Terapkan GCG, BTN Pastikan Tak Ada "Window Dressing"

Terapkan GCG, BTN Pastikan Tak Ada
Ilustrasi Bank BTN ( Foto: Beritasatu.com )
/ YS Kamis, 6 Februari 2020 | 11:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memastikan tidak ada window dressing terkait pemberian kredit dan restrukturisasi kepada PT Batam Island Marina (BIM). Segala proses bisnis telah mengikuti aturan melalui analisis bank sesuai peruntukkannya.

Sekretaris Perusahaan Bank BTN Achmad Chaerul seperti keterangan tertulis yang diterima SP di Jakarta, Kamis (6/2/2020) mengatakan, secara bisnis, penyaluran kredit ke PT BIM sesuai ketentuan yang berlaku. Upaya penyelesaian permasalahan kredit di perusahaan itu juga sesuai aturan.

“Terkait dugaan window dressing, kami pastikan tidak ada, karena secara bisnis pemberian fasilitas perbankan tersebut telah selesai dan lunas,” jelas Chaerul.

Chaerul merinci, pemberrian kredit disetujui untuk disalurkan dengan plafon awal Rp 100 miliar melalui rekening BIM di BTN. Kredit itu juga telah dijamin dengan agunan yang memadai dan telah diikat Hak Tanggungan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sejak kredit direalisasikan sampai Juli 2018, lanjut Chaerul, debitur atas nama BIM tercatat lancar dalam membayar kewajiban bunganya.

Menurut Chaerul, kredit BIM mulai bermasalah ketika terjadi penurunan kemampuan keuangan proyek. Penyebabnya, yakni meningkatnya Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek dan terlambatnya penerimaan dana dari konsumen. Keterlambatan tersebut terjadi akibat ketidaksesuaian rencana pembangunan unit dan realisasinya di lapangan.

Selain itu, BIM pun ditetapkan status Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sesuai hasil sidang pada 18 Oktober 2018 oleh Pengadilan Niaga di Medan.

Dijelaskan, perseroan melakukan upaya-upaya penyelamatan kredit dengan melakukan pola penjualan piutang secara cessie kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) pada 31 Desember 2018.

Saat itu, cessie merupakan opsi penyelesaian terbaik dan memenuhi ketentuan yang berlaku, tegas Chaerul.

Chaerul menegaskan, kredit terhadap PPA tidak ada indikasi window dressing karena pemberiannya sesuai peruntukkan. Fasilitas tersebut telah lunas pada 5 Maret 2019.

“Secara bisnis, pemberian dua fasilitas perbankan tersebut telah selesai,” jelasnya.

Chaerul menambahkan direksi juga telah dipanggil Badan Akuntabilitas Keuangan Negara Dewan Perwakilan Rakyat (BAKN DPR). “Direksi telah memberikan informasi dan klarifikasi kepada BAKN,” tutur dia.

Ia tidak sependapat dengan sangkaan adanya dugaan window dressing di tahun 2018 yang disampaikan Ketua Serikat Pekerja BTN. Sangkaan itu tidak didasari pada data dan fakta.

Menurut Chaerul, hingga kini Bank BTN terus meningkatkan penerapan asas Good Corporate Governance (GCG) dalam pelaksanaan bisnisnya.



Sumber: PR/Suara Pembaruan