Imbas Korona, 50% Pameran di JIEXpo Ditunda

Imbas Korona, 50% Pameran di JIEXpo Ditunda
Deputi Chair & Official Venue, Ralph Scheunemann. (Foto: Beritasatu Photo / Herman)
Herman / WBP Rabu, 19 Februari 2020 | 19:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wabah virus korona di Tiongkok yang telah meluas ke berbagai negara di dunia mulai memengaruhi industri MICE (Meeting Incentive Convention and Exhibition) di Indonesia. Deputi Chair & Official Venue, Ralph Scheunemann mengungkapkan, hingga Mei 2020, pendundaan kegiatan pameran di JIExpo Kemayoran mencapai hampir 50 persen.

“Efek wabah virus korona ini sangat terasa bagi JIExpo, apalagi di tempat kita itu 85 persen merupakan pameran business-to-business (B2B). Sampai Mei 2020, kita sudah mengalami penundaan hingga 50 persen,” kata Ralph Scheunemann saat ditemui di konferensi pers penyelenggaraan ICCA Indonesia Forum 2020, di Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Untuk yang melakukan penundaan, lanjut Ralph, pihak JIExpo akan mencarikan hari pengganti pada semester kedua 2020. Namun lantaran di waktu tersebut juga sudah penuh dengan jadwal kegiatan seminar maupun pameran, Ralph mengatakan agenda yang ditunda tersebut tidak akan bisa semuanya mengisi slot kosong yang terisisa.

“Saat ini kami memang belum menghitung potensi kerugiannya karena masih mencari waktu pengganti di semester kedua. Tetapi memang tidak mungkin semuanya bisa mengisi slot yang kosong, sehingga kemungkinan besar sampai akhir tahun akan mengalami penurunan sampai 20 persen,” kata Ralph.

Selain penundaan, ada juga yang terpaksa membatalkan pameran di JIExpo yakni pameran INAPA 2020 yang seharusnya digelar pada Maret 2020. Pasalnya 80 persen peserta pameran tersebut berasal dari Tiongkok. “Untuk INAPA terpaksa ditunda karena tidak ada lagi tanggal kosong, atau ada slot tetapi luas areanya tidak cukup dan berdekatan dengan penyelenggaraan di tahun depan. Akhir diputuskan untuk ditunda dan akan digelar lagi tahun depan,” terang Ralph Scheunemann.

Tidak hanya di JIEXpo, Ralph mengatakan penundaan dan pembatalan seminar atau pameran ini juga terjadi di beberapa venue lainnya di Jakarta, Bali, dan Manado. Ralph berharap pemerintah Indonesia bisa turun tangan dalam menghadapi persoalan ini, misalkan dengan menggelar lebih banyak kegiatan di venue-venue yang ada di Jakarta, Bali, atau Manado.

“Kita harapkan pemerintah lebih mendukung lagi dengan mengadakan seminar-seminar yang sifatnya lokal untuk diadakan di venue-venue kita, apakah itu di JIExpo, JCC, atau venue lain di Bali dan Manado. Ini langkah konkrit yang saat ini bisa dilakukan,” kata Ralph Scheunemann.



Sumber: BeritaSatu.com