Menkeu Sebut Defisit APBN 2019 2,2% dari PDB

Menkeu Sebut Defisit APBN 2019 2,2% dari PDB
Ilustrasi Rupiah. ( Foto: BeritaSatu Photo / David Gita Roza )
/ WBP Selasa, 7 Januari 2020 | 21:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar Rp 353 triliun atau 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sri Mulyani menuturkan defisit tersebut merupakan 119,3 persen terhadap pagu APBN yaitu Rp 296 triliun atau 1,84 persen terhadap PDB serta meningkat 31 persen (yoy) dibandingkan 2018 yaitu Rp 269,4 triliun atau 1,82 persen terhadap PDB.

“Defisit kita untuk 2019 di level 2,2 persen terhadap PDB yaitu Rp 353 triliun karena pendapatan negara tertekan sedangkan belanja negara terjaga,” katanya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Sri Mulyani menjelaskan dari sisi penerimaan negara sepanjang 2019 total realisasinya adalah Rp 1.957,2 triliun atau 90,4 persen dari target APBN yaitu Rp 2.165,1 triliun.

Menkeu mengatakan angka itu merupakan realisasi hingga 31 Desember 2019 pada pukul 24.00 waktu setempat, namun bersifat sementara sebab masih dalam proses audit oleh pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Ini posisi penutupan sampai 31 Desember namun realisasi sementara dan akan masih ada angka bergerak satu hingga dua bulan ke depan karena masih dalam tim audit BPK,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menyatakan penerimaan negara tersebut masih mampu meningkat 0,7 persen (yoy) dibandingkan realisasi 2018 yang sebesar Rp 1.943,7 triliun meskipun gejolak dunia sangat dirasakan pada tahun tersebut.

Ia merinci pendapatan negara itu berasal dari penerimaan perpajakan yang sepanjang 2019 sebesar Rp 1.545,3 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp 405 triliun, dan hibah Rp 6,8 triliun.

Sedangkan dari sisi belanja negara sepanjang 2019 telah terealisasi Rp 2.310,2 triliun atau 93,9 persen terhadap target APBN Rp 2.461,1 triliun yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 1.498,9 triliun serta transfer daerah dan dana desa Rp 811,3 triliun.

Sri Mulyani menyebutkan melalui realisasi pendapatan dan belanja itu membuat defisit keseimbangan primer melonjak yaitu Rp 77,5 triliun atau jauh lebih tinggi dari target APBN Rp 20,1 triliun.

“Kalau dari sisi pembiayaan anggaran itu mencapai Rp 399,5 triliun atau 134,9 persen dari pagu yakni Rp 296 triliun,” ujar Sri Mulyani.

Di sisi lain, ia mengatakan defisit Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain seperti Vietnam mencapai 4,4 persen PDB, Cina 6,1 persen PDB, Afrika Selatan 6,2 persen PDB, India 7,5 persen PDB, Amerika Serikat 5,6 persen PDB, dan Brasil 7,5 persen PDB.

“Jadi kalau kita lihat kombinasi pemerintah dalam menjaga fiskal untuk mampu mendorong ekonomi dan defisit melebar tapi jauh lebih rendah dari peer emerging countries lain,” kata Sri Mulyani.



Sumber: ANTARA