Inflasi di Kota Pelajar Disebabkan Naiknya Tarif Pendidikan

Inflasi di Kota Pelajar Disebabkan Naiknya Tarif Pendidikan
Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mempertahankan gelar juara umum Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 yang berlangsung 27-30 Agustus 2019 di Universitas Udayana, Bali. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. UGM )
Fuska Sani Evani / FMB Kamis, 7 November 2019 | 10:26 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Tekanan pada kelompok inflasi inti dan kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) menyebabkan DIY kembali mengalami inflasi sebesar 0,18 persen pada Oktober 2019.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DI Yogyakarta Hilman Tisnawan dalam keterangan tertulisnya menyebutkan, realisasi laju inflasi tahun kalender 2019 mencapai yakni 1,98 persen (ytd) dan inflasi tahunan 3,04 persen (yoy). Inflasi terjadi pada Oktober 2019 padahal harga kelompok pangan (volatile food) masih mengalami penurunan. Kelompok volatile food tercatat mengalami deflasi -0,53 persen (mtm), utamanya dipicu oleh penurunan harga komoditas cabai merah (-14,18 persen), cabai rawit (-14,70 persen), dan telur ayam ras (-7,20 persen). Deflasi tersebut disebabkan pasokan telur di pasar tidak sepenuhnya terserap oleh konsumen.

Pada komoditas aneka cabai, panen raya yang terjadi di beberapa sentra produksi di Sleman dan Kulonprogo menyebabkan pasokan di pasar semakin stabil sehingga harga cenderung melandai.

Sementara itu pada komoditas telur ayam ras kembali mengalami penurunan harga. Berdasarkan “Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga komoditas telur ayam ras di tingkat pengecer mencapai Rp 20.450 per kilogramnya,” terang Hilman, Rabu (6/11/2019).

Sementara itu inflasi pada kelompok inti cenderung meningkat dengan capaian 0,33 persen (mtm), yang disebabkan oleh siklus inflasi pendidikan.

Sedang tarif akademi dan perguruan tinggi kembali meningkat yakni 5,31 persen (mtm), sehingga sepanjang tahun 2019 kenaikan tarif pendidikan tinggi telah meningkat 6,19 persen (yoy). Hal ini menyebabkan inflasi pendidikan di DIY secara keseluruhan telah meningkat menjadi 6,03 persen (yoy), yang menjadi peningkatan tarif pendidikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Semakin maraknya sekolah swasta bertaraf internasional turut menyebabkan inflasi pendidikan di DIY cenderung tinggi.

Adapun kelompok administered prices mengalami inflasi 0,28 persen (mtm), utamanya dipicu oleh peningkatan bahan bakar rumah tangga yakni 1,26 persen (mtm) dan tarif angkutan udara yakni 0,56 persen (mtm). Kelangkaan Elpiji 3kg di beberapa daerah menyebabkan harga di pasar cenderung meningkat.

“Tim Pengendali Infasi Derah (TPID) DIY akan terus memastikan harga di tingkat ritel tidak melebihi harga eceran tertinggi, sehingga harga bahan bakar rumah tangga dapat terjaga stabil,” tambah Hilman.

Sementara itu menjelang akhir tahun, trafik angkutan udara kembali meningkat. Semakin maraknya agenda Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) turut berperan meningkatkan permintaan transportasi, khususnya angkutan udara.

“Dengan waktu 2 bulan terakhir di tahun 2019, kami meyakini inflasi DIY 2019 akan berada pada sasaran 2019 yakni 3,5 persen±1 persen (yoy), dengan kecenderungan bias bawah. BI bersama TPID DIY terus berkoordinasi dan berinovasi agar capaian inflasi berada pada sasaran yang ditetapkan,” tegasnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menyebutkan, pada awal November 2019, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan, dari 134,18 pada September 2019 menjadi 134,42 pada Oktober 2019.

Kepala BPS DIY, Heru Margono menyampaikan, inflasi terjadi karena naiknya harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan jadi minuman, rokok & tembakau naik 0,24 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,21 persen; kelompok sandang naik 0,29 persen; kelompok kesehatan naik 0,15 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 1,41 persen dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,12 persen.

Sedangkan kelompok bahan makanan turun 0,45 persen. "Sumbangan paling besar di pendidikan. Saya menebaknya, ini tidak hanya Yogyakarta saja. Ada yang naik tinggi ada yang tidak tinggi," terangnya.

Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga pada Bulan Oktober 2019 sehingga memberikan andil mendorong terjadinya inflasi di antaranya akademi/perguruan tinggi naik 5,31 persen dengan memberikan andil 0,11 persen.



Sumber: Suara Pembaruan