BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5%

BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5%
Perry Warjiyo. (Foto: Antara / Galih Pradipta)
Triyan Pangastuti / MPA Kamis, 21 November 2019 | 16:15 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan BI 7-day reverse repo rate pada November 2019, dengan suku bunga acuan BI berada di level 5%. Kemudian BI juga menahan suku bunga deposit facility dan lending facility dengan masing-masing sebesar 4,25% dan 5,75%.

Langkah penahanan suku bunga acuan merupakan pertama kali sejak BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali atau sebesar 100 bps (1%) dari bulan Juli hingga Oktober.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa keputusan menahan suku bunga acuan mempertimbangkan perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya 3% tahun ini. Hal ini dipengaruhi ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok.

Ketegangan perdagangan di kedua negara berdampak pada tekanan ekspor sehingga berdampak pada permintaan domestik yakni untuk investasi non-resident dan konsumsi rumah tangga.

“Kinerja pertumbuhan ekonomi di Eropa, Jepang, India dan banyak negara mengalami tekanan. Pelonggaran kebijakan moneter penurunan suku bunga dan ekspansi bank sentral belum mampu cegah perlambatan ekonomi dunia. Hal ini turut mempengaruhi aliran modal asing ke negara berkembang termasuk Indonesia” uajrnya dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (21/11/2019).

Dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan penguatan ekonomi domestik, BI juga memutuskan untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin (bps) untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah serta unit usaha syariah.

Ketentuan penurunan GWM ini akan berlaku efektif pada 2 Januari 2020 dan ditempuh untuk menambah likuiditas perbankan dan meningkatkan pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi.

"Sehingga masing-masing tercatat 5,5% dan 4%. Kebijakan ditempuh guna menambah ketersediaan likuidiitas perbankan tingkatkan pembiayaan dan dukungan pertumbuhan ekonomi” jelasnya.

Sementara dari dalam negeri, bank sentral nasional memperhitungkan sejumlah indikator. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% pada kuartal III 2019.

Dia mengatakan konsusmi rumah tangga masih terjaga sehingga dapat menopang daya tahan ekonomi nasional, lantaran dukungan kebijakan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Begitu pula dengan proyek infrastruktur, khususnya dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Kendati begitu, ekspor dan impor masih cukup tertekan. Tetapi ia meyakini pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik pada kuartal IV 2019. Secara keseluruhan, pertumbuhan diperkirakan mencapa 5,1%.

Kedua, neraca pembayaran kuartal III 2019 yang diperkirakan membaik, sehingga menopang ekonomi di tengah tekanan eksternal. Meski begitu, secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia diperkirakan surplus ditopang oleh aliran modal asing.

Ketiga, posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$ 126,7 miliar. Jumlah ini setara pembiayaan 7,1 bulan impor dan di atas kecukupan internasional. Keempat, nilai tukar rupiah terapresiasi sebesar 2,03% dari awal tahun hingga akhir November 2019.

“Penguatan rupiah didukung pasokan valas dari eksportir dan aliran inflow belanjut didorong prospek ekonomi Indonesia terjaga dan daya tarik pasar keuangan besar dan ketidakpastian pasar keuangan global mereda” jelasnya.

Untuk kondisi nilai tukar rupiah ke depan, Perry memastikan rupiah akan stabil bergerak sesuai fundamental dan mekanisme pasar terjaga. Hal ini ditopang oleh Neraca Pembayaran Indonesia dan aliran modal asing yang deras masuk ke Indonesia.

Kemudian kondisi inflasi cukup stabil di 0,02% secara bulanan dan 3,13% secara tahunan pada Oktober 2019. Perkiraannya, inflasi berada di bawah titik tengah target sebesar 3,5% plus minus 1% pada 2019



Sumber: Investor Daily