Jumlah Penumpang Udara di Natal dan Tahun Baru Turun 8%

Jumlah Penumpang Udara di Natal dan Tahun Baru Turun 8%
Polana Banguningsih Pramesti. ( Foto: Antara )
Lona Olavia / MPA Senin, 9 Desember 2019 | 16:45 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Jumlah penumpang udara pada periode Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 diprediksi mengalami penurunan sebesar 8,41% menjadi 5,28 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 5,76 juta penumpang.

Penurunan diakui Dirjen Perhubungan Udara Polana Banguningsih karena pembangunan infrastruktur di darat yang masif dan sudah rampung penyelesaiannya di akhir tahun ini.

"Ada penurunan secara total secara 8%, tapi lebih kecil dibandingkan Lebaran kemarin. Ada penurunan harga avtur di beberapa bandara saya berharap akan berdampak pada penurunan harga tiket. Kita harap forecast itu salah karena itu berdasarkan asumsi dari tren," kata Polana dalam jumpa pers tentang "Rencana Operasi Angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020", di Kantor Kemhub, Jakarta, Senin (9/12).

Polana menambahkan, penurunan juga salah satunya dipicu penghentian Sriwijaya Air. Adapun, saat ini ada 495 unit pesawat udara yang siap termasuk cadangan dan tersebar di 38 bandara. Di mana, jumlah kapasitas kursi yang tersedia pada 19 Desember hingga 6 Januari ada 8,9 juta ke 494 rute untuk domestik dan internasional.

"Dari kapasitas seat 17%-20% yang sudah terpakai. Tiket untuk maskapai besar sudah terjual 50%, yang lainnya baru 17%," sebut ia seraya menambahkan untuk pengajuan extra flight per Desember ada 222 penerbangan.

Secara total, prediksi total penumpang angkutan umum 2020 sebanyak 16,41 juta orang atau menurun 0,18% dibanding periode yang sama sebelumnya. Adapun, pada periode Nataru ini tercatat hanya angkutan moda udara yang mengalami penurunan, sedangkan yang lainnya meningkat.

Jumlah penumpang bus diprediksi naik 3,55% dari 1,69 juta menjadi 1,75 juta. Kereta api naik 4,04% dari 5,68 juta menjadi 5,91 juta penumpang. Laut naik 1,84% dari 1,17 juta menjadi 1,19 juta penumpang. Penyeberangan naik 6% dari 2,13 juta menjadi 2,27 juta penumpang.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menyebutkan, beban di Jabodetabek akan ringan karena sudh beroperasinya tol layang Jakarta-Cikampek. Bahkan Jasa Marga memprediksi akan ada kenaikan pengguna sekitar 15%.

Selain itu, dari hasil kegiatan inspeksi keselamatan (ramp check) pada 30 November lalu disebutkan hanya 70% bus yang layak beroperasi yaitu sebanyak 6.213 unit, sedangkan 30% atau 3.948 tidak layak beroperasi



Sumber: Suara Pembaruan