Pemerintah Ingin Tingkatkan Ekspor Furnitur

Pemerintah Ingin Tingkatkan Ekspor Furnitur
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki (ketiga dari kanan) Mendengarkan masukan pelaku usaha Mebel di Grobogan, Jateng, Jumat (24/1/2020). ( Foto: beritasatu.com / Edi Hardum )
Siprianus Edi Hardum / EHD Jumat, 24 Januari 2020 | 19:46 WIB

Grobogan, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki agar mendengar masukan dan keluhan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) termasuk yang bergerak di bidang mebel atau furnitur.

Yang penting didengarkan dari pelaku UMKM adalah apa menjadi kendala serta bagaimana strategi meningkatkan usaha agar ekspor produk UMKM mebel dinaikan menjadi dua kali lipat. “Saya ke sini untuk mendengar keluhan dan masukan bapak dan ibu pelaku UMKM terutama yang bergerak di bidang furnitur,” kata Teten saat berdialog dengan pelaku usaha mebel di tempat pabrik mebel PT Philnesia Internasional Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (24/1/2020).

Teten mengatakan, hasil pertemuan dengan para pelaku furniture ini akan dibuatkan rumasan yang tepat oleh pemerintah agar mengambil strategi yang tepat juga supaya ekspor produk furnitur ditingkatkan menjadi dua kali lipat dari sekarang.

Pada kesempatan itu Teten mengatakan, Indonesia saat ini lebih banyak impor dibanding ekspor, maka neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit. Oleh karena itu, kata dia, Presiden Jokowi ingin ekspor produk sektor UMKM ditingkatkan. “Produk UMKM kita terutama mebel sangat diminati di negara lain. Oleh karena itu, ayo kita tingkatkan,” kata Teten.

Keluhan dan Masukan

Pada kesempatan itu, para pelaku usaha furnitur mengeluhkan antara lain minimnya peralatan modern dalam mengolah kayu dan membuat furnitur.

“Dalam membelah kayu kebanyakan dari kami masih menggunakan peralatan lama, tradisional. Padahal ada perusahaan asing di sini, mereka menggunakan peralatan canggih sehingga cepat kerjanya,” kata Very, seorang pelaku usaha furnitur.

Sedangkan Sukardji, seorang pelaku usaha mebel rotan mengatakan, kendala utama mereka adalah tidak adanya terminal bahan baku rotan. “Padahal mebel rotan Indonesia sangat mendomisasi untuk ekspor. Kami mengusulkan agar terminal bahan baku rotan harus disediakan,” kata pria asal Sukoharjo ini.

Pelaku usaha furnitur dari Jepara, Eka Prasetya, mengatakan, permasalahan yang dialaminya sebagai pelaku usaha furnitur adalah antara pelaku usaha furnitur saling bersaing tidak sehat, bahkan usaha mebel yang besar dimusuhi yang usaha mebel yang kecil. “Seharusnya kita saling kerja sama. Tidak boleh saling memusuhi,” kata Eka yang mengaku omzet per tahun dari usahanya menjadi Rp 50 miliar.
Ia mengatakan, produk mebelnya diekspor ke berbagai negara seperti negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Australia.

Eka mengatakan, kendala lain yang dialaminya adalah kurangnya jumlah tenaga kerja. “Sekarang ini sulit sekali mendapatkan tenaga kerja,” kata dia.

Erik, salah satu Direksi PT Philnesia Internasional Grobogan, Jawa Tengah, mengatakan, produk mebelnya diekpor ke nagara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Australia. Erik enggan menyebutkan omzet usahanya.

Ia mengatakan, kendala yang dialaminya adalah kurangnya jumlah tenaga kerja yang terampil. Karena itulah, ia melakukan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.

Mendengar keluhan para pengusaha itu, Teten meminta, pertama, semua pelaku usaha mebel harus berkolaborasi atau kerja sama, tidak boleh saling memusuhi. Kerja sama yang dimaksud Teten adalah beberapa perusahaan besar yang besar harus ditunjuk dan bersedia menjadi bapak angkat atau perwakilan dari perusahaan mebel kecil untuk memasarkan produknya terutama ke luar negeri.

Kedua, perusahaan besar harus memberikan masukan dan pembinaan kepada perusahaan kecil agar kualitas produknya bisa diterima di pasaran terutama pasaran internasional.

Ketiga, pelaku usaha yang mengalami kesulitan dalam permodalan bisa bekerja sama dengan pihak perbankan terutana Bank BRI serta Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB) KUMKM.

Dalam perjalanan ke Jateng, Jumat (24/1/2020), Teten berkunjung ke sejumlah perusahaan mebel seperti PT Terryham Proplas Indonesia Kendal, PT Inizio Kendal, dan Polititeknik Furniture Kendal.

 



Sumber: Suara Pembaruan