BI: 2019 Capital Inflow Rp 224,2 T karena Stabilitas Eksternal Terjaga

BI: 2019 Capital Inflow Rp 224,2 T karena Stabilitas Eksternal Terjaga
Ilustrasi rupiah dan dolar. ( Foto: Beritasatu Photo/David Gita Roza )
Triyan Pangastuti / WBP Jumat, 3 Januari 2020 | 15:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) mengatakan stabilitas eksternal sepanjang tahun 2019 terjaga. Hal ini tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah. Dampaknya, aliran modal asing (capital inflow) makin deras ke dalam negeri mencapai Rp 224,2 triliun. 

Gubernur BI Perry Warjiyo merinci, modal asing yang masuk ke surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 168,6 triliun, sebesar Rp 50 triliun ke pasar saham, Rp 3 triliun ke obligasi korporasi dan Rp 2,6 triliun ke Sertifikat Bank Indonesia (BI). "Ini alhamdulillah kita tutup 2019 dengan capaian kestabilan eksternal yang terjaga dengan aliran modal asing masuk cukup besar, di samping cadangan devisa kita akan naik kembali," kata Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Derasnya aliran modal asing ke Indonesia mengindikasi Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal IV-2019 akan surplus. Selain itu, posisi cadangan devisa juga akan naik di kuartal empat.

Derasnya inflow sepanjang 2019 juga terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat sebesar 3,68 persen ke posisi Rp 13.880 per dolar Amerika serikat (AS), atau salah satu yang terbaik di Asia. “Rupiah sepanjang tahun mengalami apresiasi dan tentu saja di bawah Thailand dan hampir sama dengan Filipina,” ujar Perry Warjiyo.

Indikator lain yang menunjukkan terjaganya stabilitas eksternal adalah credit default swap (CDS) yang pada akhir tahun tercatat 60,6 basis poin. “Stabilitas eksternal terjaga baik, nilai tukar terapresaisi, salah satu mata uang terbaik, inflow cukup besar dan cadev meningkat indikasikan NPI triwulan IV akan tercatat surplus dan CDS spread rendah lima tahun terakhir,” jelas Perry Warjiyo.

Sebagai informasi, posisi cadangan devisa sepanjang 2019 ini untuk Januari sebesar US$ 120,1 miliar, Februari US$ 123,3 miliar, Maret US$ 124,5 miliar, April sebesar US$ 124,3, Mei US$ 120,3 miliar, Juni sebesar US$ 123,8 miliar, Juli US$ 125,9 miliar, Agustus US$ 126,4 miliar, September US$ 124,3 miliar, Oktober US$ 126,7 miliar dan November tercatat US$ 126,6 miliar.

Sementara kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2019 menunjukkan perbaikan dengan mencatat defisit US$ 46 juta, atau jauh lebih rendah dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar US$ 2,0 miliar.

NPI pada kuartal III-2019 ini didukung perbaikan defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat.

Kemudian defisit neraca transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) pada kuartal III-2019 membaik. BI mencatat CAD sebesar US$ 7,7 miliar atau 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 8,2 miliar atau 2,9 persen dari PDB.



Sumber: Investor Daily