Tambah Armada, PSSI Alokasikan Belanja Modal US$ 30 Juta

Tambah Armada, PSSI Alokasikan Belanja Modal US$ 30 Juta
Kapal Daidan Mustikawati milik PT Pelita Samudera Shipping Tbk ( Foto: Istimewa / - )
Mashud Toarik / MT Kamis, 20 Februari 2020 | 07:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Emiten yang bergerak di bisnis jasa angkutan laut, PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 30 juta di tahun 2020. Dana ini akan digunakan untuk menambah kapasitas angkut Perseroan dengan membeli kapal tunda dan tongkang (TNB) serta perbaikan dan pemeliharaan kapal.

Sekretaris Perusahaan PT Pelita Samudera Shipping Tbk Imelda Agustina Kiagoes mengatakan, di tahun 2020 Perseroan berupaya menangkap peluang bisnis khususnya angkutan laut di sektor logistik termasuk non-batu bara.

Strategi diversifikasi angkutan serta penambahan kapasitas angkut yang dilakukan diyakininya akan membuat pendapatan Perseroan tahun ini meningkat pada kisaran 20% - 25% menjadi US$ 92 juta – US$ 95 juta.

“Seperti 2019, kontrak Sewa Berjangka sebagai salah satu kunci pertumbuhan Pendapatan, disamping pertumbuhan volume pengangkutan. Pencapaian volume 2019 sebesar 30,2 juta metrik ton dengan target pertumbuhan di 2020 sekitar 10% – 15% atau sekitar 32 – 34 juta metrik ton,” papar Imelda dikutip dari keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu malam (19/2/2020).

Terkait realisasi belanja modal di tahun 2019 lalu, PSSI melaporkan serapan sebesar 81% dari yang dialokasikan sebesar US$50 juta. Sebagian dana tadi telah digunakan untuk pembelian 4 unit Mother Vessel (MV), 1 unit kapal tunda dan 2 unit tongkang ukuran 330 feet (TNB) disamping biaya perbaikan dan pemeliharaan kapal.

“Pembelian 4 unit MV kelas Supramax dan Handysize menambah menjadi total 6 unit MV dan TNB menjadi total 39 set untuk mengejar peluang logistik pasar ekspor dan domestik,” urainya. Belanja ini membuat total aset PSSI mengalami kenaikan sekitar 28% dibandingkan dengan 2018.

Kinerja 2019

Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas batu bara di 2019, PSSI juga melaporkan pencapaian kinerja keuangan (tidak diaudit) dengan total pendapatan sebesar US$75,3 juta (hampir sekitar Rp1,1 triliun) per 31 Desember 2019, mengalami kenaikan sebesar 18% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$63,6 juta.

“Pertumbuhan dua digit ini didukung oleh kenaikan signifikan Pendapatan Sewa Berjangka Non-Audit sebesar 304% menjadi US$9,9 juta dari US$2,4 juta di 2018 dengan pertumbuhan terbesar dari segmen kapal Kargo Curah (MV),” ujarnya.

Sebagai catatan, 2 unit MV telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai US$39,4 juta. Ini merupakan salah satu pencapaian kontrak berjangka terbesar dalam 5 tahun terakhir untuk pengangkutan bijih nikel dan batu bara. Lalu 1 unit MV terakhir yang dibeli di penghujung 2019 juga telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai US$6 juta untuk pengangkutan produk besi dan batubara.

Disampaikan juga bahwa pasca divestasi 1 unit Floating Loading Facility (FLF) “Ratu Barito” di September 2018 telah menaikkan utilisasi FLF di 2019. “Penyewaan berjangka 1 unit FLF di 2019 juga salah satu kontribusi signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Perseroan," imbuh Imelda.

Dari sisi komposisi raihan kontrak baru serta perpanjangan kontrak jangka panjang yang berhasil dicapai untuk FLF dan TNB di tahun 2019, terdiri dari, kontrak jangka panjang untuk FLF mencapai 91% dan 9% spot basis dan segmen TNB mencapai 74% untuk kontrak jangka panjang dan 26% spot basis. Utilisasi kapal mencapai rata-rata 94% sampai akhir 2019.



Sumber: BeritaSatu.com