BPS: Masuk Kategori Tinggi, IPM Indonesia Capai 71,92

BPS: Masuk Kategori Tinggi, IPM Indonesia Capai 71,92
Kepala Bapan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kiri) didampingi Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti menjelaskan perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi di Kantor Pusat BPS, di Jakarta, Senin (2/12/2019). Pada November 2019 terjafi inflasi sebesar 0,14% dengan Indeks Harga Komsumen (IHK) sebesar 138,60. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Herman / FMB Senin, 17 Februari 2020 | 15:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangunan manusia di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan, meskipun masih ada persoalan terkait disparitas yang masih tinggi di tingkat Kabupaten/Kota. Pada 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 71,92 atau masuk dalam kategori tinggi. Angka ini meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh 0,74 persen dibandingkan 2018 yang mencapai 71,39.

Status IPM ini menggambarkan level pencapaian pembangunan manusia dalam periode tertentu. Status IPM sangat tinggi apabila IPM ≥ 80, tinggi 70≤IPM<80, sedang 60≤IPM<70, dan rendah apabila IPM<60.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto memaparkan, peningkatan IPM ini terjadi karena adanya perbaikan di setiap komponen. Misalnya bayi yang lahir pada 2019 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,34 tahun, lebih lama 0,14 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya.

“Umur harapan hidup meningkat dari waktu ke waktu. Ini bisa kita konfirmasi karena banyak progres dari sisi dimensi kesehatan, misalnya persentase rumah tangga yang dapat mengakses air minum bersih meningkat, begitu juga dengan rumah tanga yang menggunakan air minum layak. Sebaliknya, rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas jamban mengalami penurunan, dan juga perkawinan dini semakin mengecil,” papar Suhariyanto, di gedung BPS, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Sementara itu, anak-anak yang pada 2019 berusia 7 tahun juga memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang Diploma I), lebih lama 0,04 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada 2018. Penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang kelas IX), lebih lama 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

Dijelaskan Suhariyanto, dimensi pengetahuan pada IPM dibentuk oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas. Kedua indikator ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 hingga 2019, Harapan Lama Sekolah di Indonesia telah meningkat sebesar 1,66 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah bertambah 0,88 tahun.

“Selama periode 2010 hingga 2019, Harapan Lama Sekolah secara rata-rata tumbuh sebesar 1,54 persen per tahun. Ini menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak penduduk yang bersekolah,” kata Suhariyanto.

Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di Indonesia tumbuh 1,2 persen per tahun selama periode 2010 hingga 2019. Pertumbuhan yang positif ini menurutnya juga menjadi modal penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.

Dimensi terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita (harga konstan 2012). Pada 2019, pengeluaran per kapita yang disesuaikan (PPP) masyarakat Indonesia mencapai Rp11,30 juta per tahun. Selama 2010–2019, pengeluaran per kapita masyarakat rata-rata meningkat sebesar 2,02 persen per tahun.

Jika melihat dari tingkat provinsi, pencapaian pembangunan manusia di 2019 cukup bervariasi. IPM pada level provinsi berkisar antara 60,84 (Papua) hingga 80,76 (DKI Jakarta). Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, Umur Harapan Hidup saat lahir berkisar antara 64,82 tahun (Sulawesi Barat) hingga 74,92 tahun (DI Yogyakarta).

Sementara itu, pada dimensi pengetahuan, Harapan Lama Sekolah berkisar antara 11,05 tahun (Papua) hingga 15,58 tahun (DI Yogyakarta), serta Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas berkisar antara 6,65 tahun (Papua) hingga 11,06 tahun (DKI Jakarta). Sedangkan untuk pengeluaran per kapita yang disesuaikan (PPP) di tingkat provinsi berkisar antara 7,3 juta rupiah per tahun (Papua) hingga 18,5 juta rupiah per tahun (DKI Jakarta).

Suhariyanto menambahkan, kemajuan pembangunan manusia pada tahun 2019 juga terlihat dari perubahan status pembangunan manusia di tingkat provinsi. Jumlah provinsi yang berstatus “sedang” berkurang dari 12 provinsi pada 2018 menjadi 11 provinsi pada 2019. Provinsi Sumatera Selatan yang berstatus “sedang” pada 2018 berubah status menjadi “tinggi” pada 2019.

Dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, terdapat 22 provinsi yang berstatus pembangunan manusia “tinggi”, yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung, Kep. Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Sejak tahun 2018, tidak ada provinsi yang berstatus pembangunan manusia “rendah” di Indonesia. Hal ini karena pada tahun 2018, status pembangunan manusia di Provinsi Papua telah berada pada level “sedang”.

Peningkatan IPM di tingkat nasional juga tercermin pada level provinsi. Selama periode 2018 hingga 2019, IPM di seluruh provinsi mengalami peningkatan. Pada periode ini, tercatat tiga provinsi dengan kemajuan pembangunan manusia paling cepat, yaitu Provinsi Papua Barat (1,51 persen), Provinsi Maluku Utara (1,39 persen), dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (1,30 persen).

“Persoalan yang dihadapi terkait status pembangunan manusia ini adalah terkait disparitas. Di level kabupaten/kota, disparitasnya cukup tinggi, terutama di wilayah Papua. Ini menjadi tantangan besar karena masalah geografis dan sebagainya. Misalnya di kota Yogyakarta IPM-nya 86,95, sementara di Kabupaten Nduga 30,75. Tetapi gap ini dari waktu ke waktu menunjukan perbaikan atau semakin menyempit,” kata Suhariyanto.



Sumber: BeritaSatu.com