Ekspansi Pasar Baru, Elnusa Alokasi Capex Rp 1,4 Triliun

Ekspansi Pasar Baru, Elnusa Alokasi Capex Rp 1,4 Triliun
Direktur Keuangan Elnusa Hery Setiawan (tengah) saat berbincang dengan media. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 18 Februari 2020 | 09:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan jasa penunjang migas yang merupakan anak usaha PT Pertamina, PT Elnusa Tbk (Elnusa) pada 2020 menganggarkan belaja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 1,4 triliun atau naik dua kali lipat dari 2019 sebesar Rp 700 miliar. Perseroan berharap dapat meraih pertumbuhan pendapatan usaha mencapai Rp 9,1 triliun.

"Capex untuk berbagai investasi yang mendukung pertumbuhan. Salah satunya fabrikasi hydraulic workover unit (HWU) untuk jasa kerja ulang sumur, dimana kami merupakan market leader jasa ini di Indonesia," jelas Direktur Keuangan Elnusa Hery Setiawan saat berbincang dengan media Senin (17/2/2020).

Hery Setiawan mengatakan, sekitar 69 persen capex untuk market baru, termasuk HWU. Perseroan tengah menjajaki dua proyek jasa penunjang migas sektor hulu di Timur Tengah. "Negaranya belum bisa kami info," kata Hery Setiawan.

Sementara di Vietnam kata dia, Elnusa akan menggarap proyek sesmik 3D dibanding pada tahun lalu yang hanya menggarap sesmik 2D. Untuk Algeria kata dia sedang dipertimbangkan apakah akan masuk pada proyek Engineering, Procurement & Construction (EPC) atau services dan drilling.

Selain itu, capex untuk pembangunan infrastruktur bisnis hilir Pertamina seperti pembangunan terminal BBM (TBBM), depo elpiji hingga Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di Labuan Bajo (NTT) dan Jambi. Sementara 12 persen capex untuk perawatan kapasitas dan 19 persen untuk lainnya. "Kita di Belitung dapat pengelolaan TBBM untuk menambah kapasitas karena di sana belum ada tangki avtur. Kita juga bangun TBBM Labuan Bajo seiring meningkatnya pariwisata. Di Indonesia timur Pertamima banyak menugaskan ke kami," kata Hery Setiawan.

Hery Setiawan mengungkapkan, sumber pendanaan capex dari kas internal dan eksternal. Sekitar Rp 700 miliar akan didapat dari instrumen pasar modal berupa obligasi melalui penawaran umum berkelanjutan (PUB). Sisanya dari kas internal. "Kami targetkan akhir kuartal dua 2019 sudah bisa merilis obligasi, untuk pendanaan lewat right issue belum," kata Hery Setiawan.

Hery Setiawan mengungkapkan, Elnusa pada 2020 menargetkan pendapatan usaha Rp 9,1 triliun, atau tumbuh di atas 8 persen dari 2019 sebesar Rp 8,4 triliun. Untuk laba bersih diharapkan mencapai di atas Rp 400 miliar atau naik dari 2019 sebesar Rp 356 miliar.

Sepanjang tahun 2019 Elnusa membukukan pendapatan usaha konsolidasi sebesar Rp 8,4 triliun, tumbuh 27 persen (year on year/yoy) dibandingkan 2018 sebesar Rp 6,6 triliun. Pendapatan dikontribusikan melalui segmen jasa distribusi & logistik energi sebesar 49 persen, jasa hulu migas 46 persen dan jasa penunjang 5 persen. Selain itu, jasa hulu migas juga mencatatkan pertumbuhan signiflkan sebesar 45 persen, dari sebelumnya Rp 2,6 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 3,8 triliun di tahun 2019.

Dari sisi laba bersih konsolidasi, Elnusa pada 2019 mencatatkan Rp 356 miliar, tumbuh 29 persen dibandingkan perolehan tahun 2018 sebesar Rp 276 miliar. Kontribusi laba bersih didominasi segmen jasa distribusi & logistik energi.

Hery Setiawan menjelaskan, kinclongnya kinerja 2019 Elnusa dipengaruhi turunnya harga minyak yang menyebabkan permintaan diskon besar harga jasa migas Elnusa. Sebaliknya peningkatan harga minyak tidak secara Iangsung meningkatkan harga jasa migas Elnusa, namun menggairahkan aktivitas eksplorasi migas. Sementara peralihan blok terminasi ke Pertamina dan gairah aktivitas eksplorasi migas memberikan peluang positif Elnusa.

Hery melanjutkan, rasio profitabilitas masih perlu beradaptasi terhadap berbagal faktor eksternal. Marjin laba kotor 2019 konsolidasi tercapai 10,3 persen, marjin laba bersih naik menjadi 4 persen 4,3 persen dari sebelumnya 4,2 persen (yoy).



Sumber: BeritaSatu.com