Biomassa, Energi Anugerah Khusus untuk Indonesia

Biomassa, Energi Anugerah Khusus untuk Indonesia
Komisaris Utama PT Energy Management Indonesia (EMI) Sarwono Kusumaatmadja (kedua dari kiri) didampingi Direktur Operasi dan Pengembangan EMI Antonius Aris Sudjatmiko (kiri) dan anggota Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Donny Yusgiantoro saat kunjungan ke pabrik pelet kayu di Subang, Jawa Barat, Senin, 20 Januari 2020. ( Foto: Investor Daily / Gora Kunjana )
Asni Ovier / AO Senin, 20 Januari 2020 | 17:53 WIB

Subang, Beritasatu.com - Berdasarkan hasil kajian PT Energy Management Indonesia (EMI) Persero, salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di Indonesia adalah yang berbasis biota. Sebab, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di garis katulistiwa dan dilewati barisan gunung berapi merupakan posisi geografis yang kaya akan sumber bioenergi, seperti biomassa. Dengan demikian, bioenergi merupakan pilihan utama, karena benar-benar bercirikan khas Indonesia.

“Limbah biomassa ini dikumpulkan dan diproses untuk dijadikan wood pellet (pelet kayu) yang bisa dipergunakan sebagai bahan bakar, khususnya di daerah yang sulit dijangkau oleh bahan bakar minyak (BBM) dan gas. Ditambah lagi, cadangan energi migas kita semakin menipis yang pada suatu saat memang harus digantikan, karena langka atau habis dan memaksa kita harus mengimpor,” kata Komisaris Utama PT EMI Sarwono Kusumaatmaja saat meninjau pabrik pelet kayu di Subang, Jawa Barat, Senin (20/1/2020).

Sebelum meninjau pabrik pelet kayu, Sarwono Kusumaatmaja dan rombongan juga menyambangi pabrik tahu San San Group yang terletak di Kampung Susukan Girang, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang.

Menurut Sarwono, bahan bakar berbasis biomassa ini adalah sumber yang tidak akan habis.

“Jangan kaget kalau sesuatu yang masih sederhana ini penampilannya dan belum lazim suatu waktu kelak akan menjadi bisnis yang lazim dengan skala besar. Karena, saya selalu berpendapat, apa yang tidak lazim saat ini bisa menjadi kelaziman di masa depan,” ujarnya.

PT Energi Management Indonesia (Persero) sebagai BUMN yang bergerak di bidang energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) menjadi mitra strategis pemerintah untuk mensinergikan dan mengintegrasikan para pemangku kepentingan di sektor energi dan lindung lingkungan, mulai dari produsen, konsumen dan masyarakat luas dalam menghadapi perubahan iklim.

“Masyarakat kita banyak yang sudah sadar akan pentingnya solusi energi altenatif dari sumber setempat yang ramah lingkungan sekaligus membuka lapangan kerja khususnya di wilayah pedesaan. Kita menghimpun stakeholder terkait untuk mendiskusikan permasalahan mulai dari permasalahan energi, penggundulan hutan, pengolahan limbah, dsb. Misalnya kelompok diskusi Pojok Iklim. Kita sudah saling kenal. Sehingga suatu permasalahan lingkungan seperti kasus penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar bisa lekas mendapat usulan solusi karena dibahas bersama,” kata Sarwono.

Menurut Sarwono, industri pelet kayu sangat baik bagi masyarakat, karena bahan-bahannya ada di sekitar mereka. Proses rekayasanya pun relatif sederhana demikian pula teknologinya. Industri ini tidak menyusahkan dan masyarakat bisa dilatih untuk mengembangkan dan memanfaatkannya.

“Dibandingkan gas misalnya yang perlu infrastruktur dan sistem distribusi yang canggih dan sangat mahal, menyebabkan energi harus dijual ke penduduk dengan harga tinggi sehingga perlu ada subsidi. Kalau bahan bakar berbasis biomassa ini (pelet kayu), dari sononya sudah murah dan dimana-mana bahan bakunya ada.
Kami akan duduk di EMI untuk membahas lebih lanjut bagaimana pelet kayu ini jadi memasyarakat,” ucapnya.

Industri Terpadu
Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah mengatakan, yang diperlukan saat ini di Subang dan wilayah lain sejenis adalah konsep industri terpadu.

Pabrik pelet kayu harus didukung pabrik-pabrik pendukung lainnya. Pabrik kayu, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah seperti jerami dan sebagainya, bisa memasok pabrik pelet kayu.

“Pengaturan sektor terpadunya masih kurang di Subang ini. Kelemahan kita memang di sektor kebijakan. Padahal pabrik pelet kayu ini kan bagus sekali, tidak mencemari lingkungan. Renewable energy,” ujarnya didampingi Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan.

Donny mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengkaji feasibility industri pelet kayu ke depannya. Kadin akan bekerja sama dengan produsen atau pun pengguna pelet.

“Semua aspek harus diperhitungkan tidak cuma yang tampak. Keramah lingkungannya juga harus diperhitungkan, ongkos polusinya itu juga harus dihitung. Kajian yang kita lakukan nanti harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah, menurut Donni, harus mengadvokasi masyarakat industri ini. Kadin akan menjembatani sektor riil seperti ini. “Kita akan melakukan berbagai kajian, tapi yang urgent adalah kajian awal dulu. Misalnya penggunaan kayu dibanding pelet kayu mana yang lebih efisien. Kita hitung juga biaya-biaya yang tidak ada rupiahnya seperti kenyamanan, kebersihannya, dan sebagainya ,” ujarnya.

Ditemui di tempat sama, Sri Wahyu Purwanto, Praktisi Burner/Mesin pembakaran mengatakan, berdasarkan pengamatan pada burner di pabrik tahu San San Group diperoleh data sebagai berikut:

Dibandingkan dengan elpiji, penggunaan pelet kayu dapat menghemat 50%, yaitu pemakaian elpiji selama 12 jam/hari sekitar Rp 1,2 juta sedangkan untuk pelet kayu hanya Rp 600 ribu. dengan harga pellet Rp 2500 /kg.

Burner untuk boiller dengan bahan bakar pelet kayu sangat sederhana, mudah dan bersih. Di samping itu, dengan desain burner yang sederhana saja saat ini (hanya memakai udara primer), asap yang ditimbulkan sangat sedikit. Kebersihannya masih dapat ditingkatkan dengan menambahkan udara sekunder pada burner tersebut. Sehingga didapatkan energi panas yang maksimal.

“Dengan variabel-variabel di atas, saya yakin bahwa penggunaan bahan bakar pelet kayu untuk pabrik tahu sangat layak dan hendaknya diaplikasikan di seluruh pabrik pengolahan pangan sejenis di Indonesia,” katanya.

Bahkan, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan digunakan oleh UMKM dalam penggunaan oven untuk pengeringan gabah, oven untuk pengeringan teh dll.

“Mengingat ke depan, kita berangsur-angsur akan meninggalkan bahan bakar fosil menuju bahan bakar terbarukan,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan