Orang-orang Indonesia Borong Properti Mewah di Luar Negeri

Orang-orang Indonesia Borong Properti Mewah di Luar Negeri
Tampak sejumlah bangunan di Kota Dubai, UEA dari atas Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Amrozi Amenan / FMB Selasa, 12 November 2019 | 11:00 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Perusahaan agen properti, Propnext Indonesia, menggandeng delapan pengembang properti mancanegara untuk menggelar pameran ‘Propex International Property Expo 2019’. Propnext menargetkan penjualan produk properti internasional sebesar Rp 100 miliar dari pameran yang digelar pada 11-17 November 2019 di Mal Galaxy Surabaya itu.

CEO Propnext Indonesia Luckyanto menuturkan bahwa, permintaan produk properti internasional terus bertumbuh setiap tahun. Kebijakan tax amnesty beberapa tahun lalu turut mendorong pertumbuhan itu. Banyak pemilik modal di dalam negeri yang ikut tax amnesty lalu menginvestasikan dananya untuk pembelian properti di luar negeri. Di antara negara tujuan investasi mereka adalah Australia, yang mencatat permintaan paling tinggi hingga 40 persen dari total pembelian properti internasional di Indonesia, lalu disusul Singapura yang mencapai 20 persen dan sisanya 60 persen permintaan dibagi secara merata ke beberapa negara seperti Malaysia, Hong Kong, London dan lainnya.

Tahun ini sendiri permintaan produk properti internasional mencatat pertumbuhan sebesar 30 persen dan kota Surabaya memberikan andil cukup besar terhadap pertumbuhan tersebut. Sebab, dari total jumlah pembeli produk properti internasional di Indonesia, pembeli dari Surabaya mencapai 40 persen. Mereka umumnya membeli produk properti internasional untuk keperluan investasi, pendidikan dan medis terutama di Australia, Singapura dan Malaysia. Harga produk properti di bawah Rp 8 miliar di Australia, Rp 1-2 miliar di Singapura dan Rp 5 miliar di Malaysia cukup laris manis.

“Potensi pasar di Surabaya yang cukup besar ini menjadi alasan Propnext Indonesia menggelar pameran properti internasional di kota ini,” kata Luckyanto saat pembukaan ‘Propex International Property Expo 2019’ di Mal Galaxy Surabaya, Senin (11/11/2019).

Pada pemeran kali ini Propnext menggandeng delapan pengembang besar seperti Crown Group di Sydney, Far East di Singapura, Propnex Malaysia, Nicheliving di Perth, Damac Group di Dubai, Ecoworld di Melbourne dan Skales Nusa Dua di Bali, serta didukung oleh Jones Lang Lasalle (JLL). Mereka menawarkan produk properti internasional baik untuk hunian tapak (landed) atau hunian bertingkat (high rise) di Australia, Singapura, Malaysia, Bali, Dubai, Hong Kong dan London. Harga apartemen yang ditawarkan bervariasi mulai Rp 1 miliar seperti apartemen Skales Nusa Dua Bali hingga Rp 30 miliar untuk apartemen di Hongkong.

Dukungan JJL selaku pemegang saham Propnext dengan jaringan internasionalnya yang luas akan memberikan jaminan investasi yang aman dan menjanjikan untuk produk properti yang dipamerkan. Tak hanya itu, semua produk properti yang ditawarkan memang saat ini memberi gambaran akan prospek investasi yang lebih bagus di pengujung akhir tahun ini. Contohnya, di Perth, Australia sedang memberikan potongan pajak hingga 75 persen dari pajak pembelian properti bagi warga asing sebesar 12 persen. Potongan pajak ini dimaksudkan untuk menarik investasi asing.

Kemudian, Dubai juga sedang memberikan berbagai penawaran menarik mulai harga apartemen Rp 2 miliar, hak milik, bebas pajak, KPR, nilai sewa per tahun hingga 12 persen hingga jaminan 7 tahun BEP. Berbagai penawaran itu tak lepas dari komposisi penduduk Dubai yang hampir 92 persen merupakan pendatang dari Eropa, Asia dan Ameria. “Orang Arab sendiri di sana minoritas, banyak ekspatriat. Sebagai negara Islam yang open dan modern, ini sangat mendukung dan menjamin investasi di Dubai aman,” tukas Luckyanto.

Peluang yang menarik juga untuk properti di Singapura yang berencana menaikkan pajak pembelian properti buat orang asing dari 24 persen sekarang menjadi 30 persen. Kemudian, Hong Kong yang sedang dilanda resesi dan London yang sedang mengalami krisis sekarang membuat harga produk propertinya jatuh saat ini. Bahkan, Hongkong sendiri saat ini ditinggal oleh investor di dalam negeri dan memilih investasi di negara lain seperti Singapura dan London. “Saat Hongkong nanti membaik, mereka akan balik investasi di negaranya dan pada saat itu harga properti dipastikan akan melambung. Nah, kesempatan kita mengambil celah ini membeli saat harga masih murah,” kata Luckyanto.

Adapun properti di Bali, sambung dia, tidak kalah menarik. Bali yang selama ini sudah menjadi tujuan investasi internasional akan tetap diincar oleh investor asing termasuk dari Singapura terutama setelah kebijakan negara itu yang menerapkan pajak progresif bagi kepemilikan properti lebih dari satu bagi warganya. Kebijakan itu mendorong banyak investor di Singapura saat ini menginvestasikan dananya untuk pembelian properti di luar negeri seperti Vietnam dan Kamboja. “Kebijakan Presiden Jokowi yang terus mendorong masuknya investor asing ke dalam negeri tentu juga akan memberikan peluang bagi mereka untuk membeli properti di Bali dan mendongkrak harga properti di sana. Apalagi kondisi politik sekarang terus membaik setelah pemilu,” papar Luckyanto.

Dia mengakui geliat pasar properti di Surabaya mulai terasa setelah gelaran pemilu beberapa waktu lalu. Terbukti, hingga akhir Oktober 2019 lalu Propnext mampu mencatat penjualan properti internasional sebesar Rp 200 miliar. Padahal akhir 2018 lalu capain penjualan hanya Rp 180 miliar, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar Rp 100 miliar. Dengan prospek bagus serta harga produk properti yang ditawarkan dalam pameran internasional kali ini, misalnya untuk tipe studio dengan harga mulai Rp 10 miliar di Singapura, Rp 18 miliar di London dan Rp 2,8 miliar di Dubai, Propnext optimistis capaian pameran kali ini akan lebih baik dari pameran sebelumnya di tahun yang sama. “Kami menargetkan penjualan properti internasional bisa tembus Rp 100 miliar dan akan melengkapi capaian penjualan per Oktober lalu sebesar Rp 200 miliar. Sehingga kami bisa mencapai penjualan Rp 300 miliar sampai akhir tahun ini,” pungkas Luckyanto.



Sumber: Investor Daily