Penerapan Industri Hijau Hemat Energi Rp 3,49 Triliun

Penerapan Industri Hijau Hemat Energi Rp 3,49 Triliun
Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemperin Eko Cahyanto (kanan) di sela Penghargaan Industri Hijau Tahun 2019, Rintisan Teknologi Industri, Litbang Unggulan, Pemenang Sarana Penelitian Industri Terapan (SPIRI) dan Penyerahan Sertifikat Industri Hijau Sertifikat Industri Hijau di Jakarta, Senin (16/12/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 16 Desember 2019 | 13:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) mengembangkan program yang mendorong industri nasional menerapkan industri hijau melalui perbaikan efisiensi dan efektivitas produksi, dengan pendekatan no cost, low cost, atau high cost.

"Berdasarkan data self asessment tahun 2018, dapat dihitung penghematan energi dari industri hijau sebesar Rp 3,49 triliun dan penghematan air sebesar Rp 228,9 miliar," kata Sekjen Kemperin, Achmad Sigit Dwiwahjono di sela acara Penganugerahan Penghargaan Industri Hijau 2019, Rintisan Teknologi, Litbang Unggulan, Penyerahan Sertifikat Industri Hijau dan Pemenang Sarana Penelitian Industri Terapan (SPIRIT) di Jakarta, Senin (16/12/2019).

Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, penghematan tersebut selain membantu komitmen Indonesia dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen atau 41 persendengan bantuan dari luar pada tahun 2030, juga sebagai bentuk dukungan Kementerian Perindustrian untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDG).

Sebagai gambaran, penghargaan industri hijau merupakan salah satu program Kemperin setiap tahun dengan tujuan memberikan manfaat signifikan terhadap proses produksi perusahaan industri.

Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pengakuan industri hijau merupakan salah satu faktor daya saing. Saat ini industri hijau sudah menjadi tuntutan pasar seiring semakin tingginya kepedulian pasar akan kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. "Dari sisi pengembangan industri, industri hijau adalah upaya meningkatkan sistem produksi agar semakin efisien dan lebih ramah lingkungan dengan menerapkan praktik terbaik dalam hal manajemen pengusahaan maupun dalam pemilihan teknologi proses," kata Achmad Sigit.

Kementerian Perindustrian juga sedang mengembangkan program Sertifikasi Industri Hijau yaitu pengakuan yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Industri Hijau untuk menyatakan bahwa perusahaan industri telah memenuhi Standar Industri Hijau (SIH). Sertifikasi Industri Hijau sudah dilaksanakan sejak 2017, dan pada tahun ini sebanyak 18 perusahaan telah berhasil mendapatkan Sertifikat Industri Hijau, sehingga perusahaan industri berhak menggunakan logo industri hijau.

Di tempat yang sama Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemperin, Eko Cahyanto mengatakan, program penghargaan industri hijau sudah dimulai sejak 2010. Adapun pesertanya bersifat partisipatif, sukarela (tidak ditunjuk) dan terbuka bagi seluruh industri nasional baik skala besar, menengah maupun kecil. "Pada tahun 2010 - 2019 tercatat sekitar 1.042 perusahaan yang mengikuti penghargaan dan telah lolos mendapatkan predikat sebagai industri hijau sebanyak 895 perusahaan (86 persen)," kata Eko Cahyanto.

Klasifikasi penghargaan industri hijau dimulai dari Level 1 sampai dengan Level 5, dimana Level 5 merupakan level tertinggi. Posisi setiap level dapat ditempati oleh banyak industri yang memiliki range nilai yang sama. Penilaian untuk ditetapkan sebagai level tertentu dilakukan oleh tim teknis.

Eko mengatakan peserta program Penghargaan Industri Hijau pada tahun 2019 sebanyak 151 perusahaan. Peserta didominasi oleh kelompok industri binaan Ditjen. Industri Agro sebanyak 99 industri, dan sisanya Ditjen Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (42 industri), Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi & Elektronika (10 industri). Penerima penghargaan industri hijau pada tahun 2019 sebanyak 138 perusahaan, yang terdiri dari 85 perusahaan dengan level 5 dan 53 perusahaan dengan level 4. Penghargaan akan diberikan kepada perusahaan industri yang menempati level 5 dan level 4.

Sementara penghargaan Rintisan Teknologi Industri (Rintek) sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada industri yang menghasilkan kegiatan perekayasaan, invensi, dan/atau inovasi teknologi yang berhasil diproduksi dan dikomersilkan.  Adapun Litbang Unggulan yang diberikan kepada peneliti/perekayasa dari Balai Besar/Baristand Industri di lingkungan BPPI, telah menghasilkan kegiatan litbang unggul berorientasi industri. Sementara penghargaan Sarana Penelitian Industri Terapan (Spirit) merupakan penghargaan terhadap hibah penelitian bagi dosen-dosen di politeknik dan akademi komunitas di lingkungan Kementerian Perindustrian.



Sumber: BeritaSatu.com