Neraca Perdagangan Oktober Surplus US$ 161,3 Juta
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Neraca Perdagangan Oktober Surplus US$ 161,3 Juta

Jumat, 15 November 2019 | 10:19 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kondisi neraca perdagangan pada Oktober2019. Bila di September 2019 neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 160,5 juta, pada Oktober 2019 neraca peragangan surplus sebesar US$ 161,3 juta. Surplus disebabkan sektor nonmigas sebesar US$ 990,5 juta, walaupun sektor migas defisit U$ 829,2 juta.

Kepala BPS, Suhariyanto memaparkan, perkembangan harga komoditas baik migas maupun non migas dari September 2019 ke Oktober 2019 masih sangat fluktuatif. Misalnya untuk harga minyak mentah dari Indonesia di pasar dunia yang mengalami penurunan dari US$ 60,84 per barel pada September 2019 menjadi US$ 59,82 per barel pada Oktober 2019. Beberapa komoditas non migas juga mengalami kenaikan harga seperti cokelat, batu bara, minyak sawit, dan juga seng. "Sedangkan komiditas NON migas yang mengalami penurunan harga seperti minyam kernel, nikel, dan perak. Kondisi inilah yang kemudian memengaruhi kinerja neraca perdagangan Indonesia," kata Suhariyanto di gedung BPS, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Pada Oktober 2019, Suhariyanto menyampaikan nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 14,93 miliar, meningkat 5,92 persen dibandingkan September 2019 yang mencapai US$ 14,10 miliar. Ekspor nonmigas Oktober 2019 mencapai US$ 14,01 miliar, naik 5,56 persen dibanding September 2019 yang mencapai US$ 13,27 miliar. Sementara ekspor migas mencapai US$0,92 miliar, naik 11,58 persen dibandingkan September 2019 yang mencapai US$ 0,83 miliar.

Jika dibandingkan dengan Oktober 2018, kinerja ekspor Oktober 2019 mengalami penurunan 6,13 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari sampai Oktober 2019 mencapai US$ 139,11 miliar atau menurun 7,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 150,87 miliar. Sedangkan untuk ekspor nonmigas mencapai US$ 128,76 miliar atau menurun 5,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 136,72 miliar.

Sementara itu untuk nilai impor Oktober 2019 mencapai US$ 14,77 miliar, naik 3,57 persen dibandingkan September 2019 yang mencapai US$ 14,26 miliar. Impor nonmigas Oktober 2019 mencapai US$ 13,02 miliar, naik 2,73 persen dibanding September 2019 yang mencapai US$ 12,67 miliar. Sementara impor migas mencapai US$ 1,75 miliar, naik 10,26 persen dibandingkan September 2019 yang mencapai US$ 1,59 miliar.

Jika dibandingkan dengan Oktober 2018, kinerja impor Oktober 2019 mengalami penurunan 16,39 persen. Secara kumulatif, nilai impor Indonesia Januari sampai Oktober 2019 mencapai US$ 140,89 miliar atau menurun 9,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 156,44 miliar. Sedangkan untuk impor nonmigas mencapai US$ 123,28 miliar atau menurun 6,23 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai US$ 131,47 miliar.

"Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2019 mengalami surplus sebesar US$ 161,3 juta. Tetapi untuk periode Januari sampai Oktober 2019, neraca perdagangan kita masih mengalami defisit US$ 1,79 miliar. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami defisit US$ 5,58 miliar, angka defisit di tahun ini masih lebih kecil,” kata Suhariyanto.

Dari data BPS, peningkatan terbesar ekspor nonmigas Oktober 2019 terhadap September 2019 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 144,6 juta (8,24 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kapal, perahu, dan struktur terapung sebesar US$ 74,1 juta (86,68 persen). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari sampai Oktober 2019 turun 3,74 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 16,07 persen. Sementara ekspor hasil pertanian naik 3,40 persen.

"Menurut sektor, hanya pertanian yang mengalami kenaikan. Tetapi kontribusi sektor pertanian terhadap ekspor Indonesia hanya sekitar 2 persen, sehingga tidak terlalu berpengaruh. Yang memberi kontribusi terbesar justru sektor industri pengolahan sebesar 75,56 persen, tetapi sektor ini turun 3,74 persen,” terang Suhariyanto.

