MiLearn Jadikan Agen Manulife Makin Produktif

MiLearn Jadikan Agen Manulife Makin Produktif
Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland (kiri) bersama Direktur dan Chief Operating Officer Hans De Waal (kanan) berbicang dengan Agen Manulife Goppy Hutasoit dan Fenny Nurhayati saat peluncuran aplikasi Milearn, di Jakarta. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Rabu, 15 Januari 2020 | 10:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan teknologi digital mengubah tatanan kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Pergeseran aktivitas dari dunia nyata ke dunia maya pun banyak berubah. Hal itu ditandai dengan meningkatnya pengguna internet. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mencatat, setiap tahun pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,2 % atau 27 juta jiwa. Hingga Juni 2019 tercatat sudah 171 juta jiwa pengguna internet di Indonesia. 

Sedangkan, “Digital Around The World 2019" mengungkapkan, dari total 268,2 juta penduduk Indonesia, 150 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Artinya, penetrasi internet sudah 56 %. 

Fakta ini menunjukkan, kecepatan dan kebebasan mengakses informasi di mana dan kapan saja sudah menjadi kebutuhan mendasar. Termasuk bagi mereka yang bergerak di bidang agensi asuransi.

Agen asuransi tidak hanya dituntut mampu menjual produk asuransi saja, tetapi juga harus piawai dan bergaul erat dengan dunia digital agar tidak tertinggal. Karena itulah, awal tahun ini Manulife Indonesia meluncurkan aplikasi MiLearn. 

MiLearn merupakan aplikasi pelatihan digital yang sangat berguna untuk tenaga pemasar baik agen maupun financial specialist Manulife. Mereka dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dengan mengakses aplikasi itu setiap saat, melalui gadget.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Manulife Indonesia Ryan Charland di Jakarta pekan lalu mengatakan, kehadiran MiLearn diharapkan dapat memudahkan tenaga pemasar menjalankan peran mereka memberi solusi perencanaan keuangan profesional dan berkualitas kepada seluruh nasabah.

Manfaat aplikasi MiLearn sangat dirasakan para agen Manulife. “Saya semakin percaya diri setelah menggunakan MiLearn,” ujar Goppy Hutasoit yang sudah menjadi agen Manulife sejak 1 Juli 2005. 

Ia mengakui, aplikasi MiLearn sangat membantu pekerjaannya. Lewat aplikasi MiLearn, ia bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Dia dapat mengikuti semua materi pelatihan dan mengulanginya kembali jika diperlukan tanpa harus bertatap muka dengan trainer di ruang kelas. 

“Waktu menjadi efisien. Dulu, harus ikut training tujuh hari dan harus menguasai semua materi. Sekarang, bisa menyesuaikan waktu untuk mempelajari materi pelatihan di aplikasi MiLearn tanpa mengganggu aktivitas kita. Kalau ada yang kelupaan, masih bisa kita pelajari lagi dari tutorial di aplikasi. Ini sangat membuat kita percaya diri saat bertemu calon customer,” tandasnya. Goppy menambahkan, aplikasi itu juga meningkatkan kinerjanya dalam pemasaran produk. “Saya malah bisa cepat closing,” tambahnya.

Respons Positif

Hal senada disampaikan oleh agen Manulife asal Bandung, Jawa Barat, Fenny Nurhayati. Wanita yang sudah delapan tahun ini menjadi agen Manulife Indonesia tersebut mengakui, kehadiran aplikasi MiLearn ini sangat membantu aktivitasnya sebagai tenaga pemasar Manulife di daerah. 

Pasalnya, dengan aplikasi ini, ia sangat terbantu dalam memberikan pelayanan pada nasabah. 

Aplikasi MiLearn, tutur Fenny, sangat membantunya yang berada di daerah karena ia bisa mengakses materi-materi yang menjadi kebutuhannya setiap saat. “Di mana pun saya bisa belajar dan tidak terikat waktu lagi seperti training zaman dulu yang harus hadir di kelas. Kini, dalam perjalanan atau sambil menunggu nasabah, saya bisa akses materi yang saya butuhkan untuk mempelajarinya. Hal ini sangat memudahkan dan mendukung pekerjaan agen,” tandasnya. 

Director and Chief Operating Officer Manulife Indonesia Hans De Waal mengatakan, aplikasi MiLearn ini merupakan alat untuk membantu para agen dalam melayani nasabah. Dikatakan, saat ini Manulife Indonesia memiliki 2,5 juta nasabah dan 7.000 agen di seluruh Indonesia. 

Hans menjelaskan, materi dalam aplikasi MiLearn ini lebih detail dan komplit. Harapannya, para agen bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya dengan lebih baik sehingga mereka juga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi nasabah.

“Kami fokuskan semua layanan ini menjadi satu kesatuan yang menyeluruh yakni melakukan inovasi layanan maupun membekali para tenaga pemasar dan karyawan, sehingga tujuan perusahaan untuk terus memprioritaskan kebutuhan nasabah dapat terus terlaksana,” kata dia.

Menurut Hans, bukti Manulife Indonesia fokus pada nasabah juga terlihat dari jumlah klaim yang dibayar. Berdasarkan data per November 2019, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp 5,3 triliun (un-audited) atau setara dengan Rp 15 miliar per hari atau Rp 608 juta per jam kepada nasabah.

Kendati tidak memasang target khusus terkait peningkatan penjualan, tetapi Hans mengakui bahwa dengan adanya fasilitas ini maka para agennya akan mendapatkan materi yang cukup sesuai kebutuhan mereka. “Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan penjualan juga,” ujar Hans.

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia pada tahun 2018 melaporkan perolehan laba sebesar Rp 2,6 triliun. Pencapaian ini meningkat 170 % dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, pendapatan premi bersih meningkat 4 % menjadi Rp 9,2 triliun pada 2018. Selain itu, jumlah ekuitas juga naik sebesar 4 % menjadi Rp 11,5 triliun.

Sementara itu, klaim yang dibayarkan kepada nasabah mencapai lebih dari Rp 5,5 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 300 miliar dibayarkan untuk klaim kematian, Rp 500 miliar klaim kecelakaan dan kesehatan, Rp 800 miliar klaim jatuh tempo, dan unit link sebesar Rp 380 miliar. 

Manajemen Manulife Indonesia berharap, kehadiran layanan digital MiLearn akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan perusahaan. Selain mampu meningkatkan jumlah nasabah, Ryan juga berharap kehadiran aplikasi MiLearn ini mampu menaikan angka penjualan Manulife Indonesia di tahun 2020 ini.



Sumber: BeritaSatu.com