Pemerintah Cukup Puas dengan Pertumbuhan Ekonomi 2019

Pemerintah Cukup Puas dengan Pertumbuhan Ekonomi 2019
Ilustrasi bursa kerja. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / FMB Senin, 10 Februari 2020 | 21:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 sebesar 5,02 persen sudah relatif baik. Meski, pergerakan pertumbuhan tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah, yakni sebesar 5,2 persen.

“Kalau kita lihat, sama-sama kita tahu bahwa pertumbuhan ekonomi selama 2019 dibandingkan tahun 2018, tumbuh 5,02 persen,” kata Arif Budimanta dalam Press Briefing di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Kalau dibandingkan dengan negara-negara yang bergabung dengan G20, lanjut Arif Budimanta, seperti Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya diproyeksikan akan tumbuh 6,9 persen, pada akhir tahun tertekan menjadi 6,1 persen.

India juga mengalami tekanan. Bila India menargetkan laju ekonomi 2019 tumbuh 8 persenan, namun akhirnya menjadi 7,23 persen. Lalu Turki sedang memasuki suasana tidak menguntungkan karena defisit neraca dagang dan deprisiasi nilai tukar.

“Secara keseluruhan, 5,02 persen bagi Indonesia relatif baik. Ini bukan pertumbuhan alamiah semata, namun berkualitas dan digerakkan oleh bauran kebijakan yang menggerakkan sektor riil,” ujar Arif Budimanta.

Dijelaskannya, penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 hanya 5,02 persen adalah nilai ekspor yang menurun dibandingkan 2018. Secara nilai ekspor, Indonesia mengalami kontraksi minus 4,86 persen karena aspek cyclical, bukan karena kemudian ketiadaan usaha.

“Usaha maksimal namun secara cyclical kita hadapi supercycle komoditas yang lagi menurun harganya,” tutur Arif Budimanta.

Pemerintah Masih Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,3%

Namun, dari sisi volume, ekspor memang mengalami peningkatan sebesar 9,82 persen, khususnya ekspor non migas seperti sawit dan batu bara. “Kalau dilihat, Pak Presiden concern pada peningkatan ekspor. Ekspor kita di 2019 secara volume naik, mendekati 10 persen atau tepatnya 9,82 persen. Ekspor nonmigas kita meningkat dari sisi volume baik terkait dengan CPO atau batubara. 9,82 persen,” jelas Arif Budimanta.

Tapi dari sisi nilai ada penurunan akibat penurunan harga komoditas. Karena harga komoditas mengalami kontraksi cukup dalam. Seperti, batu bara turun 27 persen di 2019 dibandingkan tahun 2018.

Tidak hanya itu, juga ada tekanan terhadap harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP). Rata-rata ICP Indonesia turun sekitar 8 persen. Sementara, proyeksi 2019 terhadap ICP ditargetkan US$ 70 per barel.

“Tetapi tapi kenyataannya kurang dari situ, sekitar US$ 62-63 per barel. Ini yang disebabkan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi kita. Walau secara volume nilai ekspor nonmigas, namun secara nilai karena ada kontraksi komoditas maka pengaruhi pertumbuhan ekonomi,” papar Arif Budimanta.



Sumber: BeritaSatu.com