BI: Belum Ada Tanda-tanda Ekonomi Global Membaik

BI: Belum Ada Tanda-tanda Ekonomi Global Membaik
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Endy Dwi Tjahjono (tengah), menjadi pembicara di acara pelatihan wartawan Bank Indonesia, di Labuan Baju,NTT, Senin (9/12/2019). ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Senin, 9 Desember 2019 | 16:54 WIB

 

Labuan Bajo, Beritasatu.com – Pertumbuhan ekonomi global hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, bahkan terus melambat. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Endy Dwi Tjahjono menyampaikan, pertumbuhan ekonomi dunia yang terus melambat ini akibat ketegangan hubungan dagang yang belum juga mereda.

Menurut Endy, tadinya memang sempat ada optimisme saat ada potensi kesepakatan dagang antara AS dengan Tiongkok. Namun masalah baru kemudian muncul terkait dengan UU Imigrasi, AS yang mendukung para demonstran di Hong Kong, hingga persoalan etnis Uighur yang kemudian membuat trade deal gagal tercapai. Selain itu, Presiden Donald Trump juga terus mengancam menaikkan tarif pada Prancis, Argentina, dan Brasil. Kondisi ini yang kemudian membuat pertumbuhan ekonomi global mengalami koreksi dari yang semula diprediksi.

“Proyeksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi global di 2019 hanya 3%, turun dibandingkan 2018 yang mencapai 3,6%. Angka 3% ini juga turun dibandingkan proyeksi kami semula yang tadinya diperkirakan 3,2%,” kata Endy Dwi Tjahjono, di acara pelatihan wartawan Bank Indonesia, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (9/12/2019).

Perlambatan ekonomi global juga telah direspon oleh bank sentral dari sejumlah negara dengan menurunkan suku bunga, termasuk The Fed yang telah menurunkan Federal Funds Rate (FFR) 75 bps sebanyak tiga kali. Menurut Endy, kebijakan pelonggaran moneter ini tidak hanya penurunan suku bunga, tetapi juga menambahkan injeksi likuditas.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, lanjut Endy, volume perdagangan dunia juga terus turun. Selain itu, kegiatan produksi di banyak negara yang berkurang juga telah menyebabkan penurunan harga komoditas ekspor Indonesia.

Secara total, pada 2019 indeks harga komoditas ekspor Indonesia turun sebanyak 4%, lebih besar dibandingkan penurunan di 2018 yang sebesar 2,8%. Adapun komoditas yang naik hanya karet sebesar 13,6% dan nikel 5%. Namun, Endy melihat ke depannya Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia bisa membaik berkat CPO, di mana pada 1 Januari pemerintah akan menaikkan B20 ke B30.

“Kalau ini bisa berhasil full biodiesel 100% , maka kemungkinan nanti suplai CPO global bisa turun lebih besar karena barangkali kita bisa mengekspor betul-betul biodiesel dan mengurangi impor minyak,” ungkapnya.

Endy menambahkan, pertumbuhan ekonomi dari lima negara yang merupakan mesin penggerak ekonomi dunia yakni Amerika Serikat, Kawasan Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India juga belum menunjukkan tanda perbaikan, sehingga akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

Endy juga mengaku heran dengan sikap Donald Trump yang tidak mendukung trade deal untuk mendongkrak elektabilitasnya. “Yang mengherankan, Trump kan seharusnya mendukung trade deal karena kalau kita lihat di dalam negerinya popularitas dia masih kalah, sehingga trade deal ini harusnya bisa mendongkrak elektabilitas. Entah apa ini masalah timing atau strategi, apakah nanti akan dilakukan, kita belum tahu,” kata Endy.

Menyikapi kondisi perekonomian global yang sedang terjadi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20-21 November 2019 juga telah memutuskan kebijakan yang diambil, antara lain mempertahankan suku bunga acuan (BI 7 Day Reverse Repo Rate/7DRRR) tetap di level 5%, suku bunga Deposit Facility di level 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,75%.



Sumber: Suara Pembaruan