Awas Kena Tipu, Perhatikan Hal-hal ini Sebelum Beli Rumah

Awas Kena Tipu, Perhatikan Hal-hal ini Sebelum Beli Rumah
Lokasi perumahan syariah bodong terletak di Desa Garut, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten. ( Foto: Beritasatu TV )
Herman / FMB Kamis, 19 Desember 2019 | 17:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ribuan orang menjadi korban penjualan rumah berbasis syariah di kawasan Serang, Banten. Mereka tergiur dengan penawaran harga murah tanpa cicilan, tanpa bunga, tanpa riba, dan tanpa pengecekan dari bank.

Pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyampaikan, kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membeli rumah. Apalagi selama ini masyarakat sangat mudah tergiur dengan penawaran harga murah, tanpa melakukan pengecekan riwayat pengembang perumahan tersebut.

Ribuan Tertipu, Begini Lokasi Perumahan Syariah Bodong

“Mau yang konvensional atau syariah, kita harus selalu waspada. Pastikan apakah pengembang tersebut berbadan hukum atau tidak. Karena biasanya pengembang pemula yang perorangan itu belum berbadan hukum. Kemudian perhatikan juga masalah legalitasnya, apakah tanah tersebut sudah milik perusahaan pengembang atau belum. Hal dasar ini sangat penting untuk diperhatikan. Karena dalam membeli rumah, banyak legalitas yang terkait di sana,” kata Ali Tranghanda kepada Beritasatu.com, Kamis (19/12/2019).

Track record dari pengembang tersebut juga sangat penting untuk ditelusuri. Pastikan juga bahwa pengembang tersebut sudah memiliki site plan yang disahkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda).

“Kalau belum punya site plan, berarti pengembang itu belum apa-apa. IMB-nya juga bagaimana, mustinya itu yang paling penting untuk diketahui. Tanyakan juga apakah ada bank yang mem-back-up pengembang tersebut. Jadi jangan hanya tergiur dengan harga rumah saja, tetapi harus banyak mencari tahu,” pesan Ali.

Polisi Telusuri Aliran Dana Kasus Perumahan Syariah Fiktif

Dalam banyak kasus, Ali melihat kebanyakan pengembang perumahan syariah merupakah pemain baru yang belum berpengalaman dalam bisnis perumahan. Mereka umumnya belum memiliki lahan dan masih mencicil kepada pemilik lahan. Pengembang biasanya hanya membayar uang muka dan menjanjikan akan membayar dalam jangka waktu tertentu menggunakan uang dari konsumen.

"Walaupun belum memiliki lahan, pengembang pemula ini sudah mulai memasarkan rumah. Harapannya tanah tersebut bisa dicicil dari uang konsumen. Padahal, bisnis perumahan tidak sesederhana itu. Uang yang sudah disetorkan konsumen bukan hanya untuk membayar cicilan tanah, tetapi juga untuk mulai membangun. Terlepas dari motif penipuan murni, masalah cashflow ini sering menjadi kesalahan fatal dari para pengembang pemula,” kata Ali.



Sumber: BeritaSatu.com