Minyak Naik Tipis Terganjal Ekonomi Tiongkok

Minyak Naik Tipis Terganjal Ekonomi Tiongkok
Ilustrasi minyak. ( Foto: Beritasatu.com/Muhammad Reza )
/ WBP Sabtu, 18 Januari 2020 | 09:48 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Jumat (18/1/2020) karena pertumbuhan ekonomi yang lamban di Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia. Hal ini meningkatkan kekhawatiran permintaan bahan bakar dan mengganjal optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang Tiongkok- Amerika Serikat (AS).

Minyak mentah berjangka Brent sedikit menguat 23 sen menjadi menetap US$ 64,85 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik tipis dua sen menjadi US$ 58,54 per barel.

Untuk minggu ini, Brent turun 0,2 persen, sementara WTI kehilangan 0,8 persen.

Ekonomi China, terbesar kedua di dunia, tumbuh sebesar 6,1 persen pada 2019, ekspansi paling lambat dalam 29 tahun, data pemerintah menunjukkan pada Jumat (17/1/2020). "Meningkatnya tekanan ekonomi mungkin akan membatasi kenaikan minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang," kata Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets.

Namun melonjaknya permintaan Tiongkok, seperti terlihat pada kilang, membantu mengimbangi data pertumbuhan ekonomi yang kurang positif. Pada 2019, kilang-kilang Tiongkok memproses 651,98 juta ton minyak mentah, setara dengan rekor tertinggi 13,04 juta barel per hari (bph) dan naik 7,6 persen dari 2018, data pemerintah menunjukkan. Hasil kilang juga mencatat rekor bulanan untuk Desember.

Harga naik pada Kamis (16/1/2020) setelah Tiongkok dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan Fase 1 mereka. Sebagai bagian dari kesepakatan, Tiongkok berkomitmen untuk menambah US$ 54 miliar dalam pembelian energi.

Pasar juga terangkat oleh persetujuan Senat AS terhadap perubahan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Meksiko-Kanada.

Di Amerika Serikat, produksi minyak mentah tumbuh ke rekor tertinggi, sementara persediaan bahan bakar minyak meningkat karena permintaan yang mengecewakan, terutama untuk sulingan di musim panas ini.

Jumlah rig minyak AS, indikator produksi minyak mentah masa depan, juga naik minggu ini untuk pertama kalinya dalam empat minggu. Pengebor menambahkan 14 rig minyak, sehingga totalnya menjadi 673 rig, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.



Sumber: Xinhua, Antara