Tak Hanya Pendampingan, BI Juga Ikut Benahi Manajemen UMKM

Tak Hanya Pendampingan, BI Juga Ikut Benahi Manajemen UMKM
Para peserta diskusi terbatas yang diselenggarakan ISEI Cabang Yogyakarta di sebuah warung makan di Yogyakarta, Sabtu, 30 November 2019. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Sabtu, 30 November 2019 | 20:17 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) oleh Bank Indonesia (BI) dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. BI melakukan pendekatan klaster wirausaha atau pendekatan local economic development (LED).

Dari sektor hulu, BI tidak hanya melakukan pendampingan dan pembinaan, tetapi juga memperbaiki manajemen administrasi dan tata kelola serta melatih kewirausahaan. “Di sektor hilir, BI juga memberikan akses pembiayaan dan akses pasar menggunakan digital hopefully, sehingga masuk ke pasar yang lebih prospektif, yakni go digital,” ujar Kepala Departemen UMKM dan Perlindungan Konsumen BI, Budi Hanoto.

Hal itu dikatakan Budi dalam diskusi terbatasa yang dilakukan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta sammbil makan siang di sebuah warung makan di Yogyakarta, Sabtu (30/11/2019). Selain Budi, diskusi juga dihadiri dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta, Y Sri Susilo yang juga Sekretaris ISEI Yogyakarta dengan moderator Amiluhur Soeroso (pengurus ISEI Yogyakarta).

Budi Hanoto mengatakan, salah satu hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang dilakukan pada 20-21 November 2019 adalah mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,00%. “Pemangkasan suku bunga acuan BI yang cukup signifikan tersebut belum diikuti oleh suku bunga kredit perbankan,” kata Budi.

Disebutkan, belum menurunnya suku bunga kredit perbankan terkait juga dengan likuditas perbankan. Di tengah likuiditas perbankan yang sedang seret seperti saat ini, sudah pasti perbankan tak mau ambil risiko dengan langsung menurunkan bunga kredit.

Budi juga mengatakan, agar terwujud akselerasi kapasitas usaha dan perluasan pasar produk UMKM, termasuk pasar ekspor (go export), maka BI memberikan fasilitas temu bisnis (business matching) dan konsultasi bisnis (business coaching). Temu bisnis bertujuan untuk memberikan apresiasi dan menggalang komitmen dalam rangka pengembangan UMKM.

“Kegiatan konsultasi bisnis untuk menyediakan informasi dan konsultasi kepada pelaku UMKM maupun calon pelaku bisnis,” ujar Budi.

Sementara, Y Sri Susilo mengatakan, upaya BI untuk melakukan go digital dan go export dalam pengembangan UMKM wajib didukung oleh para pemangku kepentingan. Pengembangan UMKM, ujarnya, memerlukan perlindungan dalam bentuk regulasi dan kebijakan.

“Selain itu, diperlkan juga keberpihakan. Upaya BI dalam program go digital & go export merupakan wujud nyata dari keberpihakan tersebut,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan