MRT Jakarta Bersiap Melantai di Bursa pada 2022

MRT Jakarta Bersiap Melantai di Bursa pada 2022
Ribuan orang memadati moda raya terpadu (MRT) pada hari ketiga liburan Idulfitri, Jumat (7/6/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Bernardus Wijayaka )
/ WBP Rabu, 27 November 2019 | 19:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT MRT Jakarta mempersiapkan diri untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau initial public offering (IPO) pada 2022 apabila perusahaan mampu menjaga kinerja positif.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar dalam paparannya yang bertajuk “MRT Jakarta: Mengawal Keberlanjutan” di Jakarta, Rabu (27/11/2019) menjelaskan IPO bisa dilakukan pada 2022 apabila pada 2021 perusahaan bisa membayar dividen kepada pemegang saham.

“Pada 2021 komitmen kami mulai membayar dividen, kami akan lihat, kami akan bagi mana dana pengembangan, mana dana dividen sehingga kalau tiga tahun (2019-2021) ini berturut-turut dijaga keuangan kami seperti ini, pada 2022 kami mengusulkan IPO,” kata William Sabandar.

William menyebutkan pada tahun pertama pengoperasian MRT, yakni sejak April hingga Desember 2019, pihaknya optimistis membukukan laba bersih Rp 60-70 miliar dan pendapatan Rp 1 triliun dengan biaya operasional Rp 940 miliar. Pendapatan itu ditopang non-tiket (non-farebox) Rp 225 miliar, sementara tiket (farebox) Rp 180 miliar.

Dari pendapatan non-tiket itu, kontribusi paling besar yakni periklanan 55 persen, hak penamaan stasiun (naming rights) 33 persen, telekomunikasi dua persen dan retail serta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) 1 persen.

Ia mengatakan, apabila pendapatan dari nontiket ini terus ditingkatkan, pendapatan dan laba akan terdongkrak sebagaimana yang ditargetkan, yakni laba bersih Rp 200-250 miliar pada 2021 dan Rp 300-350 miliar pada 2022. “Ini sebuah terobosan, ini yang harus dijaga supaya perusahaan sehat, memberikan layanan yang premium karena dengan begitu kami akan mendapatkan bisnis yang premium,” kata William Sabandar.

Selain itu, lanjut William, pada 2021 pihaknya juga mulai mengelola Kawasan Berbasis Transit (Transit Oriented Development/TOD) yang bisa menambah pendapatan dengan potensi per tahun Rp 242 triliun di lima kawasan, yakni Dukuh Atas, Istora Senayan, Blok M, Fatmawati dan Lebak Bulus.

Dia menambahkan selain untuk membayar dividen, juga untuk subsidi silang guna menurunkan nilai subsidi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di mana sepanjang 2019 mencapai Rp 560 miliar.

“Pada saat kami menyetor dividen di sini, dari Rp 300 miliar laba, katakanlah Rp 100 miliar ini untuk dividen, ini yang bisa dipakai untuk cross-subsidizing, penurunan nilai subsidi dari pemerintah. Mengurangi subsidi bisa, tapi kami tunggu sampai keuntungan bisa untuk bayar dividen,” ujar William Sabandar.

Dana IPO, kata William, juga digunakan untuk pengembangan MRT Jakarta yang ditargetkan panjang lintasan terbangun, 230 kilometer pada 2030 dari yang saat ini 16 kilometer.

“Kami tidak bisa mengandalkan pinjaman G to G (antarpemerintah), kami harus membuka opsi lain, salah satunya menggunakan dana publik karena kami harus dapat 230 kilometer pada 2030,” kata William Sabandar.

Selain IPO, ia menambahkan, tidak tertutup kemungkinan perseroan menerbitkan surat utang atau obligasi, pemanfaatan nilai kawasan (land value capture), pinjaman langsung (direct landing sovereign) dan export credit facility.

 



Sumber: ANTARA