Perlu Response Cepat Atasi Kolera Babi yang Meluas

Perlu Response Cepat Atasi Kolera Babi yang Meluas
Wabah demam babi Afrika menginfeksi hampir setiap provinsi di Vietnam. ( Foto: Vnexpress International / Dokumentasi )
Heriyanto / HS Rabu, 6 November 2019 | 15:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ancaman penularan virus flu (demam) babi Afrika (African Swine Flu/ASF) di beberapa negara Asia, terutama Timor Leste, harus tetap diwaspadai. Kini, sejumlah sentra peternakan babi di Sumatera Utara justru terserang virus kolera babi (hog cholera). Upaya mencegah agar wabah tersebut tidak meluas harus segera dilakukan.

Pakar peternakan babi Institut Pertanian Bogor (IPB) Parsaoran Silalahi dan Cons JM Tukan selaku Co-founder dari Centre for Economic, Rural Development on Agriculture Sustainability (Cerdas), Rabu (6/11/2019), menghimbau berbagai pihak agar segera melakukan antisipasi agar wabah tersebut tidak meluas. Hal itu sangat penting karena sebagian besar peternakan babi milik masyarakat masih dikelola secara tradisional sehingga rawan atas wabah tersebut.

“Response cepat sangat diperlukan sehingga kematian ternak babi bisa ditekan. Berbagai pihak yang terkait perlu secara bersama melakukan upaya-upaya jangka pendek,” ujar Parsaoran yang juga ahli ternak babi jebolan Perancis dan Taiwan ini.

Sementara itu, lembaga Cerdas yang mulai memberi perhatian pada manajemen peternakan babi yang baik mulai menggagas beberapa sosialisasi kepada masyarakat. Hal itu harus dilakukan segera karena sejauh ini belum banyak masyarakat memahami cara beternak intensif dan baik. Apalagi, di tengah wabah ASF (flu babi) menyebar negara-negara Asia, malah Indonesia merebak kolera babi.

“Wabah ASF atau flu babi sudah menyebar ke beberapa negara Asia yang dekat dengan Indonesia, seperti Filipina dan Timor Leste. Jika tidak ada langkah-langkah antisipasi dan sosialisasi maka sesewaktu bisa menyerang Indonesia,” ujar Joel yang banyak melakukan pendampingan peternak babi di Sumba dan Flores ini.

Seperti diberitakan, kasus kematian ribuan ekor babi akibat diserang virus kolera babi menimbulkan masalah baru. Tidak semua peternak di Sumatera Utara (Sumut) melakukan penguburan atas hewan yang mati tersebut, tetapi ada juga yang membuangnya ke sungai. Akibatnya, masyarakat resah karena mencium aroma tidak sedap dari bangkai babi yang sudah membusuk.

"Bila dihitung dari akhir pekan lalu sampai saat ini, jumlah babi mati yang dibuang ke Sungai Bederah di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, ada mencapai ratusan ekor. Kita tidak mengetahui identitas warga yang dengan sengaja membuang babi mati itu ke sungai," ujar Camat Medan Marelan, Muhammad Yunus di Medan, Sumut, Selasa (5/11/2019).

Yunus mengatakan, Sungai Bederah tersambung dari beberapa kabupaten di Sumut, yang salah satunya adalah Kabupaten Deli Serdang. Oleh karena itu, Yunus memastikan bahwa bukan warganya yang membuang bangkai babi ke sungai itu. Ironisnya, bangkai babi yang dibuang mengalir ke lokasi pariwisata di Danau Siombak di kawasan Marelan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, Mulkan Harahap, pembuangan bangkai babi oleh pihak tidak bertanggungjawab ke sungai, dipastikan bisa merusak lingkungan di sungai. Oleh karena itu, warga yang menemukan hewan ternaknya mati untuk tidak membuangnya ke sungai.



Sumber: Suara Pembaruan