Kopi Petani Mulyasari Makin Diminati, Ada Uang Sosial dari Penjualan

Kopi Petani Mulyasari Makin Diminati, Ada Uang Sosial dari Penjualan
Ilustrasi budi daya tanaman kopi. ( Foto: ANTARA FOTO )
Heriyanto / HS Sabtu, 16 November 2019 | 07:37 WIB

Jakarta, Beritsatu.com - Mayoritas penduduk Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor ini berprofesi sebagai petani kopi dan bekerja serabutan. Mereka juga menanam padi, kapulaga, pisang dan cengkeh. Kehidupan warga bersandar pada hasil perkebunan dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 1,5 juta per bulan.

Buana melihat ada potensi besar dibalik keterbatasan yakni perkebunan kopi yang sudah puluhan tahun dijalani tapi produksi stagnan karena minim fasilitas dan akses seperti pengetahuan tentang menanam dan memanem kopi.
Karenanya, secara otodidak, Buana mengembangkan kopi luwak Pancaniti dengan Kelompok Tani (Poktan) Hutan Inagroita bentukannya. Kelompok tani beranggotakan 53 orang, menanam kopi di lahan seluas kurang lebih 25 hektare.

Mereka selama puluhan tahun terbiasa bertani kopi secara konvensional tanpa pengembangan pengetahuan dan sejak kelompok tani dibentuk baru mau dan mulai belajar petik merah atau sortir merah selektif. Buana juga melatih diri, memasarkan kopi produksi petani ke beberapa gerai kopi di Kota Bogor, tujuannya satu, mendorong perekonomian masyarakat kampung binaannya.

Produk kopinya di antaranya Kopi Luwak Pancaniti, kopi berasal dari kotoran luwak liar yang dikumpulkan secara swadaya oleh masyarakat. Kopi tersebut sudah dinilai seorang pakar kopi dan terpajang di salah satu rumah kopi di Bogor dengan predikat Grade A Internasional.

Mereka menanam dua jenis kopi yakni Arabika memiliki karakter kopi sedikit asam, beraroma buah segar, kafein sedikit lebih wangi dan Robusta dengan karakter kopi cenderung pahit, beraroma kacang-kacangan, cokelat karamel, tinggi kafein dengan aroma lebih lembut.

Baca : Kopi Pemersatu Kamtibmas dari Kampung Mulyasari-Sukamakmur

Ia mengatakan jenis kopi yang diproduksi kelompok taninya, Arabika tiga persen karena belum ada peremajaan dan pembibitan baru dan Robusta 97 persen. Kedua jenis kopi cocok ditanam untuk konservasi. Kategori untuk robusta yang baik bernama fine robusta, kategori arabika yang baik bernama specialilty Arabica.

"Alhamdulillah kopinya ternyata uenakkk.., diuji sama Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia) Jember nilai uji cita rasa masuk kategori fine robusta nilai di atas 80," kata Buana.

Beberapa gerai kopi di Kota Bogor sudah bermitra dengan kelompok tani binaan Buana, mulai rutin dikirim 50 kg biji kopi merah setiap bulannya. Produksi kopi petani cuma bisa satu kwintal per bulan, sedangkan kopi luwak produksi greenbeen 12 kg per bulan. Pernah di acara Asian Games 2018, kopi luwak produksi petani Mulyasari dibeli oleh salah satu atlet Paralayang dari China seharga 87 dolar AS dan mereka membeli lima bungkus sehingga total harganya Rp 1,2 juta. Mereka semakin percaya diri ketika atlet internasional tersebut menyukai kopi luwak produksi kelompok tani binaannya dan terus meningkatkan kualitas serta produktivitas petani.

Ia juga tidak lupa untuk menyisihkan hasil penjualan kopi setiap satu pak Rp 5.000 untuk kas kelompok. Hal itu karena kelompok yang dibinanya belum ada pengelola keuangan untuk kas kelompok untuk keperluan sosial.

Buana mengatakan pembinaan yang dilakukannya mulai dari pembentukan kelompok tani, edukasi peraturan perundangan yang berkaitan dengan kelompok tani, hak dan kewajiban masyarakat yang tinggal di areal kawasan hutan, edukasi petik kopi merah dan pengelolaan kopi supaya lebih bagus hasilnya.

Koperasi
Kampung ini hanya memiliki satu kelompok tani yakni Poktan Inagroita dibina langsung oleh Buana. Beberapa kendala masih dihadapi para petani yakni tidak ada koperasi yang menaungi kelompok tani baik di tingkat maupun kecamatan dan desa, kurangnya tenaga penyuluh pertanian lapangan. Juga, kurangnya pembinaan dari Babinsa/Bhabimkamtibmas sehingga tidak ada pengetahuan tentang upaya kesadaran hukum dari masing-masing poktan terkait pengelolaan areal kawasan perkebunan ataupun pertanian.

Untuk itu, Buana dan Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Bogor, rutin memberikan edukasi pelatihan mengenai cara berkebun kopi hingga mengelola kopi dengan baik.
"Misi saya menjadikan kopi yang dihasilkan dari kampung ini memiliki kualitas cita rasa nilai jual yang meningkat dan mudah diterima oleh restoran, kafe dan hotel," kata Buana seperti dilansir Antara baru-baru ini.

Pengabdian Buana ini membuatnya diganjar sejumlah penghargaan pada 2018 lalu. Di antaranya juara pertama Bhabinkamtibmas terbaik versi Korem 061/Suryakancana, Bhabinkamtibmas teladan tingkat Kabupaten Bogor, juara pertama lomba Bhabinkamtibmas tingkat Polda Jawa Barat, Bhabinkamtibmas terbaik tingkat Polres Bogor, personel Polri yang memiliki predikat dan dedikasi tinggi dalam rangka Pilpres. Kemudian, penghargaan di tahun ini adalah nominasi Polisi Teladan tingkat Mabes Polri, serta Binmas Pioneer Polri.

Agaknya, jika hidup adalah pilihan, Buana memilih tetap menjadi Polisi, baginya Polisi adalah harga mati. Karena semua pencapaian yang diraihnya adalah karena dirinya seorang polisi.

Tanpa disadari, kehadirannya bisa dikatakan sebagai polisi pahlawan di era kekinian karena perannya, juga sebagai pengajar dan pembina kelompok tani. Semuanya punya kedekatan dengan masyarakat. Sama-sama saling berkaitan dengan tujuan sama yakni turut membangun masyarakat Negara Republik Indonesia dengan perspektif yang luas.

"Ketika menjadi polisi, sama seperti polisi yang lainnya, di mana kita berada harus dapat berbuat menjadi bermanfaat bagi masyarakat. Tinggal bagaimana caranya kita bisa bermanfaat bagi masyarakat itu," kata Buana.