Lewati Titik Terendah, Siklus Ekonomi Indonesia Masuk Fase Meningkat

Lewati Titik Terendah, Siklus Ekonomi Indonesia Masuk Fase Meningkat
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan )
Herman / FMB Kamis, 23 Januari 2020 | 17:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyampaikan, di dalam merumuskan berbagai kebijakan, BI selalu mencermati naik turunnya siklus ekonomi dan siklus keuangan. BI juga melakukan analisis terhadap pergerakan siklus tersebut, di mana siklus ekonomi Indonesia saat ini dinilainya terus mengalami peningkatan.

“Di Indonesia, saat ini siklus ekonomi sudah melewati titik terendah dan terus mengalami peningkatan. Siklus ekonomi ini yang mencerminkan bagaimana dinamika ekonomi kita, dan itu juga sejalan dengan berbagai perkembangan, baik dari sisi faktor luar negeri dan dalam negeri,” kata Perry Warjiyo, di gedung BI, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Dari faktor luar negeri, Perry mengatakan siklus ekonomi Indonesia banyak dipengaruhi oleh naik turunnya harga komoditas dunia, demikian juga dengan pola pertumbuhan ekonomi dunia.

“Itulah kenapa BI memperkirakan siklus ekonomi kita akan naik. Memang secara keseluruhan di 2019 prediksinya (pertumbuhan ekonomi) sekitar 5,1 persen. Kami mencermati beberapa perkembangan di bulan Oktober, November dan Desember, kemungkinan perkiraan kami sedikit di bawah 5,1 persen, tetapi masih di atas 5 persen,” kata Perry.

Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 yang tadinya diperkirakan 3,1 persen menurutnya juga akan naik menjadi 3,2 persen. Kondisi ini menjadi faktor positif bagi siklus ekonomi Indonesia, di mana BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan naik sebesar 5,1 persen sampai 5,5 persen atau mendekati titik tengah sebesar 5,3 persen.

“Harga komoditas di 2020 akan lebih baik dibandingkan tahun lalu, demikian juga dengan aliran modal asing ke Indonesia yang di 2019 cukup besar, juga akan terus masuk. Faktor-faktor ini semuanya positif, sehingga mendorong siklus ekonomi Indonesia yang naik. Namun saat ini siklus ekonomi kita belum mencapai puncaknya,” papar Perry.

Dari faktor dalam negeri yang mendorong siklus ekonomi Indonesia, Perry mengatakan konsumsi juga masih terjaga, sementara investasi infrastruktur terus bertumbuh. “Investasi non bangunan juga terus mengalami peningkatan karena faktor kepercayaan dunia usaha dan juga langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan pemerintah untuk mendorong investasi, salah satunya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja,” tuturnya.

Sementara itu untuk siklus keuangan, menurut Perry lazimnya apabila siklus ekonomi sedang naik dan belum mencapai puncaknya, maka siklus keuangan akan selalu mengikuti atau berada di bawah siklus ekonomi.

“Kita lihat salah satu faktor dari pertumbuhan pembiayaan, termasuk kredit yang masih belum tumbuh kuat karena memang ekonomi kita sedang naik. Kalau ekonomi naik, permintaan kredit akan naik dan siklus keuangan juga akan naik. Itulah kenapa kita perkirakaan pertumbuhan kredit tahun ini sekitar 10 persen sampai 12 persen. Namun pertumbuhan kredit ini belum optimal. Dalam jangka waktu dua tahun ke depan, kredit akan tumbuh lebih tinggi mengikuti pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Waktu kami memperkirakan pertumbuhan kredit 10 persen sampai 12 persen, ini karena memang pertumbuhan ekonomi kita masih rendah dan siklus keuangan kita sedang naik,” papar Perry.



Sumber: BeritaSatu.com