Messe Düsseldorf Ajak Pengusaha Kemasan Temukan Tren Teknologi Terbaru

Messe Düsseldorf Ajak Pengusaha Kemasan Temukan Tren Teknologi Terbaru
dari kiri ke kanan: Henky Wibawa, Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia, Direktur Wakeni Rini Sumardi, Deputy Director Interpack Messe Düsseldorf GmbH dalam roadshow yang dilakukan Messe Düsseldorf di Jakarta, Selasa 3 Desember 2019. (Foto: dok)
Yudo Dahono / YUD Selasa, 3 Desember 2019 | 14:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Guna menyambut gelaran yang akan menyita perhatian insan industri pengemasan dunia, Interpack 2020, Messe Düsseldorf melakukan roadshow ke negara-negara di dunia antara lain Indonesia. Di Indonesia, Messe Düsseldorf menemui 90 pengusaha industri pengemasan Indonesia, guna memberikan edukasi tren pengembangan industri kemasan di dunia.

Interpack adalah pameran B2B terbesar industri pengemasan dan industri terkait lainya akan kembali digelar di Düsseldorf, Jerman pada tanggal 7-13 Mei 2020 mendatang.

“Saat ini 18 hall area pameran di Interpack 2020 telah habis terjual diisi oleh 3000 perusahaan teknologi pengemasan ternama dari 60 negara di dunia. Bahkan permintaan penambahan luas area pameran masih terus berdatangan. Penting bagi pengusaha Indonesia hadir di Interpack 2020 karena pameran ini akan menghadirkan tren-tren teknologi masa depan yang diprediksi sudah semakin berkembang di pengujung tahun 2019," ujar Thomas Dohse, Deputy Director Interpack Messe Düsseldorf GmbH, Selasa (3/12/2019).

Pameran interpack digelar yang digelar setiap tiga tahun selalu mencatat jumlah pengunjung yang fantastis. Di tahun 2017, Interpack dikunjungi oleh 170,899 pengunjung dari 169 negara dimana 75% dari jumlah tersebut memiliki jabatan penting dan merupakan pengambil keputusan di perusahaannya.

Interpack berfokus pada solusi pengemasan dan teknologi proses terkait, ditujukan bagi para pengusaha di bidang makanan, minuman, gula-gula, produk roti, farmasi, kosmetik, barang konsumsi bukan makanan dan barang industri. Penyelenggara juga mengelompokkan eksibitor-eksibitor terkait kedalam satu klaster untuk mempermudah pengunjung mencari teknologi yang diinginkan. Misal, penyuplai teknologi kemasan obat-obatan berada dekat dengan kosmetik. Atau pengunjung yang mencari mesin untuk teknologi pelabelan dan identifikasi, produksi bahan kemasan dan pencetakan kemasan berada dalam satu hall pameran sehingga waktu kunjungan menjadi lebih efisien.

Satu dari sekian tren internasional yang dihadirkan di Interpack 2020 yakni penggunaan kemasan ramah lingkungan (sustainable packaging) seiring dengan maraknya isu mengenai pemanasan global dan isu-isu lain yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan yang menjadi sebuah permasalahan tersendiri beberapa tahun ini.

Ide penggunaan kemasan ramah lingkungan ini sudah lebih berkembang terlebih dahulu di kalangan asing. Kini para pelaku industri di Indonesia, juga melihat hal ini sebagai peluang untuk mengembangkan dan mengikuti tren ini agar tidak tersisih dalam persaingan global. Selain itu penggunaan kemasan ramah lingkungan merupakan suatu keperluan yang harus di terapkan oleh setiap pelaku industri di Indonesia mengingat saat ini dunia tengah diramaikan oleh isu-isu mengenai bahaya limbah yang berasal dari sampah produk terutama limbah plastik.

Berbicara di presentasi Interpack 2020, Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia (FPI) Henky Wibawa menekankan pentingnya sustainable packaging dalam mempromosikan kesehatan dan kehidupan yang lebih baik, mengurangi bahaya terhadap lingkungan, dan dalam jangka panjang menurunkan biaya.

"Penting memikirkan kembali desain kemasan dan pembuatannya dalam penerapan Industri 4.0. 81% dari dampak lingkungan suatu produk berada pada tahap desain," ujar Henky Wibawa.

Henky menekankan pentingnya mengadopsi desain berkelanjutan dalam kemasan sebagai satu pendekatan untuk produksi kreatif yang mendasari pengambilan keputusan yang efektif terhadap pengurangan dampak pada masyarakat dan lingkungan.

Merancang kemasan makanan dan minuman dengan paradigma ramah lingkungan meningkatkan kelayakan produk. Hal ini karena bahan yang dapat digunakan kembali menciptakan nilai baru, tidak hanya untuk perusahaan itu sendiri tetapi juga untuk pengguna dan bisnis lain yang akan menggunakan dan menggunakan kembali bahan tersebut.

"Dengan teknologi baru dan pendekatan desain, pengemasan dapat membantu mencegah pemborosan makanan di berbagai tahapan rantai nilai. Pengusaha Indonesia dapat memanfaatkan pameran Interpack 2020 untuk mengakses teknologi terbaru dalam pengemasan agar tetap dapat bersaing," ujar Henky Wibawa.



Sumber: BeritaSatu.com