Iklim Properti Kondusif, Apartemen Jangkau Kalangan Lebih Luas

Iklim Properti Kondusif, Apartemen Jangkau Kalangan Lebih Luas
Ilustrasi Apartemen ( Foto: The Straits Times )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 17 Februari 2020 | 10:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – 2020 diperkirakan akan menjadi tahun baik untuk pasar properti Indonesia. Pasalnya, menjelang akhir tahun 2019, pemerintah melakukan relaksasi Loan to Value (LTV) properti sebesar 5 persen dan kelompok hunian mewah yang nilainya di bawah Rp 30 miliar bebas pengenaan pajak pertambahan barang mewah (PPnBM).

"Pasar properti 2020 akan terus menjadi buyers market atau saat yang tepat bagi konsumen untuk membeli properti," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita mengutip data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI), dalam keterangan yang diterima redaksi Senin (17/2/2020).

Marine Novita mengungkapkan, situasi politik dan ekonomi pada 2020 kemungkinan akan lebih stabil setelah selesainya tahun politik yang cukup panas di tahun 2019. "Diperkirakan pasar properti tidak akan lagi wait and see, sehingga diharapkan bisa memacu percepatan kenaikan harga dan pasokan pada tahun 2020," kata Marine Novita.

Data RIPMI mencatat harga permintaan properti baik untuk rumah tapak maupun apartemen sebesar 112,1 di kuartal IV-2019, naik tipis 0,3 persen dari kuartal sebelumnya. Dibandingkan kuartal IV-2018, mencatat pertumbuhan year-on-year sebesar 7 persen.

Untuk indeks harga apartemen di kuartal IV-2019 mencatat kenaikan 1 persen dari kuartal sebelumnya menjadi 115,4. Kenaikan ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan menyusul penurunan indeks harga di dua kuartal sebelumnya. Data kuartalan menunjukkan indeks harga apartemen mengalami perlambatan pertumbuhan selama dua tahun terakhir. Hal ini juga mencerminkan dinamika pasar apartemen di daerah-daerah yang merupakan pemasok apartemen terbesar. Jakarta, misalnya, mencatat penurunan indeks harga kuartal IV-2019 sebesar 1 persen (quarter-on-quarter) dan 2 persen (year-on year).

Siklus suplai properti kuartalan ini terlihat dari indeks pasokan nasional untuk apartemen. Pada kuartal IV-2019, indeks suplai apartemen berada pada 106,7, turun 1 persen dari kuartal sebelumnya. Indeks suplai apartemen didominasi daerah-daerah yang merupakan pemasok apartemen terbesar seperti Jakarta (66 persen), Jawa Barat (12 persen) dan Banten (10 persen).

Menurut Marine, kestabilan indeks harga apartemen dari tahun ke tahun tidak selalu disebabkan kejenuhan di pasar apartemen. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah penargetan segmen pasar baru oleh para pengembang yang mau tidak mau menyebabkan moderasi dan penyesuaian harga.

“Pasar apartemen melihat target ekspansi pasar. Sekitar 5-10 tahun lalu, apartemen dijual sebagai komoditas gaya hidup. Sekarang, apartemen mulai dijual ke berbagai kelompok, tidak hanya kelas menengah ke atas, tetapi juga untuk kalangan menengah ke bawah,” kata Marine Novita.

Daerah dengan median harga permintaan yang tinggi menunjukkan penyesuaian harga. Hal ini karena lonjakan jumlah pasokan di daerah tersebut. Adanya dinamika pasar ini bisa dilihat misalnya di Ciumbuleuit dan Dago, Bandung, Jawa Barat, dengan median harga apartemen lebih tinggi dari daerah lainnya di Bandung secara umum.

Ciumbuleuit dan Dago, memiliki median harga masing-masing Rp 18,6 juta per m2 dan Rp 17,2 juta per m2, lebih tinggi dari kota Bandung dengan median harga Rp 16,9 juta per m2. Namun dengan turunnya indeks harga apartemen pada kuartal IV-2019, Ciumbuleuit mengalami penurunan indeks sebesar 7 persen (year-on-year) sementara Dago turun sebesar 4 persen (year-on-year).

Indeks suplai properti di kedua area tersebut selama kuartal yang sama menunjukkan telah terjadi penurunan harga seiring dengan peningkatan pasokan apartemen. Indeks suplai Ciumbuleuit naik 2 persen pada periode yang sama tahun 2018, sementara Dago mencatat kenaikan yang lebih signifikan sebesar 23 persen (year-on-year).

Tren yang sama juga terjadi di Depok, wilayah perkotaan lain di Jawa Barat, dimana indeks harga Margonda, daerah yang memiliki harga median lebih tinggi dari Depok, mengalami penurunan 1 persen (year-on-year) dalam indeks harga apartemennya, tetapi pada periode yang sama mencatat kenaikan indeks suplai yang cukup besar yaitu 32 persen (year-on-year). “Ini menunjukkan bahwa optimisme penjual apartemen tetap tinggi di daerah dengan median harga yang lebih tinggi. Namun, suplai apartemen telah bergeser menuju pasar lebih rendah dengan suplai yang lebih tinggi. Sehingga meskipun harga telah turun, jumlah suplai yang tersedia terus meningkat,” kata Marine.

Salah satu faktor yang mendorong suplai apartemen lebih terjangkau dan penyesuaian harga apartemen adalah meningkatnya minat pada properti rumah tapak di daerah pinggiran kota. Hal ini sebagian besar didorong pembangunan infrastruktur di dalam dan sekitar kota-kota besar.

Dia mengatakan, sebagai komoditas gaya hidup, daya tarik utama apartemen adalah lokasinya yang strategis dan dekat dengan pusat kota. Namun, perkembangan infrastruktur terkini, para konsumen mulai mempertimbangkan membeli rumah tapak yang jauh dari pusat kota. Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan transportasi umum telah mendorong pencari rumah mulai mempertimbangkan rumah tapak di pinggiran kota. "Ini telah menyebabkan penjual apartemen merumuskan kembali nilai jual dan daya tarik utama mereka. Oleh karena itu, dalam rangka untuk bersaing dengan rumah tapak di pinggiran kota, penyesuaian harga apartemen perlu dilakukan,” pungkas Marine Novita.



Sumber: BeritaSatu.com