Cegah ASF Merebak, Prisma dan Pemkab Belu Gelar Sosialisasi

Cegah ASF Merebak, Prisma dan Pemkab Belu Gelar Sosialisasi
Sosialisasi mencegah African Swine Fever (ASF) oleh Pemkab Belu-NTT dan Prisma di Belu, NTT.
Heriyanto / HS Minggu, 24 November 2019 | 11:00 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Prisma (Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture) melakukan sosialisasi soal African Swine Fever (ASF) atau virus demam (flu) babi. Para peternak dan pihak-pihak terkait diharapkan bisa memperluas informasi dan upaya pencegahan atas wabah tersebut.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (22/11) menyebutkan bahwa sosialisasi itu dilakukan di Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto, yang terletak berbatasan dengan negara Timor Leste. Kegiatan yang digelar pada Jumat pekan sebelumnya itu diikuti 125 perwakilan peternak dari Desa Tulakadi, Silawan, Asumanu, Maumutin, Tohe, Kenebibi, Dualaus, Fohoeka dan Nanaenoe.

Selain para peternak, hadir juga beberapa kepala desa, camat, petugas Karantina Motaian, para kepala resort peternakan, petugas veteriner dan paramedik serta jajaran TNI-Polri (Babinsa dan Babinkamtibmas).

Kegiatan tersebut dibuka Amandus Linci selaku Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Belu. Amandus menyampaikan pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah cepat dalam penanganan pencegahan penyebaran ASF. Salah satunya dengan menerbitkan instruksi Bupati Belu No. Dinas PKH.524.3/537/X/2019, lalu bersama Balai Besar Veteriner Denpasar melakukan surveilance dengan mengambil sampel darah babi di beberapa desa di Kabupaten Belu. “Selain itu, berkoordinasi dengan para camat dan kepala desa untuk melakukan sosialisasi bagi masyarakat. Kali ini bersama dengan Prisma melakukan sosialisasi di desa-desa yang berbatasan dengan Timor Leste,” jelasnya.

Salah seorang petani yang hadir dalam kesempatan itu berharap wabah ASF tidak merebak. Untuk itu, setelah sosialisasi akan mengajak rekan-rekannya guna melakukan antisipasi sehingga dampak negatif bisa diminimalisir. Jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini maka bisa berdampak pada ratusan hingga ribuan ekor babi sebagaimana yang dilihatnya melalui media di Sumatera Utara.

Pada kesempatan itu, jajaran Prisma yang dipimpin Joel Tukan juga menyerahkan berbagai media sosialisasi berupa spanduk, poster, flyer, dan stand banner. Hal itu sebagai langkah awal kepada peternak sehingga bisa melakukan budi daya yang baik dan benar.

“Media komunikasi tersebut sangat penting untuk disebar ke masyarakat. Bagi pihak-pihak yang menyebar informasi itu juga diharapkan membangun dialog informal dengan sesama rekan peternak lainnya. Dengan demikian ada pemahaman yang bisa diberikan secara mendalam,” jelasnya.

Pakar peternakan babi Institut Pertanian Bogor (IPB) Parsaoran Silalahi menilai wabah ASF yang semakin merebak beberapa sentra peternakan babi di Indonesia belum mendapat perhatian serius. Adapun beberapa langkah yang dilakukan saat ini lebih berifat “memadam kebakaran” dan belum secara komprehensif untuk melakukan pencegahan. Untuk itu, langkah Pemkab Belu dan Prisma perlu diduplikasi dan diperluas kepada berbagai pihak yang terkait.

“Langkah-lamgkah emergency saat ini perlu diintensifkan. Namun, harus ada upaya yang lebih menyeluruh dan tidak sekadar mengatasi persoalan jangka pendek. Sumatera Utara sudah tidak terkendali dan kita perlu mencegah daerah-daerah lain tidak seperti itu,” ujar pria yang mendalami peternakan babi di Perancis dan Taiwan ini.

Untuk diketahui, Prisma merupakan program multi tahun di bawah Australia-Indonesia Parthnership for Rural Economic Development (AIP-Rural). NTT merupakan provinsi dengan jumlah ternak babi terbanyak dan perlu penanganan budidaya yang lebih profesional.