Untuk ekspor nonmigas Oktober 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,77 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,53 miliar dan Jepang US$ 1,24 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 39,55 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,22 miliar. Sedangkan menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari sampai Oktober 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 25,31 miliar (18,20 persen), diikuti Jawa Timur US$ 15,56 miliar (11,18%) dan Kalimantan Timur US$13,75 miliar (9,89 persen).

Sementara itu, Peningkatan impor nonmigas terbesar Oktober 2019 dibanding September 2019 adalah golongan mesin/peralatan listrik sebesar US$ 122,8 juta (7,26 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin/pesawat mekanik sebesar US$ 109,9 juta (4,65 persen).

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2019 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai US$ 36,32 miliar (29,46 persen), Jepang US$ 13,28 miliar (10,77 persen), dan Thailand US$ 7,92 miliar (6,42 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$ 24.343,6 (19,75 persen), sementara dari Uni Eropa US$ 10.214,1 (8,29 persen).

Untuk nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari sampai Oktober 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 8,31 persen; 11,19 persen; dan 4,94 persen.

"Jika melihat pergerakan neraca perdagangan setiap bulannya, di tahun 2019 ini neraca perdagangan kita cenderung flat. Kalau surplus angkanya kecil, kalau defisit juga kecil. Berbeda jauh dengan pergerakan di tahun 2018,” ujar Suhariyanto.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Jaloor Bantu UMKM Ekspor Produk ke Mancanegara Tanpa Ribet

Pelaku UMKM dipastikan dapat lebih mudah melakukan kegiatan ekspor melalui program pendampingan yang disediakan oleh Jaloor.

EKONOMI | 27 September 2021

Dekatkan Diri dengan Pelanggan, Lixil Resmikan Showroom di Pondok Indah

Showroom Lixil menghadirkan brand-brand unggulan dalam satu atap sekaligus mendekatkan diri dengan pelanggan Indonesia.

EKONOMI | 27 September 2021

Wagub Emil: Klinik Kekayaan Intelektual Dorong Daya Saing UMKM Jatim

Emil berharap, kehadiran Klinik Kekayaan Intelektual dapat lebih meningkatkan minat pelaku usaha dan UMKM di Jatim untuk mendaftarkan kekayaan intelektualnya.

EKONOMI | 27 September 2021

Bamsoet Dorong Penyelesaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Ketua MPR Bambang Soesatyo mendorong penyelesaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

EKONOMI | 27 September 2021

BI Proyeksikan Ekonomi Jakarta Tumbuh Hingga 4,4% di 2021

BI Perwakilan DKI memproyeksikan laju perekonomian DKI Jakarta sepanjang 2021 ini akan bertumbuh sekitar 3,6 hingga 4,4%. Hal ini didorong sejumlah faktor.

EKONOMI | 27 September 2021

KAI Dukung Integrasi Antarmoda di Jabodetabek

Integrasi antarmoda di kawasan Jabodetabek mempermudah masyarakat dalam mengakses sarana transportasi umum.

EKONOMI | 27 September 2021

KAI Gandeng PT Inti Implementasikan Train Control Monitoring System

Train control monitoring system (TCMS) merupakan sistem kontrol kereta terpusat untuk peralatan dan fasilitas kereta yang dapat dipantau secara realtime.

EKONOMI | 27 September 2021



Aliansi Pelayaran Nasional, Strategi Menhub Atasi Hambatan Ekspor

Menhub menegaskan, Indonesia SEA bertujuan agar perusahaan pelayaran nasional turut mengangkut kargo untuk pangsa pasar luar negeri atau ekspor.

EKONOMI | 27 September 2021


TAG POPULER

# Rocky Gerung vs Sentul City


# Update Covid-19


# Lionel Messi


# Kebakaran Lapas Tangerang


# SUN



TERKINI
Piala Sudirman 2021: Indonesia Tundukkan Kanada 3-2

Piala Sudirman 2021: Indonesia Tundukkan Kanada 3-2

OLAHRAGA | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings