam uang berbasis online yang dihadirkan perusahaan financial technology (fintech) peer-to-peer lending (P2P) menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Di sisi lain, tidak sedikit fintech P2P lending yang beroperasi secara ilegal untuk menjerat para korbannya dengan iming-iming kemudahan mendapatkan pinjaman uang.

Baca Juga: 127 Fintech P2P Lending Sudah Terdaftar di OJK

"Industri fintech di Indonesia tidak bisa diatur terlalu ketat, harus sesuai dengan azas light touch regulation. Namun, tentunya tidak bisa dilepaskan begitu saja karena harus ada safe harbour policy untuk mengatur tanggung jawab penyedia layanan,” ujar Direktur Eksekutif Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Triyono Gani, dalam acara Connect Indonesia 2019 di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Triyono Gani, pertumbuhan industri fintech di Indonesia sendiri sangat luar biasa pesat, karena tingkat adopsi dan penerimaan masyarakat yang cukup tinggi. Meski demikian, masyarakat juga diingatkan bahwa ada resiko tinggi dan OJK menginginkan industri fintech ini aman terkendali.

Baca Juga: Oriente Dukung Ekosistem Keuangan Inklusif di Indonesia

"Masyarakat diimbau agar memilih fintech yang terdaftar di OJK atau BI untuk mengurangi faktor resiko yang mungkin timbul. Jika sudah terdaftar di OJK atau BI maka pelanggan akan mendapatkan perlindungan,” ujar Triyono.

Triyono menambahkan, beberapa potensi di balik maraknya fintech yaitu system failure, missinformation, error transaction, data security, suku bunga tinggi dan cara penanganan komplain dari pelanggan.

"Sekali lagi, untuk masyarakat yang ingin menggunakan layanan fintech lending diimbau agar terlebih dahulu memeriksa apakah fintech tersebut sudah berizin dan terdaftar di OJK atau BI," pesan Triyono.

Baca Juga: Cashwagon Dorong Edukasi Inklusi Keuangan

Chief Financial Officer (CFO) Dana, Yatha Saputra, mengatakan, sejak awal platform Dana dibentuk, telah memprioritaskan faktor keamanan atau security. Selain itu, ada pula program dana protection yaitu jaminan uang kembali 100 persen jika ada kesalahan.

"Selain itu, ada juga dana premium yang menjamin pengguna aman dalam menggunakannya," ujar Yatha Saputra.

 



Sumber: Investor Daily