Aprindo Optimistis Industri Retail Terus Tumbuh

Aprindo Optimistis Industri Retail Terus Tumbuh
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey (Foto: beritasatu tv)
Lenny Tristia Tambun / MPA Selasa, 12 November 2019 | 12:16 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, pertumbuhan industri retail modern di Indoesia masih rendah. Namun, ia tetap optimistis pertumbahan retail modern akan terus meningkat.

Dijelaskannya, pertumbuhan retail modern di Indonesia masih bergerak di angka 7% sampai 9%. Pertumbuhan yang ideal adalah pertumbuhan retail modern dapat bergerak tiga sampai empat kali dari pertumbuhan ekonomi.

“Kenapa retail harus diatas pertumbuhan ekonomi, karena retail itu kan kebutuhan pokok. Kalau tidak sesuai harapan berarti ada yang salah dan kurang. Saat ini kita baru bertumbuh 7-9%. Artinya kita masih underperformed,” kata Roy kepada SP, di Jakarta, pekan lalu.

Karena itu, tahun ini ia mengharapkan pertumbuhan industri retail modern dapat mencapai 9%. Dengan asumsi, inflasi inti harus tetap dijaga supaya rendah. Tahun ini ditargetkan total pendapatan dari transaksi retail modern anggota Aprindo mencapai Rp 260 triliun.

Sementara tahun lalu, pertumbuhannya baru mencapai 8,6% dengan total pendapatan dari peritel yang tergabung dalam Aprindo sekitar Rp 230 triliun.

Agar target itu tercapai, maka para peretail harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Terutama teknologi komunikasi menggunakan smartphone. Lalu, berkolaborasi dengan teknologi.

“Menyerap teknologi, mengajak financial teknologi dan menciptakan even yang tidak pernah dilakukan serta melakukan inovasi-inovasi baru, juga berpikir out of the box, akan membuat industri retail akan terus bertumbuh, tidak tergerus,” ujar Roy Mandey.

Kendati demikian, Roy Mandey menegaskan pertumbuhan industri retail di Indonesia sudah lebih bagus dibandingkan industri retail modern di negara lain yang justru pertumbuhannya minus. Terlihat dari kontribusi industri retail terhadap PDB Indonesia mencapai 10,41% dengan nilai Rp 1.544 triliun dengan tingkat pertumbuhan konsumsi sekitar selama lima tahun terakhir ini sekitar 5%-7%.

Terkait prospek konsumsi domestik, Aprindo sendiri masih mencermati. Karena sekarang baru terjadi peralihan pemerintahan dengan kabinet yang baru. Kelihatannya memang melambat di sektor konsumsi yang sekarang turun 5,1% dibandingkan tahun lalu 5,2%.

“Kita masih wait and see. Jadi pertumbuhan ekonomi kita mestinya 6%-7%. Kenapa belum tercapai, karena impor kita masih lebih kuat daripada ekspor. Tetapi saya yakin pasti ada perbaikan. Maka prospek konsumsi domestik kedepannya, masih ada harapan membaik,” ungkapnya.

Bank UMKM

Pada kesempatan itu, Roy juga mengusulkan pemerintah segera mendirikan Bank UMKM.Diungkapkannya, 65% dari UMKM yang dibina Aprindo, mengharapkan adanya dukungan modal dari pemerintah.

“Dukungan modal tidak gampang. Karena itu, usulan saya, pemerintah segeralah membentuk Bank UMKM,” kata Roy Mandey.

Sumber dana dari Bank UMKM ini, lanjutnya, tidak berasal dari dana masyarakat. Melainkan dana corporate social responsibility (CSR) baik dari perusahaan pemerintah maupun swasta. Serta berbentuk dana hibah. Sehingga dananya dikembalikan tidak disertai dengan bunga yang tinggi.

“Kalau sekarang kan masih menggunakan dana masyarakat. Bunganya tinggi. Karena Bank harus membayar balik uang masyarakat. Makanya bunga KUR 7% tidak bisa diturunkan lagi. Sebab Bank harus mensubsidi lebih besar lagi. Bank harus ambil uang masyarakat untuk menyalurkannya,” terang Roy Mandey.

“Kalau dana hibah atau CSR kan tidak harus dikembalikan ke masyarakat. Karena itu bunganya bisa rendah, bisa 0,5%. Jadi harapannya, kalau mau membantu UMKM, bunganya jangan lebih dari satu persen,” jelasnya lagi.

Dengan adanya bantuan permodalan berbunga rendah, Roy Mandey yakin dapat meningkatkan daya saing UMKM di Indonesia. Sebab dengan permodalan yang kuat, UMKM dapat meningkatkan kualitas produknya.



Sumber: Suara Pembaruan