Penetrasi Jasa Keuangan di Kalangan Milenial Perlu Didongkrak

Penetrasi Jasa Keuangan di Kalangan Milenial Perlu Didongkrak
Penghargaan Iconomic Research dan RRI. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 6 Desember 2019 | 07:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Populasi Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok usia milenial (generasi Y). Penduduk tersebut akan menjadi kelompok usia produktif pada 2020 dengan rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017, jumlah populasi milenial mencapai 88 juta jiwa atau 33,75% dari total populasi Indonesia. Generasi milenial menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia saat ini dan beberapa tahun ke depan mengingat jumlahnya yang besar dan kelompok usia produktif.

Pengusaha nasional Sandiaga S Uno mengatakan, milenial di era digital saat ini harus terus didorong untuk melek keuangan, sehingga bisa melirik penempatan dana atau transaksi keuangan di perusahaan jasa keuangan. Hal itu dikatakan Sandiaga di sela-sela acara Iconomics Research bersama RRI Apresiasi Perusahaan Jasa Keuangan dan CEO dalam Financial Award 2019.

Iconomics Research bekerja sama dengan RRI melakukan riset survei persepsi milenial Indonesia terhadap industri jasa keuangan Indonesia yaitu perbankan, perusahaan asuransi, perusahaan pembiayaan (multifinance), perusahaan sekuritas, dan fintech. Riset ini melibatkan 10.000 responden di 10 kota besar di Indonesia pada Oktober 2019.

Riset ini merupakan riset brand equity dengan menggunakan lima atribut dasar. Pertama, Brand Usage. Banyaknya milenial yang menggunakan produk dan jasa sebuah perusahaan. Kedua, Brand Awareness. Tingkat pengetahuan milenial atas nama brand perusahaan. Ketiga, Brand Image. Apresiasi milenial terhadap citra perusahaan.

Keempat, Customer Service Quality.Persepsi milenial terhadap kualitas customer service, seperti call center, digital, maupun layanan tatap muka. Kelima. Social Economy Contribution. Persepsi seberapa jauh milenial menilai bahwa perusahaan memiliki kontribusi sosial ekonomi yang tinggi.

Ada beberapa temuan menarik dari riset ini, di antaranya penetrasi jasa keuangan (yang dilihat dari brand usage perusahaan jasa keuangan di kalangan milenial Indonesia) masih relatif kecil yaitu 13,04%. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri jasa keuangan di Indonesia untuk terus meningkatkan penetrasinya di kalangan milenial.

Apalagi mengingat mereka adalah kelompok usia produktif dan berjumlah lebih dari sepertiga populasi Indonesia. Meski penetrasi masih relatif rendah, tetapi pengetahuan kelompok milenial (yang dilihat dari Brand Awareness) atas perusahaan jasa keuangan relatif tinggi yaitu rata-rata 41,32%.

Generasi milenial juga cenderung memberikan penilaian yang relatif baik terhadap brand-brand perusahaan jasa keuangan di Indonesia yang terlihat dari persentase Brand Image, persepsi terhadap Customer Service Quality (CSQ) dan Social Economy Contribution (SEC). Brand awareness yang relatif tinggi dan penilaian yang relatif baik terhadap brand-brand jasa keuangan, merupakan modal yang baik untuk memudahkan perusahaan-perusahaan jasa keuangan meningkatkan penetrasi.

Artinya, sebenarnya generasi milenial Indonesia sudah memiliki kesadaraan yang tinggi dan penilaian yang baik terhadap perusahaan jasa keuangan. Tinggal langkah selanjutnya adalah action untuk menggunakan produk-produk jasa keuangan tersebut.

Apresiasi Financial Award 2019 Iconomics Research dan RRI memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan jasa keuangan yang memiliki tingkat Brand Usage yang tinggi dan persepsi Brand Awarenss, Brand Image, Customer Service Quality dan Social Economy Contribution yang baik di atas rata-rata keseluruhan kepada 72 perusahaan jasa keuangan yang terdiri atas 13 bank, 13 perusahaan asuransi jiwa, 10 perusahaan asuransi umum, 12 perusahaan pembiayaan, 4 perusahaan asuransi sosial dan wajib, 8 perusahaan sekuritas dan 12 perusahaan teknologi finansial. Selain. Itu, kami juga memberikan apresiasi kepada 10 CEO yang dinilai telah sukses membuat perusahaan yang mereka pimpin lebih dikenal di kalangan milenial.



Sumber: Suara Pembaruan