Agar IPO Sukses, Start Up Perlu Inovasi Bisnis

Agar IPO Sukses, Start Up Perlu Inovasi Bisnis
Ilustrasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). (Foto: Antara / Aditya Pradana Putra)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 10 Desember 2019 | 11:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan rintisan (start up) berskala kecil lebih banyak mendapat tantangan dibandingkan start up besar untuk mendapatkan kepercayaan investor dan mengantongi dana segar melalui initial public offering (IPO). Sejumlah analis menilai, tantangan yang dihadapi perusahaan start up cukup pelik. Namun hal itu bisa menjadi peluang bagi yang memiliki model bisnis menjanjikan sesuai kebutuhan pasar atau model bisnis kekinian untuk milenial.

Direktur perusahaan manajer investasi, PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, saat ini otoritas bursa membuka pintu pada berbagai perusahaan, termasuk start up, untuk mendapatkan dana segar melalui IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun perusahaan harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan otoritas bursa. Untuk memenuhi persyaratan tersebut kata dia, membutuhkan biaya.

”Biasanya jika go public maka laporan keuangan harus diaudit, menunjuk notaris, lalu konsultan hukum, dan menyiapkan dokumen tentang prosedur pendaftaran hingga underwriter. Ini tentu jadi masalah bagi perusahaan tertentu, karena biayanya lumayan tinggi untuk melakukan go public,” kata Hans Kwee dalam keterangannya Selasa (10/12/2019).

Hans Kwee mencontohkan bagi perusahaan start up kecil dengan nilai Rp 10 miliar dan start up besar bernilai Rp 300 miliar, kerjanya samam namun pendanaan yang didapatkan bisa berbeda. “Ini adalah challenge. Kita harus memahami banyaknya aturan yang ada akan menghalangi start up kecil untuk go public,” kata Hans Kwee.

Meski demikian, Hans melihat perusahaan start up kecil ke depannya dapat sukses dilihat dari bisnis yang dijalankannya. Contohnya saja start up bidang properti co-living seperti PT Hoppor International (Kamar Keluarga) yang trennya mengalami perkembangan pesat. Kaum milenial lebih senang berwisata atau menggali pengalaman sehingga membutuhkan tempat tinggal sementara. Begitu juga saat mereka memilih rumah kecil dan efisien hanya untuk sekedar kebutuhan tempat tinggal keluarga kecilnya.

“Inovasi perusahaan start up ini bagus artinya harus kita cerna dan lihat sustainability-nya dan juga demand-nya. Masih sangat rasional kalau perusahaan start up sektor ini listing dan melantai di bursa karena demand dan tren hunian menuju ke arah sana,” terang Hans Kwee.

Masuknya PT Hoppor International dalam daftar 17 perusahaan yang akan menggelar IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan warna baru bagi para investor. CEO Kamar Keluarga Charles Kwok menerangkan saat ini pihaknya memiliki lima pilar bisnis yang menjangkau kebutuhan investor. Pertama yaitu pilar bisnis KK Operator, yang fokus pada bisnis penyewaan tempat tinggal bagi kaum pekerja milenial. Kedua pilar bisnis KK Development, yang menyasar kaum milenial yang ingin memiliki hunian sendiri dengan harga terjangkau.

“Tiga pilar bisnis lain yang dapat memenuhi kebutuhan pasar yang ingin berinvestasi dengan menjadi mitra yakni KK BOT (build operate transfer), KK Aset, dan KK Vertikal yang dapat membantu para mitra untuk mencari, membangun dan mengelola properti yang dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar,” kata Charles.

Senior Advisor CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan perusahaan yang hendak IPO tidak perlu khawatir. Selama perusahaan tersebut merespons kebutuhan pasar, maka potensi untuk menjadi besar sangat terbuka. “Perusahaan start up co-living harus melihat potensi target pasar yang dibidik dan seberapa lama tren ini bisa bertahan. Antisipasinya dengan punya banyak model bisnis yang menyasar milenial awal, dan eksekutif muda, sehingga lebih variatif dan stabil,” jelas Reza Priyambada.



Sumber: BeritaSatu.com