BI Lakukan Bauran Kebijakan untuk Jaga Stabilitas Rupiah

BI Lakukan Bauran Kebijakan untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Dari kiri ke kanan, moderator Onny Widjanarko (Kepala Departemen Komunikasi BI), M Edhie Purnawan (anggota BSBI), dan A Prasetyantoko (Rektor Unika Atma Jaya) dalam acara Forum Diskusi Akademisi di Seminyak, Bali, Senin, 25 November 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Senin, 25 November 2019 | 19:17 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Pasal 7 Ayat UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) menyebutkan, tujuan BI adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, pada tahun ini BI melaksanakan bauran kebijakan.

Demikian dikemukakan Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko saat menjelaskan terkait pelaksanaan peran, tugas, dan fungsi BI serta komunikasi kebijakan BI di Forum Diskusi Akademisi di Seminyak, Bali, Senin (25/11/2019). “Bauran kebijakan yang telah diramu sedemikian rupa untuk memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar jelas Onny Widjanarko.

Forum Diskusi Akademisi yang dilegar Departemen Komunikasi BI tersebut dihadiri 30 orang perwakilan akademisi dan pimpinan (FE, FH, dan FISIP) dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (PTN/PTS) dari seluruh Indonesia. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah forum diseminasi peran, tugas, dan fungsi BI serta komunikasi kebijakan BI kepada pemangku kepentingan (stakeholders) akademisi dan pimpinan perguruan tinggi yang menonjol/terkemuka (prominent).

Dari forum dialog tersebut diharapkan masukan, umpan balik, dan kritik dari akademisi terhadap efektivitas pelaksanaan peran, tugas, dan fungsi BI serta komunikasi kebijakan BI. Selain Onny Widjanarko, hadir pula sebagai narasumber M Edhie Purnawan (Anggota Badan Supervisi BI), dan A Prasetyantoko (Rektor/Ekonom Unika Katolik Atma Jaya Jakarta).

M Edhie Purnawan (anggota BSBI) menjelaskan bahwa Badan Supervisi BI (BSBI) merupakan “tangan kanan” DPR untuk memberikan supervisi terhadap peran, tugas, dan fungsi BI. Selanjutnya, Edhie menjelaskan pentingnya ekonomi digital dalam perekonomian, termasuk dalam tugas dan fungsi BI.

Dalam era saat ini, peran ekonomi digital (digitalisasi) menjadi hal yang penting dan tuntutan dalam setiap kegiatan sektor perekonomian. “BCA dan BRI merupakan contoh perbankan yang melakukan investasi yang signifikan untuk digitalisasi," ujar Edhie.

Di masa mendatang BI diharapkan juga meningkatkan tingkat digitalisasi untuk mengambil keputusan dalam rangka kebijakan moneter.

Sementara, A Prasetyantoko (Ekonom Unika Atma Jaya Jakarta) mendukung peran BI dalam kegiatan perekonomian daerah. “Keterlibatan BI atau Kantor Perwakilan BI dalam forum eksportir merupakan salah contoh peran dalam mendukung perekonomian di daerah," kata A Prasetyantoko.

Di samping itu, juga dijelaskan mengenai “slowbalization” di mana perekonomian dunia dalam kondisi menurun (slowdown), setidaknya dalam kurun 3 waktu terakhir. Kondisi tersebut tentu mempengaruhi perekonomian Indonesia, termasuk prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 yang sekitar 5%.

Menurut salah satu peserta Forum Dialog Akademisi, Y Sri Susilo (Kaprodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FBE UAJY/Atma Jogja), kegiatan forum dialog ini penting bagi akademisi.

“Akademisi dapat berkontribusi langsung dalam memberikan saran dan pendapat terkait dengan efektivitas pelaksanaan peran, tugas, dan fungsi BI serta komunikasi kebijakan BI," ujarnya.

Selanjutnya Suparmono (Ketua STIM YKPN) menambahkan kegiatan forum semacam ini harus dilakukan rutin dan berkesinambungan.



Sumber: Suara Pembaruan