Dalam Sebulan, Satgas Waspada Investasi Temukan 148 Investasi Ilegal

Dalam Sebulan, Satgas Waspada Investasi Temukan 148 Investasi Ilegal
(Kiri ke kanan) Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam . Tobing, Kanit IV & Penyidik Subdirektorat Pajak, Asuransi, dan Investasi Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim POLRI Komisaris Polisi Setyo Bimo Anggoro, dan Ketua Komunitas Konsumen Indonesia David ML Tobing, di acara IndoSterling Forum ke-8 yang mengangkat tema “Jauhi Jerat Utang Fintech Ilegal”, di Jakarta, 16 Oktober 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Lona Olavia / FMB Kamis, 30 Januari 2020 | 20:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Satgas Waspada Investasi menemukan masih banyaknya kegiatan fintech peer to peer lending alias pinjaman online ilegal masih beredar dan berpotensi merugikan masyarakat.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengatakan hasil penelusuran Satgas pada Januari ini telah menemukan 120 entitas yang melakukan kegiatan fintech peer to peer lending ilegal yang tidak terdaftar di OJK.

Selain kegiatan fintech peer to peer lending ilegal, Satgas Waspada Investasi juga menghentikan 28 kegiatan usaha yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat. Jadi, total ada 148 investasi ilegal awal tahun ini.

“Banyak kegiatan fintech peer to peer lending ilegal pada website, aplikasi atau penawaran melalui SMS yang beredar. Masyarakat selalu kami minta waspada agar memanfaatkan daftar fintech peer to peer lending yang terdaftar di OJK,” katanya dalam siaran pers, Kamis (30/1/2020).

Menurut Tongam, masyarakat juga harus terus diinformasikan untuk berhati-hati memanfaatkan mudahnya penawaran meminjam uang dari perusahaan fintech peer to peer lending mengingat tanggung jawab dalam pengembalian dana yang dipinjam.

“Meminjam uang di mana pun harus bertanggung jawab untuk membayarnya. Bahayanya jika meminjam di fintech peer to peer lending ilegal. masyarakat bisa jadi korban ancaman dan intimidasi jika menunggak pinjaman,” katanya.

Sebelumnya, pada tahun 2019, Satgas Waspada Investasi menghentikan kegiatan 1494 fintech peer to peer lending ilegal. Total yang telah ditangani Satgas Waspada Investasi sejak tahun 2018 sampai Januari 2020 sebanyak 28 entitas.

Sementara itu, dari 28 entitas tersebut di antaranya melakukan kegiatan berikut, yakni, 13 Perdagangan forex tanpa izin, tiga penawaran pelunasan utang, dua investasi money game, dua equity crowdfunding ilegal, dua multilevel marketing tanpa izin, satu investasi sapi perah, satu investasi properti, satu pegadaian tanpa izin, satu platform iklan digital, satu investasi cryptocurrency tanpa izin, dan  satu koperasi tanpa izin.

Satgas Waspada Investasi juga menyampaikan bahwa terdapat tiga entitas yang ditangani Satgas telah mendapatkan izin usaha yaitu PT Dxplor Duta Media, PT Indonesia Wijaya Sejahtera, dan PT Makin Jaya Agung telah memperoleh izin usaha untuk melakukan kegiatan penjualan produk dengan sistem penjualan langsung, serta satu entitas yang telah membuktikan bahwa kegiatannya bukan merupakan fintech lending yaitu Yayasan Beruang Cerdas Indonesia, sehingga dilakukan normalisasi atas aplikasi yang telah diblokir.

Untuk menampung pengaduan, konsultasi dan sosialisasi langsung mengenai berbagai persoalan terkait investasi, fintech lending dan gadai swasta ilegal, Satgas kembali membuka Warung Waspada Investasi bertempat di di The Gade Coffee & Gold, Jalan H. Agus Salim, Jakarta Pusat. Warung Waspada Investasi akan beroperasi setiap hari Jumat pukul 09.00 – 11.00 WIB.

Dalam Warung Waspada Investasi tersebut akan hadir perwakilan dari 13 kementerian/lembaga anggota Satgas Waspada Investasi yang akan melayani pertanyaan ataupun aduan masyarakat mengenai kegiatan investasi ilegal, fintech lending ilegal ataupun gadai swasta ilegal.

“Selama ini laporan ataupun pertanyaan masyarakat lebih banyak masuk melalui saluran komunikasi seperti Kontak OJK 157, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id.



Sumber: Suara Pembaruan