Daewoong Infion, Pusat Bisnis Biofarmasi Daewoong di Indonesia

Daewoong Infion, Pusat Bisnis Biofarmasi Daewoong di Indonesia
Daewoong Infion merupakan joint venture Daewoong Pharmaceutical dengan Indonesia Infion pada 2012 dan berhasil memproduksi serta memasarkan Epidion di Indonesia. Ke depannya, Daewoong Infion diharapkan akan menjadi pusat bisnis industry biofarmasi di Indonesia. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Sabtu, 7 Desember 2019 | 22:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keseriusan Daewoong Pharmaceutical, sebuah perusahaan healthcare global asal Korea, dalam mengembangkan industri biofarmasi di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai kiblat dalam industri biofarmasi tak perlu diragukan lagi. Komitmen Daewoong Pharmaceutical tidak terhenti pada kontribusi sosial dan program pengembangan SDM, namun juga melalui terobosan teknologi canggih yang dibawa dari Korea, termasuk berkolaborasi dengan pemain industri farmasi lokal. 

Resmi masuk ke Indonesia dengan mendirikan kantor cabangnya pada 2005, Daewoong Pharamaceutidal rupanya telah menggandeng Indonesia ‘Infion’ untuk membentuk sebuah joint venture ‘Daewoong Infion’ pada 2012 dan sukses mendirikan pabrik biofarmasi pertama di Indonesia yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Daewoong Infion pun berada di garis terdepan dalam strategi mencapai visi perusahaan tersebut dengan membawa mandat sebagai basis dalam bisnis bioteknologi canggih sehingga mampu mendorong pertumbuhan bio-industri di Indonesia.

Salah satu milestone perjalanan Daewoong Infion adalah beredarnya 'Epodion', yaitu obat bio-similar pertama di Indonesia yang berhasil memperoleh penghargaan dari Menteri Kesehatan dan Daewoong Infion terpilih sebagai perusahaan biofarmasi terbaik dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia pada 2017.

Presiden Direktur Daewoong Infion, Suh Chang-woo menjelaskan kedepannya, Daewoong Infion tidak hanya akan berperan untuk memasok obat-obatan, namun secara aktif melakukan kegiatan kerja sama penelitian yang berkelanjutan untuk meneliti dan melakukan uji klinis obat bio baru melalui open collaboration dengan lembaga-lembaga penelitian dan universitas-universitas ternama di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. 

“Kami tentu berharap, dengan mengembangkan produk yang cocok untuk masyarakat Indonesia, kami bisa mewujudkan berkontribusi nyata kami untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dengan menyediakan obat-obatan yang terbaik dan aman dengan harga yang terjangkau,” kata Suh Chang-woo, Sabtu (7/12/2019).

Epodion, obat Erythropoietin (EPO) yang diproduksi dan dijual oleh Daewoong Infion, merupakan obat anemia untuk dialisis pada pasien gagal ginjal kronis dan pasien kanker. Epodion mendapatkan izin edar produk dari BPOM Indonesia pada Desember 2016 dan mulai dirilis ke pasaran pada April 2017. Dalam kurun waktu enam bulan setelah diluncurkan, Epodion telah berhasil menduduki peringkat no. 1 di pasar EPO Indonesia dan saat ini tengah memimpin pasar dengan lebih dari 40% pangsa pasar.

Melengkapi keberhasilannya, Daewoong Infion sedang mempersiapkan sertifikasi halal untuk produk Epodion. Sertifikasi halal yang sudah dipersiapkan sejak awal pendirian pabrik di Surabaya, kini telah memasuki tahap akhir proses evaluasi. Sejauh ini, bisa dikatakan belum ada produk biofarmasi yang berhasil mendapatkan sertifikasi halal dan demi memperoleh sertifikasi ini, sebuah produk harus melewati serangkaian proses yang terbilang cukup sulit.

Jika Epodion berhasil mendapatkan sertifikasi halal, maka Epodion akan menjadi model produk obat turunan sel hewan pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi halal dan berbekal sertifikasi tersebut, Daewoong Infion pun berencana melakukan ekspansi bisnis ke pasar Timur Tengah yang diperkirakan memiliki value market scale sebesar 300 miliar rupiah. Selain dari Epodion, Daewoong Infion juga tengah berupaya untuk menyediakan produk biofarmasi lainnya seperti EGF, Caretropin, vaksin, dan sebagainya dengan kualitas terbaik untuk masyarakat Indonesia.

Salah satu yang produk yang berhasil dikembangkan Daewoong Pharmaceutical adalah EGF (Epidermal Growth Factor), yang kemudian dinobatkan sebagai obat bio terbaru no. 1 di Korea dengan teknologi insentif. Penelitian dan pengembangan untuk EGF dimulai sejak 1992 dan tepat tiga tahun setelahnya, Daewoong Pharmaceutical berhasil mengembangkan teknologi yang mampu memproduksi EGF secara massal. EGF yang dikembangkan memiliki struktur serupa dengan EGF yang terdapat pada tubuh manusia dan mulai dipasarkan pada 2001.

Sama halnya dengan ‘Easyef External Solution’ yang efektif untuk pengobatan Diabetic Foot Ulcer yang sulit sembuh dengan formula berbentuk jet spray sehingga dapat digunakan tanpa bersentuhan langsung dengan luka serta ‘Easyef Ointment’ yang berbentuk salep dan dapat dioleskan dengan mudah tanpa terbatas pada luas area luka serta dapat digunakan secara luas untuk berbagai macam luka yang akut dan sulit sembuh yang merupakan obat keluaran Daewoong Pharmaceutical. 

Kini, Daewoong Infion tengah berupaya untuk mengembangkan dan memproduksi sendiri produk obat EGF di pabrik Daewoong Infion agar dapat dijual secara bebas pada pertengahan tahun 2020. Indonesia dan Korea pun juga berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan all-in-one mold, uji klinis sedang diberlakukan untuk memperluas indikasi dari produk dan diharapkan EGF dapat menjadi produk obat bio nomor 1 di Indonesia dan juga bisa menjadi penghubung untuk mengekspor EGF ke negara-negara lainnya.

Di samping EGF, Daewoong Pharmaceutical juga meluncurkan ‘Caretropin’ pada 2008, obat untuk pasien yang memiliki laju pertumbuhan hormon yang rendah. Pada umumnya, pengobatan dengan menggunakan produk pertumbuhan hormon tergolong pengobatan yang mahal sehingga seringkali tidak digunakan oleh pasien. Hal ini yang mendorong Daewoong Pharmaceutical untuk mengembangkan Caretropin melalui pabrik Daewoong Infion agar dapat didistribusikan kepada masyarakat Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.



Sumber: BeritaSatu.com