PP Presisi Anggarkan Capex Rp 1 Triliun

PP Presisi Anggarkan Capex Rp 1 Triliun
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT PP Presisi (PPRE) di Plaza Subianto, Jakarta, Jumat (31/1/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Feriawan Hidayat )
Lona Olavia / FER Jumat, 31 Januari 2020 | 15:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan konstruksi PT PP Presisi Tbk (PPRE) akan melakukan pembelian kembali saham (buyback) milik publik dengan alokasi dana sebesar Rp 293 miliar.

PPRE Raih Restu Buyback Saham

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan PPRE Benny Pidakso menilai, harga saham perseroan saat ini tak mencerminkan kondisi fundamental dan likuiditas yang kuat.

"Harga buyback mengacu harga 90 hari terakhir, buyback tidak akan kami lakukan kalau harganya mendekati harga IPO. Karena tujuan buyback untuk meningkatkan likuiditas dan kenaikan harga saham di pasar," kata Benny Pidakso usai RUPSLB perseroan di Jakarta, Jumat (31/1/2020).

Benny mengatakan, perseroan berharap lewat buyback ini PPRE dapat mencapai struktur permodalan yang efisien dan memungkinkan menurunkan biaya modal keseluruhan, fleksibilitas yang lebih besar dalam rangka mengelola modal jangka panjang. Selain itu, pengelolaan kelebihan arus kas bisa dilakukan dengan cara yang efisien dan benar disamping meningkatkan Earning Per Share (EPS) serta Return on Equity (ROE) secara berkelanjutan.

PP Presisi Targetkan Kontrak Baru Naik Jadi Rp 7 Triliun

Adapun sumber pendanaan buyback, kata Benny, berasal dari kas internal dan piutang perseroan yang ada di perusahaan induk PT PP (Persero) Tbk. Buyback saham tersebut akan dilakukan melalui transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) di pasar reguler secara bertahap selama 18 bulan terhitung sejak 6 Februari 2020 hingga 30 Juli 2021.

Sementara terkait kinerja, perseroan menargetkan akan capai kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 7 triliun atau tumbuh 20 persen dibanding tahun 2019. Pendapatan juga akan digenjot naik 20 persen. Perseroan pun menganggarkan belanja modal (capex) dibawah Rp 1 triliun yang sebagian besarnya digunakan untuk investasi alat berat, baik di sektor konstruksi maupun pertambangan.

Benny menyatakan sektor konstruksi atau civil work akan paling banyak berkontribusi terhadap kontrak kerja. Selain itu, di 2020 PP Presisi akan masuk ke sektor penambangan nikel sebagai kontraktor nikel, smelter, dan infrastruktur pertambangan.

Buyback Saham, PPRE Siapkan Dana Rp 293 Miliar

"Hal ini disebabkan tambang nikel cocok dengan perusahaan karena kapasitas kecil, dan tidak besar seperti batu bara," jelasnya.

Lebih lanjut, meski harga batubara saat ini kurang baik, namun langkah pemerintah yang memotong kuota batu bara 10 persen akan meningkatkan harga kedepannya. "Diversifikasi tidak berdasarkan bisnis yang kami lakukan tapi juga pasar di sektor pertambangan, infrastruktur besar," ucapnya.

Benny menambahkan, perseroan telah menyiapkan beberapa strategi untuk mendorong kinerja. Pertama, perseroan akan memperluas pangsa pasar di luar grup sehingga mampu bersaing di sektor konstruksi nasional.

Kedua, perseroan membidik kontrak baru di luar sektor konstruksi seperti, jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan dan sebagainya, juga infrastruktur tambang.

Ketiga, perseroan akan mengembangkan salah satu anak usahanya yaitu PT Lancarjaya Mandiri Abadi Tbk yang beroperasi dalam lini bisnis mining services sebagai diversifikasi usaha yang masih berbasis alat berat.



Sumber: Suara Pembaruan