Ekonomi dan Keuangan Syariah Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi dan Keuangan Syariah Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo memberi sambutan di acara forum 5th International Islamic Monetary Economics and Finance Conference (IIMEFC) 2019, sebagai rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa, 12 November 2019. ( Foto: Berita Satu / Herman )
Herman / IDS Selasa, 12 November 2019 | 15:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi sebagai salah satu mesin baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Bank Indonesia Institute, Solikin M Juhro, di acara forum 5th International Islamic Monetary Economics and Finance Conference (IIMEFC) 2019, sebagai rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC).

“Di tengah kondisi ekonomi global yang mengalami perlambatan pertumbuhan, kita perlu sumber-sumber baru yang dapat mendorong ekonomi terus tumbuh secara berkelanjutan. Ekonomi syariah bisa menjadi salah satu mesin baru dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang strong, sustainable dan inclusive,” kata Solikin M Juhro, di acara IIMEFC, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Solikin menyampaikan, keyakinan ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang dipegang dalam ekonomi dan keuangan syariah, antara lain prinsip bagi hasil dan mengharamkan riba. Prinsip-prinsip tersebut menurutnya bisa mendorong produktivitas dan lahirnya inovasi.

“Dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah atau ekonomi Islam, ini memungkinkan untuk memberikan suatu dorongan agar bagaimana ekonomi bisa tumbuh. Misalnya dengan prinsip bagi hasil dan tidak ada spekulasi, serta tidak ada riba, ini akan mendorong orang untuk berinovasi karena dia tidak lagi takut gagal dan harus menanggung semua risiko keuangannya,” papar Solikin.

Sementara itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, Indonesia saat ini belum optimal dalam mengembangkan industri keuangan dan perekonomian syariah. Di dalam rantai industri ekonomi syariah global, Indonesia masih menjadi konsumen, bukan produsen. Melalui forum IIMEFC, harapannya kontribusi Indonesia bisa lebih meningkat.

Dodi juga menegaskan bahwa riset dan edukasi yang handal menjadi salah satu prasyarat mutlak lahirnya kebijakan yang mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Akumulasi ilmu pengetahuan penting dalam proses perumusan kebijakan, sekaligus mendukung lahirnya terobosan kebijakan ekonomi syariah yang membawa dampak positif terhadap perekonomian,” ujar Dody Budi Waluyo.

Hadirnya Forum IIMEFS ini juga diharapkan dapat memperluas wawasan guna mendukung perumusan kebijakan menuju realisasi penuh ekonomi dan keuangan syariah sebagai mesin baru untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, sejalan dengan tema besar ISEF 2019, Sharia Economy for Stronger and Sustainable Growth.

Hal serupa juga disampaikan Wakil Menteri Keuangan Malaysia, Dato’ H. Amiruddin bin Haji Hamzah. Menurutnya, ini saatnya untuk mengeksplorasi solusi inovatif yang dapat ditawarkan dari keuangan syariah untuk membangun masa depan berkelanjutan.

IIMEFC sendiri merupakan forum yang mempertemukan beragam ide dan pemikiran cendekiawan dari seluruh dunia sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan inklusif.

Turut hadir sebagai pembicara antara lain, Prof. Dr. Asad Zaman (International Islamic University Pakistan), Prof. Dr. Monzer Kahf (Istanbul Sabahattin Zaim University), Prof. Dr. Habib Ahmed (Durham University, United Kingdom), Dr. Wiliam Coen (mantan Sekretaris Jenderal Basel Committee on Banking Supervision), Feraldi Wisber Loeis (KNKS Indonesia), dan Dr. Imam Teguh Saptono (Global Wakaf, Indonesia).

Guna mendukung ekosistem pembelajaran di bidang ekonomi syariah, sejak 2015 BI telah meluncurkan Journal of Islamic Monetary Economics and Finance (JIMF). Selanjutnya, dilaksanakan JIMF Call for Papers sebagai salah satu rangkaian kegiatan IIMEFC di ISEF 2019. JIMF Call for Papers merupakan kegiatan rutin tahunan BI dalam format diskusi, pembahasan ilmiah dan showcase hasil penelitian terkini dari para peneliti, dosen, pemerhati keuangan syariah, dan pelaku keuangan syariah.

JIMF Call for Papers kali ini menerima 250 makalah, dengan jurnal terpilih sebanyak 39 makalah yang berasal dari 10 negara partisipan, 22 makalah ditulis oleh peneliti Indonesia dan 17 lainnya peneliti internasional. Cakupan makalah yang disampaikan beragam, mulai dari ekonomi keuangan syariah dalam mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, sampai dengan pengembangan ekonomi digital dan teknologi finansial berbasis syariah.



Sumber: Suara Pembaruan