Sedimentasi Bendungan, Sawah 400 Ha di Sikka-NTT Kesulitan Air

Sedimentasi Bendungan, Sawah 400 Ha di Sikka-NTT Kesulitan Air
Sedimentasi menyebabkan Bendungan Liba, Magepanda, Sikka, NTT, tidak bisa mengairi 400 ha sawah. ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Minggu, 15 Desember 2019 | 18:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan mendasar untuk pertanian lahan kering atau pengairan secara terbatas di Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski sumber air terbatas, pengelolaan aliran air melalui bendungan (waduk) yang sudah ada harus dioptimalkan. Namun, beberapa bendungan skala kecil tidak berfungsi karena sedimentasi (endapan) tanah dan pasir, diantaranya yang terjadi di Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT.

Sentra pertanian (sawah) seluas 400 ha di Desa Magepanda, Sikka, mengalami kesulitan air sejak beberapa bulan terakhir. Selain musim kemarau berkepanjangan, saluran irigasi dari Bendungan Liba yang mengairi kawasan penghasil beras tersebut tidak berfungsi dengan baik. Sedimentasi pasir dan tanah sejak empat tahun terakhir menyebabkan bendungan itu tidak berfungsi.

Informasi yang diperoleh SP baru-baru ini menyebutkan bendungan skala kecil yang mengairi sekitar 400 ha sawah di Desa Magepanda itu tidak berfungsi dan hanya menyisahkan sedikit genangan air. Sedimentasi pasir, kerikil dan tanah menyebabkan bendungan itu nyaris rata dengan area penampungan air.

Bahkan, tanah sedimentasi sudah mulai ditumbuhi beberapa jenis tanaman liar. Itu berarti, sudah lama bendungan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi tersebut tidak berfungsi.
“Bendungan sudah tidak berfungsi sejak beberapa tahun lalu. Padahal, bendungan ini sangat membantu pengairan semua areal sawah sekitar 400 hektare,” kata Kepala Desa Magepanda, Servasius Martinus Mau, Sabtu (14/12).

Menurut Servasius, hamparan sawah yang mencapai 300 ha dan 100 ha dalam jalur tambahan, akhirnya hanya mengantngkan sumber air hujan atau dari mesin pompa. Hal itu menyebabkan hampir seluruh areal persawahan di Magepanda menunda penanaman padi.

Sebelumnya, Abidin yang juga salah satu petani di Magepanda, mengatakan pihaknya saat ini berupaya menggunakan pompa tetapi tidak efektif. Selain biaya operasional mahal, musim kemarau berkepanjangan menyebabkan muka air tanah pun turun. “Ini menyebabkan pompa air pun nyaris tidak berfungsi,” jelasnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Wilfridus Keupung yang banyak mendampingi petani di Sikka menyayangkan kondisi bendungan yang tidak berfungsi karena sedimentasi. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah lebih memprioritaskan pembangunan, tetapi minim perawatan. “Sejauh yang kami pantau, sumber air untuk bendungan tersebut masih ada sekalipun sangat terbatas. Sawah seluas 400 ha itu mempunyai dampak besar jika tidak bisa ditanami,” jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan