Bu Dewi, Menyulap Desa Terbelakang Jadi Destinasi Wisata

Bu Dewi, Menyulap Desa Terbelakang Jadi Destinasi Wisata
Songket saah satu andalan penjualan warga Desa Burai Ogan ilir Sumsel. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 21 November 2019 | 09:32 WIB

Ogan Ilir, Beritasatu.com - Satu dekade lalu Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan tergolong terbelakang. Banyak warganya yang belum memiliki WC, sehingga kegiatan mandi cuci kakus (MCK) dilakukan di Sungai Kelekar yang membelah kampung. Apalagi infrastruktur akses menuju desa ini tergolong minim.

Namun secara perlahan Desa Burai berbenah. Kepala desa mengomandani warganya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan, kebersihan hingga bergeraknya sektor riil. Hingga pada 2015 Desa Burai mengikuti Lomba Desa untuk pertama kalinya di tingkat kabupaten. Hasilnya tidak disangka, menyabet juara pertama. Pada 2016 Desa Burai ikut Lomba Desa tingkat provinisi, dan hasilnya tidak mengecewakan dengan meraih juara dua. "Lomba Desa menilai sejumlah aspek mulai tata kelola pemerintahan, kesehatan, lingkungan hingga pemebedayaan warga dan karang taruna," kata Pelaksana harian (Plh) Kades Burai M Tafdil ditemui sejumlah media di Desa Burai, Ogan Ilir, Rabu (20/11/2019).

Serentetan prestasi ini membuat Desa Burai mendapat perhatian. Alhasil akses jalan desa diperbaiki dan menjadi tuan rumah bidar mini (dayung) tingkat kabupaten pada 2016. Pada tahun yang sama juga, Burai dijadikan sebagai desa warna warni. Perhatian juga diberikan PT Pertamina EP yang ingin mewujudkan potensi menjadi nilai tambah bagi aspek wisata Sumsel, dengan membuat program CSR, Bu Dewi (Burai Desa Wisata). Bersinergi dengan pemerintah Kabupaten Ogan Ilir, perusahaan merancang rencana strategis dengan sebelumnya melakukan observasi dan penelitian terkait Burai.

pertamina

Pondok migas Pertamina EP Asset 2.

Prabumulih Field CSR Staff Erwin Hendra Putra mengatakan, program terdiri dari tiga pilar. Pertama peningkatan infrastruktur sarana serta pendampingan SDM kelompok masyarakat untuk dapat mengelola Burai sebagai destinasi wisata mandiri. Pembangunan tersebut meliputi establishment Kampung Warna-Warni, pembuatan spot wisata selfie, pembangunan Saung wisaya, pembangunan rumah galeri produk khas Burai, pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis), pendampingan kesenian tari Beumme. "Kami juga mendorong fasilitas wisata air mulai kolam snorkling, ban berendam hingga berkeliling susur sungai. Kami coba mengaplilasikan wisata di Goa Pindul dan Unggul Ponggok di Yogyakarta," kata Erwin Hendra Putra.

Pilar kedua terkait kelompok usaha panganan. Pengolahan Makanan Berbahan Dasar Daging, Kulit, dan Tulang Ikan Berbasis Zero Waste, yaitu program peningkatan usaha kecil dan menengah khususnya pengolahan ikan yang merupakaan potensi Desa Burai.

Pilar ketiga adalah usaha kerajinan. Pemberdayaan Kelompok Pengrajin Purun Bebasis Lingkungan, yaitu memanfaatkan potensi Desa Burai yang kaya akan Purun. Purun sendiri adalah tanaman rumput gambut yang kerap menjadi kambing hitam kebakaran hutan dan lahan. "Dengan inovasi, komoditas ini digunakan sebagai bahan dasar kerajinan anyaman yang dapat diolah menjadi tikar, tas, sandal, tempat tisu, tempat sampah, hingga topi," kata Erwin Hendra Putra.

burai

Destinasi wisata air Burai, Ogan Ilir, Sumsel.

Masih di pilar ketiga, yaitu Program Pemberdayaan Masyarakat Pengrajin Songket Khas Burai yang meliputi pendampingan dan pelatihan kelompok pengrajin songket yang memiliki kemampuan menenun songket dengan sangat baik, dengan pengembangan motif dan pemasaran.

Salah satu wadah pemasaran yang efektif adalah dengan mengikutsertakan dalam pameran, serta dengan dibangunnya galeri produk khas Burai bisa menjadi tempat pemasaran yang cukup efektif bagi wisatawan yang mengunjungi Desa Burai. "Sudah banyak wisatawan asing yang ke sini mulai dari Singapura, Jerman dan Malaysia," kata Erwin Hendra Putra.

Ndirga Andri Sisworo, Asset 2 Prabumulih Field Manager menyampaikan, program Bu Dewi yang telah memperoleh penghargaan The Best Nusantara CSR Awards 2019 by LaTofi School of CSR ini diharapkan bisa mengubah kehidupan local community di desa yang sebelumnya tertinggal, terpencil menjadi desa yang bergairah dan berdaya. "Seirama dengan tujuan utama program ini, yaitu untuk mendongkrak dan meningkatkan citra desa Burai sebagai destinasi wisata di kabupaten Ogan Ilir, dalam peningkatan pariwisata daerah," kata Ndirga Andri Sisworo.

Dengan semakin menanjaknya popularitas Desa Burai, diharapkan program ini mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk kemajuan daerah terutama bidang pariwisata. Sehingga lebih banyak lagi penggemar traveling berkunjung dan menjadikan Sumsel sebagai salah satu destinasi domestik yang indah. "Keberhasilan program menjadi kebanggaan perusahaan serta sebagai wujud partisipasi peran dalam memberikan additional value bagi masyarakat," kata Ndirga Andri Sisworo.



Sumber: BeritaSatu.com