Konsumen Indonesia Inginkan Otentikasi Teknologi Biometrik

Konsumen Indonesia Inginkan Otentikasi Teknologi Biometrik
Ilustrasi kartu kredit. (Sumber: buatusaha.com)
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 12 November 2019 | 23:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Studi global baru yang diterbitkan oleh Visa menyebutkan, sembilan dari sepuluh pemegang kartu kredit di Indonesia bersedia untuk beralih dari bank, penyedia kartu pembayaran, atau penyedia ponsel demi dapat melakukan pembayaran dengan teknologi biometrik.

Baca Juga: Visa Tetapkan Cicil Jadi Pemenang Kompetisi VEI 2019

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurrahman, mengatakan, studi tersebut menyoroti minat yang semakin besar terhadap otentikasi berbasis teknologi biometrik, khususnya pada generasi yang lebih muda. Visa secara berkelanjutan mengkaji peluang kerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk memperkenalkan inovasi pembayaran yang baru, seperti teknologi otentikasi biometrik ke masyarakat.

"Konsumen Indonesia mendukung semua inovasi teknologi yang memudahkan kehidupan sehari-hari mereka. Otentikasi berbasis biometrik menjadi salah satu teknologi yang populer di antara generasi milenial yang sadar teknologi dan mengusung gaya hidup serba digital, termasuk cara pembayaran," kata Riko Abdurrahman dalam keterangan persnya yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Berdasarkan studi tersebut, teknologi biometrik seperti pemindai sidik jari dan pemindai mata dinilai lebih aman, cepat, dan nyaman dibandingkan dengan teknologi tradisional seperti password atau PIN.

Teknologi biometrik dipandang sebagai sebuah keharusan bagi penyedia pembayaran dalam menyeimbangkan kebutuhan konsumen akan tingkat keamanan yang tinggi dan pengalaman membayar dengan tanpa hambatan.

Menurut survei tersebut, 73 persen responden pernah membatalkan pembelian online karena hambatan saat proses otentikasi, seperti tidak menerima one-time password (OTP), kesulitan mengakses akun, dan lupa password.

Selain itu, 8 dari 10 responden merasa frustrasi untuk mengingat password dan PIN, di mana 18 persen dari mereka menggunakan password yang sama untuk semua akun, yang membahayakan keamanan akun mereka.

Adapun pihak yang paling dipercaya konsumen untuk menyimpan informasi biometrik yang sensitif untuk tujuan otentikasi pembayaran adalah bank (74 persen), diikuti oleh jaringan kartu kredit/debit (68 persen), dan dompet digital (5 persen).



Sumber: BeritaSatu.com