Kopi Pemersatu Kamtibmas dari Kampung Mulyasari-Sukamakmur

Kopi Pemersatu Kamtibmas dari Kampung Mulyasari-Sukamakmur
Ilustrasi tanaman kopi. ( Foto: Antara )
Heriyanto / HS Sabtu, 16 November 2019 | 07:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - "Kopi merupakan pemersatu Kamtibmas, karena di setiap kegiatan positif di masyarakat hampir bisa dipastikan tersaji kopi sebagai hidangan," kata anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabikamtibmas) Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Brigadir Buana Adi Putra.

Begitulah filosofi kopi di mata pria berusia 30 tahun ini, ketika bertugas di desa terpencil dan terpelosok di Kabupaten Bogor, salah satu wilayah penyangga Ibu Kota Jakarta. Buana pertama kali menginjakkan kaki di kampung itu Juli 2017, menerobos kawasan hutan dengan menggunakan sepeda motor trail.

Buana, sapaan akrab ayah dua orang anak itu melihat potensi besar dari perkebunan kopi warga setempat dapat menggerakkan roda perekonomian. Bahkan Buana bermimpi untuk menjadikan ini sebagai desa teladan di Jawa Barat seperti Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah yang tadinya miskin menjadi desa makmur. "Caranya antara lain dengan mengembangkannya menjadi kampung wisata dengan kopi eco village," katanya dalam bincang dengan Antara baru-baru ini.

Mimpi ini agaknya sulit diwujudkan karena kampung ini memiliki segudang persoalan, seperti ketiadaan sarana prasarana pendidikan, akses jalan, aliran listrik, tidak memiliki dokumen kependudukan, akte kelahiran, buku nikah, hingga susah sinyal.

Buana, polisi lulusan Diktuba Polri 2007 ini, menerima tugas sebagai takdir Tuhan sehingga dijalaninya dengan ikhlas, termasuk mengajar anak-anak kampung hingga menjembatani sejumlah donatur dan relawan masuk wilayah tersebut.

Setiap tiga kali dalam sepekan, Buana mengajar Bahasa Inggris dengan mengandalkan fasilitas madrasah dengan sarana dan prasarana seadanya yang dikelola oleh salah seorang ustadz di kampung itu. Meski cuma bahasa dasar seperti nama buah-buahan, benda dan peralatan, metode ini dilakukannya agar anak-anak di desa tersebut memiliki motivasi belajar.

Terpencil dan Tertinggal
Kampung ini berjarak 25 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong, akses jalan hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Kampung ini berdiri pada 2011 dan terbentuk dari masyarakat Kampung Gunung Sanggar yang eksodus karena kampungnya hilang diterjang longsor dengan jumlah penduduk sekitar 60 kepala keluarga (KK) atau sekitar 285 jiwa, bermukim dalam satu rukun tetangga.

Suami dari Dini Maryani (25) ini berupaya kehadirannya dapat membantu menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi warga Kampung Mulyasari yang minim sentuhan program pemerintah.
Hampir dua tahun berjalan, kondisi warga di Kampung Mulyasari mulai terkikis dari kata terisolir, kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas jauh pun sudah lebih baik.

Adanya tenaga pengajar tetap dan tersalurkannya dana Program Indonesia Pintar (PIP) kepada anak-anak kelas jauh Mulyasari, walau belum semua anak-anak memiliki Nomor Induk siswa nasional (NISN). "Tapi dari sektor infrastruktur, belum ada bangunan sekolah formal di Kampung Mulyasari, yang biasa digunakan untuk KBM formal (non pesantren) dulunya dijadikan madrasah. Itu pun bangunannya kecil. Jadi, anak-anak kalau belajar masih lesehan di kelas tanpa bangku dan meja," kata Buana.

Baca : Kopi Petani Mulyasari Makin Diminati, Ada Uang Sosial dari Penjualan

Hidup sederhana tanpa listrik pernah dilalui warga, mengandalkan penerangan dari turbin kecil dan kincir angin yang dibuat seadanya. Kegiatan sosial yang dilakukan Buana dan diunggahnya ke media sosial serta saluran Youtube membuka mata publik tentang keberadaan Mulyasari.

Buana mengatakan dengan hadirnya listrik di Kampung Mulyasari, rasa kepercayaan masyarakat setempat terhadap pemerintah desa dan daerah semakin meningkat. Padahal sebelumnya, sudah hampir delapan tahun warga di kampung hidup gelap gulita.

Polisi muda ini juga menemukan dugaan penyalahgunaan program pemerintah bantuan desa tertinggal (BDT) disinyalir menjadi salah satu faktor yang menghambat pembangunan di kampung itu. Selain listrik, saat ini juga sudah mulai berjalan program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Program Keluarga Harapan (PKH).

Uniknya, meski sudah berlistrik, warga yang mayoritas Muslim tetap menganut prinsip filosofi setempat yaitu Pancaniti atau lima tahapan menuju kesempurnaan. Salah satunya, mewajibkan kepada warga dan para tamu untuk menghentikan aktivitas serta ikut shalat berjamaah di masjid, budaya mengaji dan menghafal Alquran bagi para santri seusai shalat Dzuhur, Ashar dan Magrib.