Pendapatan Pelita Samudera Tumbuh 22% per Oktober 2019

Pendapatan Pelita Samudera Tumbuh 22% per Oktober 2019
Kika: Adi Harsono selaku Komisaris Independen, Iriawan Alex Ibarat selaku Direktur Utama dan Imelda Agustina Kiagoes selaku Sekretaris Perusahaan saat memaparkan prospek bisnis jasa angkutan laut di Jakarta, 26/6/2019. (Foto: Istimewa / Mashud Toarik)
Mashud Toarik / MT Kamis, 28 November 2019 | 08:04 WIB

Jakarta, Beritsatu.com – Emiten jasa angkutan laut, PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) melaporkan perolehan pendapatan sebesar US$62,7 juta per Oktober 2019. Angka ini menunjukan pertumbuhan sebesar 22% dibanding pendapatan pada Oktober 2018 yang tercatat US$51,3 juta.

Sekretaris Perusahaan PSSI, Imelda Agustina Kiagoes menyampaikan, pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh Pendapatan Sewa Berjangka (time charter) yang mengalami kenaikan signifikan sebesar 253% per 31 Oktober 2019.

“Kenaikan Pendapatan Sewa Berjangka tertinggi dari segmen MV diikuti segmen Floating Loading Facility (FLF) dan TNB,” paparnya sebagaimana dikuitip dari keterangan tertulisnya, Kamis (28/11/2019).

Menurutnya, pada tahun 2019 PSSI memang tengah fokus memperluas pangsa pasar, melakukan ekspansi armada di kapal kargo curah (Mother VesselMV) dan Kapal Tunda dan Tongkang (TNB) juga peningkatan profitabilitas marjin. “Atas pencapaian itu Perseroan optimistis target 2019 akan tercapai,” imbuhnya.

Sementara itu, PSSI mencetak kenaikan Laba Bruto sebesar 25% per 31 Oktober 2019 menjadi US$16,1 juta dari US$12,9 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lini bisnis TNB tercatat menyumbang 50% dari Total EBITDA, diikuti FLF sebesar 32% dan lini bisnis terbaru MV sebesar 18%.

Sampai dengan Oktober 2019, komposisi kontrak jangka panjang untuk FLF sudah mencapai 90% dan 10% spot basis. Sedangkan kontrak jangka panjang untuk TNB mencapai 75% dan 25% spot basis.

Dari sisi capex, Perseroan telah membelanjakan US$45,8 juta sampai dengan Oktober 2019 dari total target anggaran belanja modal 2019 sebesar US$61,3 juta. Realisasi capex sebesar 75% ini sebagian besar untuk pembelian 4 unit kapal MV, 1 unit tugboat dan 2 unit tongkang sebagai bagian dari program ekspansi armada. Perseroan mencatat peningkatan Aset sebesar 28% menjadi US$140,6 juta per 31 Oktober 2019 dari US$110,1 juta per 31 Desember 2018.

Terdapat keuntungan penjualan 1 FLF di September 2018 sebesar US$7,6 juta yang berkontribusi terhadap tingginya laba bersih sebesar 19% per Oktober 2018 dibandingkan Oktober 2019. Laba Bersih per 31 Oktober 2019 sebesar US$9,2 juta.

“Kinerja operasional tetap solid, disamping ekspansi armada yang berkelanjutan, Perseroan terus berinisiatif dalam memonitor penghematan biaya, diantaranya perbaikan dan pemeliharaan kapal (docking) yang dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat dari yang ditargetkan. Utilisasi kapal yang tinggi di rata-rata 94% sampai akhir Oktober 2019,”urainya.

Adapun struktur permodalan dikatakannya terjaga dengan baik, tercermin dari Rasio Hutang terhadap Aset (Debt to Asset Ratio) dan Rasio Hutang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio) sebesar 30% dan 50% per 31 Oktober 2019, sedikit mengalami kenaikan dari periode yang sama tahun lalu, dengan adanya pinjaman bank dari Citibank dan ICICI yang sebagian besar digunakan untuk ekspansi armada kapal.

Current Ratio mengalami penurunan menjadi 0.81 dari 2.22 dengan adanya pembayaran armada MV dan pinjaman bank jangka pendek dari Citibank. Jumlah Ekuitas meningkat sebesar 18% per 31 Oktober 2019 menjadi US$84,6 juta dari US$71,7 juta per 31 Desember 2018 dengan kenaikan Saldo Laba (Retained Earnings) sebesar 30%, kenaikan modal saham dan tambahan modal disetor masing-masing sebesar 6% dan 144% dengan adanya penerbitan saham baru melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.



Sumber: Majalah Investor