Inflasi 2019 Terendah dalam 2 Dekade Terakhir, Ini Penyebabnya

Inflasi 2019 Terendah dalam 2 Dekade Terakhir, Ini Penyebabnya
Pedagang menata bahan makanan di Pasar Karet Belakang, Jakarta, Kamis 1 Desember 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi pada Oktober 2018 sebesar 3,16 persen (year on year) dan 0,28 persen (month on month) dengan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yakni 4,38 persen (year on year). ( Foto: Antara / Dhemas Reviyanto )
Triyan Pangastuti / FMB Jumat, 3 Januari 2020 | 15:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang tahun 2019 sebesar 2,72 persen. Angka ini bahkan lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia (BI) hal ini dipicu oleh sejumlah faktor.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan angka inflasi 2,72 persen merupakan yang terendah sejak 20 tahun terakhir, disebabkan ketersediaan pasokan dan terkendalinya harga berbagai komoditas pangan.

“Inflasi bahan makanan rendah dan alhamdulilah tutup tahun 2019 lalu dengan harga terkendali yoy 2,72 persen merupakan inflasi terendah sejak 20 tahun terakhir” tuturnya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Selain laju inflasi yang rendah, laju inflasi inti sepanjang tahun 2019 tercatat 3,02 persen atau mengalami penurunan dari tahun 2018 sebesar 3,07 persen. Sejumalah pihak menilai penurunan inflasi inti sudah harus dikhawatirkan oleh pemerintah sebab dapat mengindikasikan pelemahan daya beli masyarakat.

Meski begitu, Perry menegaskan inflasi inti yang cenderung rendah bukan disebabkan daya beli yang lemah melainkan kapasitas produksi atau pasokan jauh lebih memadai daripada permintaan. Oleh karena itu, pasokan masih tetap memadai meskipun adanya kenaikan permintaan konsumen.

Kemudian koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan BI memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan dan keterjangkauan harga. Hal ini menunjukkan rendahnya inflasi volatile food.

“Sejumlah komditas dan barang deflasi seperti bawang merah, cabai naik sedikit tapi tidak besar, hampir semua komponen inflasi rendah, bahkan deflasi” jelasnya.

Selanjutnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang stabil turut mendorong terjaganya inflasi. Sehingga tekanan harga dari eksternal dan global rendah sehingga tak ada kenaikan yang signifikan.

Terakhir, terjaganya ekspektasi harga ke depan. Hal ini dicerminkan dalam survei ekspektasi konsumen dan perkiraan inflasi dari berbagai sektor turun mempengaruhi rendahnya inflasi.

"Empat faktor itu membuat inflasi rendah dan terkendali. Tahun 2019 alhamdulillah terendah sejak tahun 1999," imbuh dia.

Sebelumnya, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan inflasi yang rendah di sepanjang tahun patut diapresiasi. Seiring dengan langkah pemerintah menjaga ketersediaaan komoditas pangan dan mengatur kebijakan impor pangan diwaktu yang tepat.

Meski begitu, ia mengatakan inflasi yang rendah sepanjang tahun 2019 disebabkan oleh pertumbuhan konsumsi yang melambat sehingga mengindikasikan pelemahan daya beli. Hal ini tercermin dari inflasi inti yang tercatat hanya 0,11 persen dan itu lebih rendah dibandingkan tahun 2018.

“Tren penurunan inflasi inti sudah terjadi sejak Agustus trennya terus turun inflasi inti apabila angka inflasi inti disandingkan dengan angka Purchasing Managers' Index (PMI) yang terus turun. Meski di November naik sedikit tapi indikator ini menunjukkan bahwa permintaaan terhadap produk manufaktur masih relatif rendah” ujar Yusuf saat dihubungi Investor Daily.

Indikasi penurunan permintaan juga terlihat dari inflasi Desember sebesar 0,34 persen padahal biasanya inflasi Desember didorong oleh masyarakat yang menghabiskan waktu Liburan Natal dan Tahun Baru sehingga menaikakn inflasi transportasi, tetapi justru inflasi transportasi menurun jadi 0,58 persen padahal tahun lalu mencapai 1,28 persen.

“Hal ini mengundikasikan adanya kecederungan masyarakat tengah menjaga konsumsi sehingga permintaan atau daya beli melambat” ucapnya.

Sementara itu, untuk laju inflasi di tahun ini yang dipatok pemerintah 3,1 persen dinilainya masih memungkinkan tercapai sebab pemerintah batal menaikkan tarif listrik.

Dia mengingatkan keberhasilan pemerintah tidak hanya menjaga harga pangan, melainkan juga menjaga daya beli di tengah masyarakat. Apalagi pemerintah mulai menaikkan beberapa tarif, di tahun ini, maka perlu diberikan kompensasi melalui program lainnya agar daya beli terjaga.

“Dana desa yang jadi pos anggaran menjaga daya beli, dan pos lainnya dana bansos” ujarnya.

Untuk penyerapan belanja dana desa lebih efektif dan mendorong konsumsi masyarakat, maka pemerintah harus menetapkan secara jelas terknis penyalurannya, sehingga penerima bantuan tepat sasaran dan keterjangkauan masyarakat terhadap askes keuangan seperti Bank.

Kemudian Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan inflasi sepanjang tahun 2019 ini patut menjadi perhatian pemerintah, terutama bila dihubungkan dengan perekonomian dan daya beli masyarakat.

"Anjloknya inflasi ini apakah karena perekonomian yang lemah, daya beli sebagian masyarakat yang melemah atau karena lain? Jangan sampai munculnya persepsi rendahnya inflasi karena melemahnya perekonomian, yang mungkin hanya akan tumbuh 4,9 persen hingga 5,04 persen” ujarnya.

Oleh karena itu, Ryan mengatakan bahwa identifikasi ini penting sebagai referensi pembuat kebijakan moneter dan fiskal di 2020 untuk tetap akomodatif, pro-pertumbuhan dan fully relaxations.



Sumber: Investor Daily